Jakarta, (Tagar, 22/11/2018) - Kemacetan jalan Tol Jakarta-Cikampek beberapa bulan terakhir semakin parah. Volume kendaraan yang umumnya diisi truk logistik, kontainer barang, bus dan mobil pribadi tersendat.

Dalam suatu waktu, sejumlah kendaraan bahkan ada yang seperti terparkir di jalan utama tol tersebut. Pengguna tol berbayar itu harus bersabar, kerena seluas mata memandang, di sekitar jalur itu sedang ada perubahan.

Pembangunan tol atas (elevated) Tol Jakarta-Cikampek menjadi pemicu kepadatan arus kendaraan. Terlebih saat angkutan logistik, bus dan kendaraan pribadi menelusuri tol itu saat jam pulang kantor.  

Tak hanya jalur tol atas (elevated) Tol Jakarta-Cikampek, proyek light rail transit (LRT) Jabodebek, dan kereta cepat Jakarta Bandung yang menumpuk pada titik KM 11 sampai KM 17 menjadi biang keladi kemacetan tersebut.

Belum lagi proyek yang berimbas pada kepadatan itu tol tersebut, seperti  kereta cepat Jakarta-Bandung (KCIC) dan pembangunan Jalan Tol JORR II Cibitung-Cilincing, dan Cibitung-Cimanggis.

Permasalahan ini ditanggapi serius oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Dalam keterangan persnya pada 20 November 2018, dia menyebutkan pihaknya menghentikan dua proyek pembangunan di ruas Tol Jakarta-Cikampek selama beberapa bulan ke depan.

Jalan Tol, CikampekPekerja mengoperasikan alat berat saat menyelesaikan pembangunan jalan tol layang Jakarta-Cikampek II Elevated di Karawang, Jawa Barat, Rabu (24/10/2018). (Foto: Antara/M Ibnu Chazar)

Proyek yang dihentikan sementara adalah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan LRT Jabodebek. Padahal LRT Jabodebek yang progresnya 70 sampai 80 persen itu ditargetkan selesai pada Maret 2019.

Menhub kemudian mengambil langkah kebijakan pengaturan waktu pekerjaan konstruksi di titik sekitar Cikunir.

Lia Apriyani, warga Kota Bekasi yang bekerja di Kawasan Industri MM2100, Cibitung, Kabupaten Bekasi, mengaku lega terhadap kebijakan yang dikeluarkan Menhub. Dia berharap semoga kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek bisa terurai. "Kadang capek juga macet-macetan terus. Semoga jadi lancar," kata Lia.

Kendati mengaku lega hadirnya kebijakan penghentian dua proyek, perempuan berusia 31 tahun itu tetap mendukung jika sejumlah pembangunan di ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek tetap dijalankan. Pasalnya, lanjut Lia, kegundahannya akan kemacetan saat ini akan terbayar ketika sejumlah proyek itu selesai.

"Tapi ya, kalau dikebut semuanya, suatu saat saya pergi ke mana gitu enggak macet. Lebih cepat. Ada (LRT Jabotabek, kereta cepat) ini, ada itu (tol) juga," katanya.

Seperti diketahui, pengerjaan jalur tol atas (elevated) Tol Jakarta-Cikampek merupakan bagian tol Trans Jawa. Jika tol Jakarta-Cikampek telah rampung, perjalanan logistik dan mobilitas orang mudik dari Jakarta ke Surabaya hanya berdurasi 10 jam.