UNTUK INDONESIA
Pandemi Covid-19 Penjualan Mainan Seks Laris Manis
Pandemi Covid-19 merontokkan perekonomian global membuat toko tutup, tapi sektor mainan seks justru sebaliknya karena penjualannya justru naik
Ilustrasi. (Foto: latimes.com/Kirsten Ulve/For The Times)

Pandemi virus corona baru (Covid-19) yang melanda dunia sejak awal Januari 2020 membuat banyak sektor tumbang. Toko banyak yang tutup. Bisnis penerbangan, hotel dan restoran terpuruk. Kalangan ahli mengatakan kondisi di masa pandemi terburuk sejak resesi ekonomi yang berdampak pada depresi global di tahun 1930-an yang menghantam dunia kaya dan miskin.

Tapi, ketika banyak sektor perekonomian tumbang dihajar pandemi Covid-19 ternyata ada satu sektor yang justru sebaliknya dengan penjualan yang meningkat yaitu sektor perdagangan alat seks atau mainan seks (sex toys).

Hal ini merupakan realitas sosial yang terbangun di social settings karena dengan kondisi terperangkap di dalam rumah atau di kamar-kamar apartemen seseorang membutuhkan penyaluran dorongan seksual atau hasrat seksual (sexual desire). Hasrat ini merupakan bagian dari kebutuhan biologis yang alamiah tanpa memandang ras dan usia.

1. Mencari Kepuasan Seksual di Masa Lockdown

Beberapa negara menerapkan lockdown atau penguncian yang ketat yang membatasi kegiatan di luar rumah sehingga menghambat kegiatan sosial yang terkait dengan seksualitas. Bercengkerama (bercakap-cakap dengan senang; bersenda gurau) tidak bisa lagi dilakukan sepulang kerja di mal, bar, coffee shop atau tempat-tempat nangkring. Padahal, dengan bercengkerama bisa terjalin kontak sosial dengan teman, pacar, dll.

Hasrat seksual sendiri sebagai bagian dari kebutuhan biologis tidak bisa di-lockdown karena hasrat seksual harus disalurkan sampai pada puncak yaitu ejakulasi (laki-laki) dan orgasme (perempuan). Untuk menemukan kenikmatan seksual setiap orang akan mencari cara yang tepat untuk dirinya di masa-masa lockdown dalam menggapai kesenangan secara seksual.

Seorang psikolog, Laurie Mintz, profesor di Universitas Florida, AS, yang juga penulis bukuBecoming Cliterate: Why Orgasm Equality Matters - And How To Get It”, kepada Los Angeles Times, 14 April 2020, mengatakan orgasme membantu untuk tidur dan mengurangi kecemasan. Memang, banyak orang yang sudah memakai mainan seks sejak lama, tapi, “Karantina di rumah benar-benar membuat mainan seks jadi umum,” ujar Mintz.

Kesenangan yang didapat dari kenikmatan seksual diyakini bisa mendorong kesehatan mental di saat lockdown dan ancaman serius penyebaran virus (Covid-19). Kondisi ini membuat kondisi mental siap menghadapi situasi yang terperangkap di rumah, di kamar-kamar kos atau di apartemen.

ilus2 opini 1 mei 20Ilustrasi. (Foto: metro.co.uk/Vibratissimo)

Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian lockdown yang diterapkan PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, membuat penjualan mainan dan alat bantu seks di negara itu naik tiga kali lipat dari hari-hari biasa sebelum lockdown, seperti dilansir theguardian.com, 4 April 2020.

2. Lockdown Pisahkan Pasangan yang Belum Tinggal Bersama

Kekhawatiran akan terjadi ledakan kelahiran bayi, tapi kalangan ahli menampik karena situasi lockdown tidak mendukung kehamilan yang banyak. Bayi-bayi yang lahir setelah pandemi corona (Covid-19) reda disebut sebagai Coronials, Quaranteens atau Baby Zoomers.

Tapi, kalangan ahli berpendapat masa subur tidak akan dimanfaatkan untuk kehamilan karena ketidakpastian dampak pandemi Covid-19. Itu artinya, seperti dikatakan oleh seorang profesor demografi di Universitas Massey, Selandia Baru, bagi yang akan memulai keluarga baru mungkin mereka akan menunda kehamilan.

Sedangkan bagi pasangan, seperti yang pacaran, yang belum tinggal bersama otomatis dipisahkan oleh lockdown sehingga hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan pun tidak terjadi. Setelah lockdown dibuka, menurut Spoonley, dampak dari pandemi juga merontokkan perekonomian sehingga keinginan untuk mempunyai anak pun bisa ditunda.

Bahkan catatan penjualan mainan seks di Selandia Baru menunjukkan meningkat tiga kali lipat hanya dalam dua hari sebelum lockdown, 25 Maret 2020. Hal yang sama terjadi di Australia. Toko-toko penjual mainan seks mengatakan penjualan mereka meningkat 25% sejak Negeri Kangguru itu menerapkan lockdown. Di Los Angeles, AS, juga dilaporkan terjadi peningkatan penjualan alat bantu seks.

Rachel Payne, seorang general manager toko mainan seks terbesar di Australia, Eros Association, yang beroperasi sejak tahun 1992, mengatakan kepada abc.net.au (28 April 2020) di masa sulit seperti lockdown dengan bayang-bayang ancaman virus corona mainan atau alat bantu seks masuk dalam kategori barang yang penting. Hal ini sangat beralasan karena alat bantu seks berdampak positif bagi kesehatan fisik dan mental bagi warga yang terperangkap lockdown yang tidak bisa menyalurkan dorongan hasrat seksualnya.

3. Kelangkaan Kondom Bisa Picu Penyebaran Penyakit Kelamin

Kekhawatiran baby booming sangat beralasan karena kelangkaan kondom sejak salah satu pabrik kondom terbesar di Malaysia, Karex, tutup karena lockdown yang diterapkan di negara itu sejak 18 Maret 2020. UNFPA (United Nations Population Fund/Dana Penduduk PBB) juga khawatir akan terjadi jutaan kehamilan yang tidak diinginkan karena keterbatasan distribusi alat kontrasepsi seperti kondom.

Baca juga: Wabah Covid-19 Picu Jutaan Kehamilan Tak Diinginkan

Bukan hanya KTD, kelangkaan kondom juga akan mendorong penyebaran ‘penyakit kelamin’ yaitu IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, virus kanker serviks, dan HIV/AIDS), melalui hubungan seksual penetrasi (seks oral, vaginal dan anal) di dalam dan di luar nikah.

Seorang juru bicara bisnis di Selandia Baru, Emily Writes, mengatakan pihaknya banyak menjual mainan seks pemula. Alat seks pemula, menurut Writes, sangat populer di tokonya. Writes melihat para pembeli itu mengatakan bahwa mereka punya waktu (karena lockdown-pen.) sehingga ingin mencoba sesuatu yang baru. Selain itu Writes juga melihat mereka yang membeli alat bantu seks berpikir bahwa mereka tidak bisa pergi ke bar, tidak bisa mengambil pasangan (untuk seks-pen.), dan karena lockdown tidak bisa keluar rumah atau apartemen untuk berkencan.

Sebuah jaringan toko mainan seks di Australia, Selandia Baru dan Inggris juga mengaku penjualan mereka meningkat dengan pesat sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020. Dorongan untuk menyalurkan hasrat seksual yang dihadang lockdown disubstitusi melalui mainan atau alat bantu seks (Bahan dari: theguardian.com, abc.net.au, latimes.com, dan sumber-sumber lain). []

Berita terkait
Selandia Baru dan Negara yang Longgarkan Lockdown
Pemerintah Selandia Baru mulai melonggarkan kebijakan lockdown akibat pandemi Covid-19, Selasa, 27 April 2020 setelah hampir lima minggu.
0
Pandemi Covid-19 Penjualan Mainan Seks Laris Manis
Pandemi Covid-19 merontokkan perekonomian global membuat toko tutup, tapi sektor mainan seks justru sebaliknya karena penjualannya justru naik