Novel Bagian Sembilan : Kebas

Nina Yahya menutupi rambutnya yang dicat warna caramel dengan handuk. Ia duduk di depan cermin, mengoleskan pelembab - Novel Kebas bagian sembilan.
Ilustrasi Novel Kebas Bagian 9. (Foto: Tagar/Pexels/Pixabay)

Kebas

Ditulis oleh Siti Afifiyah*


"Kusimpan sendiri badai resahku dalam angin desahku." – Ahmad Mustofa Bisri


*Genre: crime, thriller, mystery


Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan | Sembilan


SEMBILAN

Nina Yahya menutupi rambutnya yang dicat warna caramel dengan handuk. Duduk di depan cermin, ia mengoleskan pelembab pada wajah. Jemarinya memijit lembut dengan gerakan memutar dari dahi, pipi, hidung, dagu, hingga leher. Sementara Candra Taher, suaminya, duduk di tepi ranjang, tersenyum memperhatikan istrinya itu.

Dada Candra Taher bergelora. Ia bangkit perlahan, berdiri di belakang Nina, mengecup lehernya, memperhatikan senyum menawan Nina di cermin. Nina melihat di cermin, suaminya yang ganteng dengan hidungnya yang mancung.

"Yang," kata Nina dengan suara manja.

"Ya, Sayang," Candra masih mengecupi leher istrinya.

Nina perlahan membalik badan, merangkul pinggang suaminya. "Kamu enggak keberatan kan kakakku menginap di sini?"

Candra mengernyit samar. "Enggaklah. Kenapa hal seperti itu kamu tanyakan? Keluargamu adalah keluargaku juga. Iya kan? Sama lah kalau mamaku menginap di sini, kamu enggak keberatan kan?"

Nina tersenyum lega, mengecup bibir suaminya. "Makasi, Sayang."

Nina adik Alya Yahya tinggal di rumah kontrakan, rumah kecil dengan dua kamar tidur, di Palmerah, Jakarta Barat. Menikah tujuh bulan lalu dengan Candra Taher, kakak kelasnya waktu kuliah. Mereka sama-sama kerja di bank.

Begitu mendengar bel pintu berdentang, Nina buru-buru memakai gaun putih longgar sepanjang betis. Ia yakin itu Alya kakaknya yang datang. Kakaknya yang gila kerja. Dari Bandung langsung liputan. Bukannya ke rumahnya dulu.

Berdiri di teras, sambil pundaknya direngkuh Candra, wajah Nina seperti melihat hantu ketika Alya mengenalkan Seno Aji Perkasa kepadanya.

"Kak Seno? Oh My God," Nina menjabat tangan Seno.

Nina sama terkejutnya dengan Alya. Tidak menyangka Seno masih hidup. Selama ini mereka berpikir Seno sudah mati. Bersama ratusan jasad yang tidak pernah ditemukan.

Candra mempersilakan Alya dan Seno masuk ke ruang tamu. Seno merasa sudah sangat dekat dengan keluarga ini. Merasa tak ada jarak. Merasa nyaman di sini. Bersama keluarga Alya.

Tapi lima menit kemudian Seno merasa harus pergi. Ia pamitan dan tak bisa dicegah lagi. Saat berdua saja dengan Alya dekat jip tua, Seno berbisik, "Besok pagi aku jemput ya?"

Alya tersenyum, "Oke."

Nina dari jauh memperhatikan mereka. Nina merasa senang sekaligus bisa merasakan dilema yang sedang dihadapi kakaknya. Situasi yang rumit. Pikirnya.

Setelah itu Nina tidak bertanya apa-apa yang menurutnya sensitif. Ia menunggu saja sampai Alya membuka diri padanya. 

Saat Nina membuat kopi di dapur, dengan pinggangnya dirangkul Candra, Nina dengan ekor matanya melirik Alya yang sedang duduk di meja makan. Alya dengan tersenyum menatap wajah Kayla dalam layar video call. Kayla anaknya yang besok usianya genap dua tahun. Kayla yang sedang duduk di baby walker. Kayla yang di sampingnya ada Rob Malik, suaminya dengan rahangnya yang kuat.

"Aku tahu ini situasi yang sangat berat buat kakakku," kata Nina pada Candra. 

Nina dan Candra sejak awal menjalin hubungan sudah sangat terbuka satu sama lain. Keterbukaan itu terbawa sampai mereka menikah. Terbuka dalam arti yang sebenar-benarnya.

Candra mengecup dahi Nina. "Kakakmu pasti bisa mengatasinya. Mereka sudah sama-sama dewasa."

Nina menarik napas pelan. Ia ragu dengan kayakinan Candra. Ia tahu sedalam apa cinta Alya kepada Seno. Ia tahu bagaimana Alya mencari Seno. Ia tahu Alya masih menyimpan foto Seno sampai sekarang. Ia tahu Alya tidak bahagia dengan pernikahannya. Lantas Nina ingat Rob. Ingat Kayla. Nina tak sanggup membayangkan keputusan apa yang akan diambil Alya.

Alya menempelkan dagu di permukaan meja, menyentuh pipi Kayla di layar video call. Ia menghindari tatapan mata Rob.

"Kamu kapan pulang?" kata Rob.

"Seminggu lagi. Semoga bisa lebih cepat," kata Alya.

Saat Nina meletakkan secangkir kopi di meja dekat Alya, Alya sudah selesai video call-an. Tangan kiri Alya memijit-mijit dahinya untuk mengurangi rasa nyut-nyutan di kepala. Sementara tangan kanannya mencari akun Instagram Cici Widjati. Ia harus gerak cepat mencari data sebanyak-banyaknya untuk membuat tulisan yang menarik atau akan kehilangan pekerjaan.

"Kak, aku mau tidur. Kalau perlu apa-apa, panggil aja," kata Nina.

Alya menoleh sekilas, "Gak apa-apa. Tidur aja." Alya melihat Nina dan Candra bergandengan tangan menuju kamar. Ia sangat bahagia melihat kebahagiaan adiknya. Kemesraan adiknya dan suaminya itu begitu natural. Tidak dibuat-buat. Di mana pun, di rumah, di tempat umum, mereka selalu mesra seperti itu. Mereka saling komunikatif. Terbuka dalam hal apa pun.

Andai aku bersama Seno, mungkin aku bisa seperti itu, kata batin Alya.

Alya kembali sepenuhnya pada laptop di hadapannya. Muncul tiga nama Cici Widjati di laman pencarian Instagram. Alya mengklik nama paling atas. Ia perhatikan sekilas foto-foto dalam akun itu. Ada yang foto sendiri dan foto bersama orang-orang. Ia tarik-tarik terus ke bawah.

Ia klik akun kedua dan ketiga dengan nama sama. Ketiganya sepertinya memang adalah akun Cici Widjati. Tapi ketiga akun itu mempunyai ciri yang agak berbeda. Masing-masing Cici Widjati dengan versinya. Versi penampilan beda-beda. 


***


Duduk di lantai dengan kedua kaki lurus ke depan, dengan pundak bersandar pada dinding, Seno Aji Perkasa melempar bola tenis ke tembok. Saat bola itu memantul ke arahnya, ia menangkapnya. Begitu terus-menerus. Berulang-ulang. Ia tak tahu gerakan sama itu sudah melewati hitungan seratus.

Kepalanya dipenuhi wajah Alya Yahya dan pertanyaan mengapa dan mengapa. Mengapa baru sekarang bertemu. Mengapa tidak sepuluh tahun yang lalu. Mengapa tidak dua belas tahun yang lalu. Mungkin benar kata Alya, ia tidak sungguh-sungguh mencarinya. Mungkin juga ia percaya Alya sudah mati diterjang tsunami. Walau sebagian dari dirinya percaya Alya masih hidup.

Pada masa awal sekolah di akademi kepolisian, ia dua kali ke Aceh. Mencari jejak Alya. Ia tidak menemukan jejak itu. Dan kini Seno merasa sangat bodoh. Mungkin benar ia tidak sungguh-sungguh mencari. Mungkin juga ia terlalu sibuk dengan hari-hari yang tak mudah. Hingga sesuatu yang paling penting dalam hidupnya terlupakan.

"Kamu istriku," gumam Seno.

Ia merasakan dadanya sesak. Matanya pedas. Seno tak pernah menangis. Dan kini ia menangis. Ia meraih ponsel di sampingnya. Ingin menelepon Alya. Tapi ponsel itu ia letakkan lagi. Ia kembali melempar dan menangkap bola tenis lagi.

Beberapa saat kemudian Seno bangkit. Berjalan ke arah kulkas. Mengambil beberapa kotak es batu. Meremukkannya dan meletakkannya dalam ember.

Ia bawa ember itu ke wastafel lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam pecahan es batu. Ia tahan beberapa menit posisi itu. Dingin menyergap pori-pori wajahnya. Ketenangan menjalari kulitnya.

Seno mengangkat wajah. Memperhatikan kesedihannya memantul di cermin. Tampak beberapa helai rambut di dekat telinganya sudah putih. Aku sudah tua, kata batinnya.

Ia celupkan lagi wajahnya ke dalam es. Lama. Sangat lama. Ia ingin mengosongkan pikiran dengan cara itu. Sampai kemudian ia mendengar dering ponsel. Ia mengangkat wajah, meraih handuk kecil berwarna putih, berjalan ke arah suara di ruang tamu.

Seno membuka ponsel. Tampak wajah Arka. Anak semata wayangnya yang berusia lima tahun. Seno baru ingat. Biasanya ia video call dengan anaknya menjelang waktu tidur.

Di belakang Arka ada Kartika, istrinya dengan rambut panjang tergerai dan lesung di pipi.

"Arka dari tadi nunggu video call papinya," kata Kartika.

Arka menguap dalam posisi rebahan. "Papi kemarin janji malam ini mau bacain dongeng tentang semut dan gajah."

Seno seketika merasa bersalah. Ia mengembangkan senyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putih.

Arka yang cemberut menjadi tersenyum, "Gak apa kalau Papi lupa. Aku tahu Papi sibuk menangkap penjahat. Tapi Papi tetap dihukum karena Papi lupa."

"Awww, dihukum?" mata Seno membelalak dan senyum lebar. Arka tertawa seperti kegelian.

"Iya dihukum."

"Hm baiklah. Apa hukumannya?"

"Ciuman tiga kali."

"Waw berat sekali hukumannya. Baiklah." Seno mendekatkan bibirnya ke ponsel, mengarah ke dahi, pipi kiri, dan pipi kanan Arka.

Beberapa saat setelah video call dengan keluarga selesai, Seno kembali tenggelam dalam kesedihan yang sangat dalam. Tapi berikutnya ketika ingat besok pagi harus menjemput Alya, ia tersenyum sendiri. Ia berjalan sambil bersiul-siul menuju kamar, meletakkan ponsel di meja dekat ranjang. 

Seno merebahkan badannya di kasur. Dan begitu saja bayangan indah seperti film berputar di kepalanya. Ketika ia membonceng Alya dengan Yamaha RX100. Alya dengan rambut panjangnya dikepang dua. Lalu ia dan Alya berjalan di pematang sawah. Seno sangat menyukai panorama sawah. Jakarta langka sawah, tapi Seno tahu spot-spot sawah di ibu kota. Ia mendatangi spot-spot itu saat pikirannya kalut.

Ketika Seno mulai terlelap, dering ponsel mengejutkannya. Seno dengan berat menyeret badannya, tangannya meraih ponsel. 

"Ada dua mayat mengapung di sungai," terdengar suara di ujung ponsel. [] 


(Bersambung)


*Pemimpin Redaksi Tagar.id


Novel Kebas selengkapnya klik DI SINI





Berita terkait
Novel Bagian Delapan : Kebas
Psikiater itu seorang perempuan berusia 60 tahun. Namanya Herawati. Bedaknya tebal. Alisnya seperti bulan sabit --- Novel Kebas bagian delapan.
Novel Bagian Tujuh : Kebas
Di ruang pemeriksaan lantai lima Polda Metro, Alya Yahya duduk di kursi dengan posisi agak condong ke depan --- Novel Kebas bagian tujuh.
Novel Bagian Enam : Kebas
Taman dan bangunan kedai dua lantai bergaya modern minimalis itu jauh dari kesan seram di markas polisi --- Novel Kebas bagian enam.
0
Elon Musk Tangguhkan Pembelian Twitter 44 Miliar Dolar AS
Saham perusahaan media sosial itu turun 20% dalam perdagangan prapasar. Twitter tidak segera menanggapi permintaan komentar.