Banyumas, (Tagar 9/4/2018) – Sekian lama kehilangan kontak, Parsin (33) menyatakan senang lantaran ibundanya yang menjadi tenaga kerja wanita (TKW), Parinah (50), dapat ditemukan.

Parsin saat ditemui di rumahnya, Desa Petarangan RT 01 RW 10, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengaku sejak kecil ditinggal pergi ibundanya yang menjadi TKW di Arab Saudi.

"Sejak tahun 1999 sampai 2005 enggak ada kabar. Pada tahun 2005 ada kabar (surat) yang isinya mengatakan kalau ingin pulang untuk bertemu keluarga, namun saat itu kami belum tahu bagaimana cara memulangkannya karena kami masih kecil-kecil," kata Parsin, putra kedua Parinah.

Selain itu, Parinah yang sejak 2001 ikut pindah majikannya majikannya dari Arab Saudi ke London, Inggris, tidak memberikan informasi kepada keluarga mengenai alamat yang dia tempati.

Menurut Parsin, ibundanya kembali berkirim surat pada Januari 2018 yang berisikan keinginannya untuk pulang ke Indonesia karena sakit. "Di dalam surat itu juga terdapat uang sebesar 20 poundsterling," ujarnya.

Terkait rencana kepulangan ibundanya, Parsin yang mengaku tidak memahami cara mengurus pemulangan TKW, segera datang ke Kantor Imigrasi Cilacap.

Hal itu ia lakukan karena berdasarkan pemahamannya, ibundanya sebelum pergi ke luar negeri lebih dahulu datang ke Kantor Imigrasi Cilacap.

Sesampainya di Kantor Imigrasi Cilacap, Parsin mendapat penjelasan terkait permasalahan TKW sehingga dia segera mendatangi Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Cilacap.

Akhirnya, Parsin bisa berkomunikasi dengan ibundanya yang saat sekarang telah berada di KBRI London setelah dikeluarkan dari rumah majikannya oleh Met Police UK dan Met Police Brighton.

"Saya dapat informasi jika ibu akan dipulangkan ke Indonesia pada hari Selasa (10/4)," kata Parsin.

Hilang 18 Tahun

Sebelumnya, KBRI London bekerjasama dengan Met Police UK dan Met Police Brighton, Sussex, berhasil menyelamatkan TKW asal Banyumas bernama Parinah yang hilang kontak dengan keluarga selama 18 tahun.
Pihak KBRI mulai bergerak setelah menerima berita resmi mengenai WNI bermasalah itu pada 1 Maret 2018. Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI London Minister Counsellor Gulfan Afero mengatakan, berbekal informasi dari pihak keluarga, KBRI London melakukan koordinasi intensif dengan Met Police (Modern Slavery Unit) yang kemudian menghubungkan dengan kepolisian setempat di Brighton, Sussex.

Pada 5 April 2018, atas permintaan KBRI London, kepolisian Brighton berhasil mengeluarkan Parinah dari rumah majikan.

Pada hari yang sama, pihak kepolisian juga menahan majikan dan keluarga berjumlah empat orang atas dugaan tindak "modern slavery" (perbudakan moderen).

Di Inggris, segala macam bentuk perbudakan moderen adalah kejahatan serius. Hal ini dikuatkan dengan Modern Slavery Act yang disahkan tahun 2015.

Pada 6 April, KBRI London menjemput Parinah untuk dibawa ke rumah tinggal KBRI London guna segera dipulangkan ke Indonesia.

Parinah berada di Inggris sejak 28 Mei 2001, setelah sebelumnya bekerja dengan majikan di Arab Saudi sejak tahun 1999.

Selama bekerja dengan majikan, Parinah tidak diperkenankan keluar rumah kecuali jika bersama seorang anggota keluarga, tidak diperkenankan menghubungi keluarga, dan tidak mendapatkan pembayaran gaji untuk dikirimkan ke keluarga seperti lazimnya.

Kepolisian Brighton menegaskan keseriusan penyelesaian kasus ini. Hak-hak Parinah yang belum terpenuhi setelah bekerja selama 18 tahun di Inggris akan dilimpahkan ke Pengadilan untuk memperoleh kompensasi.

Saat ini, Parinah berada dalam lindungan KBRI London untuk segera dipulangkan ke Indonesia. KBRI London akan terus berkoordinasi dengan kepolisian Brighton untuk menyelesaikan permasalahan Parinah hingga tuntas, termasuk memperoleh hak-haknya melalui peradilan setempat.

Pihak kepolisian membuat BAP kasus Parinah dan akan kembali mendatangkan Parinah untuk menjadi saksi di pengadilan atas biaya kepolisian setempat. (ant/yps)