Jakarta, (Tagar 4/4/2018) - Pakar komunikasi politik Universitas Indonesia Effendi Gazali mengatakan di media sosial banyak ungkapan yang lebih kejam dibandingkan apa yang diutarakan Prabowo Subianto soal elite politik.

"Di media sosial, waduh, ungkapan lebih kejam dari itu kawan, kenapa diributkan," kata Effendi Gazali seusai menjadi pembicara dalam peluncuran buku berjudul 'Intelijen dan Pilkada: Pendekatan Strategis Menghadapi Dinamika Pemilu' karya Stepi Anriani, di Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Sebelumnya dalam suatu kesempatan, Prabowo Subianto mengatakan ketimpangan ekonomi yang terjadi sekarang ini diakibatkan oleh banyaknya elit yang bermental maling. Penyataan Prabowo menuai komentar dari sejumlah tokoh dan politisi.

Effendi menilai dari sisi psikologi komunikasi, seseorang yang sedang terdesak waktu, gundah dan kesal, wajar dan manusiawi jika sampai memilih kosakata yang dinilai berbeda.

Ia menyatakan mungkin saja Prabowo sedang gundah karena terdesak oleh mepetnya waktu pendaftaran Presiden Agustus 2018, sementara sistem pemilu yang ada mensyaratkan 'presidential threshold' 20 persen.

Mungkin juga, kata dia, Prabowo sangat marah dengan sistem pemilu yang melahirkan banyaknya elite koruptor. "Manusiawi. Masak Pak Prabowo tidak boleh marah," ujar Effendi.

Di sisi lain, kata dia, orang yang mempersoalkan penyataan Prabowo kemungkinan besar adalah orang yang merasa dirinya memang seperti apa yang diutarakan Prabowo.

"Orang yang mempersoalkan itu pasti lagi marah juga sama Pak Prabowo. Di media sosial ungkapannya lebih kejam. Hanya saja kalau Anda lagi kesal sama dia (Prabowo), ungkapan itu jadi aneh," ucap Effendi. (ant)