Oleh: Eko Kuntadhi*

Sebetulnya tanda-tanda Partai Demokrat berbeda jalan dengan koalisi Prabowo terlihat sejak awal. Bahkan ketika Capres dan Cawapres belum disepakati. SBY mulanya menjajaki komunikasi dengan Jokowi. Menjajakan AHY. Tapi rupanya gayung belum bersambut.

Salah satu ganjalannya adalah hubungan SBY dan Megawati yang belum klir. Tapi mungkin juga tawarannya terlalu tinggi. AHY yang masih bocah minta posisi Cawapres.

Lalu SBY banting setir. Mendekat ke Prabowo. Tawarannya masih sama. Menjajakan AHY. Prabowo pintar mengulur waktu. Sampai pada detik terakhir siapa Cawapres Prabowo belum diputuskan juga. Selain SBY, ada juga rombongan Ijtima dan PKS menekan dengan rekomendasinya. Meminta Salim Segaf sebagai Cawapres.

Koalisi Jokowi akhirnya memutuskan Ma'ruf Amin. Sementara di ujung, Prabowo menunjuk Sandiaga sebagai Cawapres. Orang-orang PD kecewa. Andi Arief bahkan mencuitkan keputusan soal Sandi itu disebabkan karena ada 'kardus' yang dibagikan kepada PKS dan PAN sebagai mahar. Andi menyebut angka Rp 500 miliar untuk masing-masing parpol. Ia bahkan menuding Prabowo sebagai Jenderal Kardus.

Setelah merasa diremehkan Prabowo, waktu itu Demokrat berharap masih mendapat tempat di koalisi Jokowi. Ada kabar ketika pendaftaran Capres dan Cawapres ada utusan PD yang siap dengan SK dukungan kepada Jokowi-Amin. Tapi pintu sudah terlanjur ditutup. Jokowi-Amin sudah mendaftarkan diri ke KPU. Mungkin saja hubungan pribadi SBY dan Megawati yang belum klir menjadi salah satu ganjalan.

Kita tunggu saja. Yang pasti sekarang Partai Demokrat sedang berhadapan keras dengan orang-orang BPN.

Sialnya UU mewajibkan setiap partai untuk mendukung Capres. Tidak bisa lagi ada parpol yang main di wilayah abu-abu. Kita tahu pada Pilpres 2014 lalu PD bersikap abstain. SBY ingin memainkan politik jalan tengah untuk menarik simpati. Nah, sekarang PD mau tidak mau harus mendukung Prabowo-Sandi. Dukungannya bisa jadi setengah hati.

Dengan kata lain posisi PD di koalisi Prabowo-Sandi semata untuk menunaikan kewajiban UU. Bukan dukungan yang serius.

Buktinya ketika SBY dan AHY melakukan tour keliling Jawa saat kampanye mereka hanya sibuk membawa misi partai saja. Tanpa menyebut-nyebut Prabowo sama sekali. SBY sendiri memilih menjaga jarak dengan Prabowo. Paling hanya AHY yang terlihat sesekali tampil. Cuma sebagai syarat.

Sepertinya SBY ingin tetap menjalankan politik jalan tengah dan memetik manfaat dari polarisasi politik. Jika massa di kedua spektrum politik --Prabowo dan Jokowi-- terus terpolarisasi, harapannya rakyat akan menoleh ke SBY dan PD.

Artinya pada satu titik SBY dan Demokrat berkepentingan dengan polarisasi Pilpres yang semakin tajam. Sebab kondisi itu akan mendorong kebutuhan publik pada pihak ketiga. Semacam gaya poros tengah dulu.

Makanya wajar jika ada orang PD yang diperankan untuk terus mempertajam polarisasi itu. Orang seperti Rocky Gerung, Ferdinand Hutahaean, Rachland Nashidik memainkan peran tersebut. Sedangkan SBY tetap menampilkan politik jalan tengah. Sementara AHY diperankan untuk bermain adem. Bagi PD, AHY adalah penganten.

Salah satu keuntungan politik dengan kelamin gak jelas itu, akan lebih mudah bagi PD untuk banting setir. Kita gak terlalu kaget ketika tren suara lebih mengunggulkan Jokowi-Amin, AHY langsung bertemu Jokowi. Mereka gak mau ketinggalan kereta.

Sebetulnya tanda-tanda kekalahan Prabowo sudah dibaca SBY sebelum pencoblosan dimulai. Ketika kampanye terakhir Prabosan di GBK, SBY melakukan kritik secara terbuka. Ia menuding kampanye tersebut eksklusif hanya menampilkan politik identitas saja. Iya sih, kampanye terakhir Prabosan lebih mirip pertemuan FPI ketimbang kampanye Pilpres nasional.

Terakhir SBY menginstruksikan kepada kadernya untuk menarik diri dari BPN Prabosan. Apalagi ketika Prabowo makin ngotot beranggapan menang Pilpres. Bahkan hendak menggelar aksi-aksi konstitusional.

Untuk memperkuat posisinya sekarang bahwa PD sudah lebih dekat ke Jokowi-Amin, Andi Arief melempar cuitan. Ia menuding Prabowo dibisiki setan gundul hingga percaya menang Pilpres 62 persen.

Kini perdebatan politik justru banyak diisi oleh wacana orang-orang PD berhadapan dengan BPN. Kivlan Zen bahkan berkomentar SBY kelaminnya gak jelas. Maksudnya gak konsisten mendukung Prabowo sampai titik malu penghabisan.

Pertanyaanya, apakah gaya politik galau dan abu-abu model SBY ini memberikan dampak positif bagi Partai Demokrat? Kalau dilihat dari jumlah suara yang diraih PD sih, lumayan. Meski turun, tapi gak parah banget.

Lantas jalan apa kira-kira yang akan dimainkan SBY pasca Pilpres ini? Tinggal dua kemungkinan. Mereka bergabung dengan koalisi Jokowi-Amin. Tentu dengan kompensasi kabinet untuk AHY. Atau mereka meneruskan politik abu-abunya. Gak oposisi tapi gak berada di koalisi pemerintah juga.

Kita tunggu saja. Yang pasti sekarang Partai Demokrat sedang berhadapan keras dengan orang-orang BPN.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Baca juga: