Oleh: Denny Siregar*

"Zaman Jokowi pahit."

Kata seseorang dalam statusnya. Dan ia mengeluhkan banyak hal mulai dari sulitnya lapangan kerja, BBM juga listrik mahal dan segala rupa yang bisa dia keluhkan. Saya senyum-senyum saja baca statusnya.

Zaman Jokowi pahit? Memang iya. Itu harus diakui bahwa pada masa inilah banyak orang yang menelan pil pahit. Tapi nanti dulu, orang yang mana dulu yang merasakan pil pahit Jokowi?

Selama 10 tahun ini, bangsa Indonesia dimanjakan oleh SBY dengan banyaknya subsidi. Seperti orangtua yang kaya raya, SBY terus menerus mengasupi "anak-anaknya" dengan semua fasilitas. Ia melanjutkan kebijakan Soeharto selama 32 tahun dengan membuat si "anak" kenyang tanpa banyak bekerja.

Yang terjadi si anak menjadi manja, pengeluh, mental lembek, malas dan bergantung pada orang tua. SBY tanpa sadar membuat "anak-anaknya" lumpuh dengan tangan selalu menadah ke atas. Bantuan Langsung Tunai digerojok dari segala arah supaya si anak tenang, diam karena perutnya kenyang.

Dari mana duitnya untuk semua itu? Ya, utang. Utang untuk bayar subsidi BBM, utang untuk bayar subsidi listrik sampai utang untuk BLT. Semakin lama beban utang kita semakin besar sedangkan kemampuan bayar mengecil.

Bayangkan hanya untuk subsidi BBM saja, selama 10 tahun SBY membakar uang 1.300 triliun rupiah. Dan itu dari utang.

Dahsyat memang.

Nah, kemanjaan inilah yang dicabut-cabuti oleh Jokowi. Daripada bakar-bakar duit, mendingan uangnya buat bangun infrastruktur. Tetap utang, tapi jelas buat membangun lapangan pekerjaan.

Jokowi memperlakukan bangsa Indonesia sama seperti anaknya sendiri. Anaknya dibentuk mandiri, pekerja dan punya kebanggaan diri. Ketika mereka sudah besar dan ingin berusaha, Jokowi memberikan mereka utang usaha, tapi harus bisa membayar kembali utangnya kelak.

Bagi anak-anak Jokowi, mereka tidak merasakan pil pahit karena sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Mereka tidak merasakan fasilitas meskipun bapaknya kaya dari usaha. Semakin diberi tantangan, mereka semakin gembira. Jokowi hanya memberikan mereka arah, mereka sudah jalan sendiri.

Tidak mudah memang mengubah apa yang sudah menjadi budaya selama ini. Bayangkan, Jokowi harus mengubah mental mereka yang terbiasa disuapi dan manja, untuk mulai mandiri dan bekerja. Terbiasa tidur di rumah dan makan enak, harus berdiri dan memulai dari awal. Akhirnya mengeluh dengan situasi yang tidak seenak sebelumnya.

Itulah kondisi yang sebenarnya terjadi. Yang bekerja semakin lama semakin sukses ke depan, yang terus mengeluh lama-lama jadi pecundang.

Jokowi paham, lebih baik memberi kopi pahit untuk menyadarkan. Karena selama ini kopi manis terus yang terhidang yang menumpuk gula dalam tubuh sehingga badan menjadi tambun dan malas jalan.

Seruput kopi pahitnya, kawan....

*Baca tulisan Denny Siregar lainnya di sini