Pengamat Pariwisata Komentari Heboh Harga 2 Indomie Rp 54 Ribu di Puncak

Pengamat pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi mengatakan, kasus indomie di puncak bukan prilaku seorang pelaku pariwisata.
Wisatawan yang membeli dua Indomie di daerah Puncak Bogor pada Selasa, 1 Juni 2021 dikenakan harga Rp54 ribu. (Foto:Tagar/Ist)

Jakarta - Getok harga pedagang makanan pinggir jalan, terjadi lagi. Kali ini wisatawan yang membeli dua Indomie di daerah Puncak Bogor pada Selasa, 1 Juni 2021 dikenakan harga Rp54 ribu.    

Pengamat pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi mengatakan, kejadian ini merupakan prilaku tidak terpuji yang ujungnya akan merugikan pedagang itu sendiri. Pasalnya di jaman digital seperti ini, informasi bisa menyebar dengan cepat melalui internet dan masyarakat kedepannya akan enggan membelanjakan uangnya di warung tersebut.

Taufan RahmadiPraktisi Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi. (Foto:Tagar/Ist)

"Saya melihat kasus indomie di puncak itu adalah masalah karakter, prilaku dari oknum pedagang yang tidak terpuji, aji mumpung, dan kebetulan berada di daerah wisata," tutur Taufan kepada Tagar, Kamis, 4 Juni 2021.

"Pelaku pariwisata yang mengerti akan pariwisata, pastinya tahu akan pentingnya untuk menjaga prilaku dan tidak bersikap aji mumpung kepada wisatawan , karena dia tahu , kalau sampai dia melakukan tindakan tidak terpuji seperti itu sama artinya dengan merusak periuk makanannya sendiri," sambung Penulis buku Protokol Destinasi ini.

Disinilah pentingnya ada perkumpulan, awig-awig, peraturan yang tegas, ada sanksi bagi yang melanggar ataupun ketahuan melakukan hal-hal aji mumpung atau tidak terpuji seperti itu.

Taufan menegaskan, bahwa menggetok harga bukan prilaku seorang pelaku pariwisata. Lalu menurutnya agar tidak terjadi kejadian seperti itu diperlukan perkumpulan awig-awig yang memiliki arti suatu ketentuan yang mengatur tata krama pergaulan hidup untuk mewujudkan tata kehidupan yang teratur di masyarakat. 

"Disinilah pentingnya ada perkumpulan, awig-awig, peraturan yang tegas, ada sanksi bagi yang melanggar ataupun ketahuan melakukan hal-hal aji mumpung atau tidak terpuji seperti itu," tegasnya.

Sementara Fadli Zon dalam postingan instagramnya membandingkan harga Indomie viral itu dengan harga kopi di Starbuck. Menurutnya, nitizen terlalu mempersoalkan harga 2 Indomie Rp54 ribu tetapi diam saja dengan harga secangkir kopi di Starbuck.

Fadli ZonCuitan Fadli Zon. (Foto:Tagar/Twitter Fadli Zon)

"Di Puncak ada pedagang patok 2 indomie Rp 54.000, heboh dan masuk berita. Tapi tak ada yang persoalkan harga secangkir kopi di gerai starbucks?,"  cuit Fadli melalui akun Twitternya Kamis, 3 Juni 2021. 

Kejadian itu, pertama kali diunggah oleh Arina dalam akun Twitter @ngegasteruss. Dia mengunggah foto nota pembayaran saat makan di salah satu warung di daerah Puncak. Dalam nota pembayaran, tertera beberapa menu yang telah dipesan oleh wanita tersebut. Antara lain Indomie telur, nasi putih, teh manis, jagung bakar, roti bakar, hingga telur setengah matang. []


Berita terkait
Pendapat Pengamat Pariwisata Soal Perluasan Program Work From Bali
Berikut komentar Pengamat Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi soal kemungkinan perluasan kebijakan program Work From Bali.
Pendapat Pengamat Pariwisata Soal Kebijakan Work From Bali
Menurut Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi, Work From Bali memberi dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.
Pengamat: Terorisme Ancaman Serius Sektor Pariwisata
Pengamat pariwisata, Taufan Rahmadi mengingatkan kembali pentingnya rasa aman menyiapkan recovery pariwisata nasional pasca pandemi covid-19.
0
Pengamat Pariwisata Komentari Heboh Harga 2 Indomie Rp 54 Ribu di Puncak
Pengamat pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi mengatakan, kasus indomie di puncak bukan prilaku seorang pelaku pariwisata.