UNTUK INDONESIA
Pelaku Usaha Dipaksa Pindah dari Pantai Glagah
Pelaku usaha di Pantai Glagah Kulonprogo dipaksa pindah dan mengosongkan lahan sebelum tanggal 30 Oktober 2019 oleh Pemkab di wilayah tersebut.
Pemasangan spanduk sosialisasi rencana pembangunan mitigasi bencana di Pantai Glagah(Foto: dok. Tagar)

Kulonprogo - Kabar buruk menghampiri para pelaku usaha di Pantai Glagah Kabupaten Kulonprogo. Mereka dipaksa pindah dan mengosongkan lahan sebelum tanggal 30 Oktober 2019 oleh Pemerintah Kabupaten di wilayah tersebut.

Pelaku usaha antara lain pemilik warung dan penginapan di Pantai Glagah berjumlah sekitar 275 orang, terdiri dari pelaku wisata Pondok Laguna sebanyak 150 orang, petambak udang berjumlah 100 orang, hingga pemilik penginapan dan usaha warung sebanyak 25 orang.

Itu juga blunder bagi Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.

Pelaku wisata Pondok Laguna, terdiri dari pedagang kuliner, pemilik taman bunga, tukang parkir serta pengelola perahu wisata.

Sementara untuk penginapan, terdiri dari 18 pemilik yang mengelola sekitar 200 kamar, serta ditambah tujuh pemilik warung. Adapun Petambak yang tergabung dalam Paguyuban Petambak Glagah, Palihan, Sindutan, Jangkaran (Gali Tanjang) dengan jumlah mencapai 100 orang dan mengelola 150 kolam.

Para pegiat ekonomi dltersebut, ingin tetap mencari nafkah di kawasan pantai glagah. Bahkan kegiatan sosialisasi rencana pembangunan mitigasi bencana dan penataan pantai yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kulonprogo di kawasan Pantai Glagah, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kamis 15 Agustus sempat diwarnai penolakan.

Seorang pelaku usaha bernama Subandi mengatakan, mereka merasa keberatan dengan cara sosialisasi, karena menggunakan pemasangan banner imbauan dan surat peringatan untuk segera mengosongkan lahan maksimal 30 Oktober 2019.

"Kami menolak karena sejumlah hal. Pemasangan banner imbauan di sejumlah titik di obyek wisata glagah, karena mencoreng citra pelaku usaha," kata Subandi kepada wartawan, Kamis sore, 15 Agustus 2019.

"Itu juga blunder bagi Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, yang bisa dianggap tak becus mengurus warganya. Harusnya ada pendekatan humanis," kata dia.

Subardi menjelaskan, alasan penolakan lain adalah belum jelasnya rencana penataan, utamanya lokasi bagi pelaku usaha. Para pelaku usaha khawatir jika dipindah ke tempat tidak strategis bisa mematikan usaha mereka.

"Sebenarnya ada rencana pemindahan ke lokasi sementara di pinggir sungai serang yang berdekatan dengan dermaga. Namun karena jauh dari pantai, kami khawatir bisa berdampak pada usaha," katanya.

Oleh karenanya, para pelaku usaha meminta adanya audiensi, dengan harapan ada kejelasan masa depan para pelaku usaha di kawasan glagah.

Adanya situasi yang sempat memanas saat pemasangan banner sosialisasi rencana pembangunan mitigasi bencana dan penataan pantai, diakui oleh Kepala Satpol PP Kulon Progo Sumiran.

Kendati begitu, dia mengatakan situasi tersebut berhasil diredam oleh aparat gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja Kulonprogo, kepolisian dan instansi terkait.

"Saya berharap warga disana mau ditertibkan, karena itu sudah menjadi keputusan Pemkab Kulonprogo, dimana wilayah selatan bandara Yogyakarta International Airport itu untuk mitigasi bencana," katanya.

Baca juga:

Berita terkait
Abrasi Merusak Pantai dan Pondok Pedagang di Singkil
Objek wisata Pantai Cemara Indah Gosong Telaga, Aceh Singkil, Aceh, mengalami abrasi yang dikhawatirkan semakin mengikis pantai.
Rian Hilang Terbawa Gelombang Pantai Gampong Aceh
Pemuda asal Palembang bernama Rian hilang terombang-ambing gelombang laut Pantai Gampong Alur Pinang, Aceh. Hingga saat ini Rian belum ditemukan.
Penyu Ditemukan Mati di Pantai Congot Kulon Progo
Dalam kurun waktu delapan hari, dua ekor penyu ditemukan mati di Kulonprogo, DIY. Pertama pada 4 Agustus dan kini pada Senin 12 Agustus 2019.
0
Waspada Calo CPNS di Jawa Barat
BKD Jawa Barat mengimbau kepada para calon pendaftar CPNS agar menghindari para calo yang menjanjikan lolos CPNS 2019.