UNTUK INDONESIA
Nabi Hud AS, Sebelum Angin Membinasakan Segala
Kenapa angin bertiup sehebat-hebatnya selama tujuh malam delapan hari membinasakan Ad, kaum bertubuh besar dan kuat pada zaman Nabi Hud AS.
Ilustrasi - Badai. (Foto: Pixabay/Comfreak)

Jakarta - Nabi Hud AS adalah keturunan Sam bin Nuh. Bisa dikatakan Nabi Hud merupakan cucu dari Nabi Nuh. Ia diutus Allah SWT untuk kaumnya bernama Ad, yaitu kaum yang bermukim di wilayah sebelah utara Hadramaut, Yaman.

Dalam dakwahnya, Nabi Hud menyerukan kaumnya untuk menyembah Allah dengan meninggalkan memuja berhala serta melarang untuk menganiaya sesama manusia. Kaum bangsa Ad terkenal dengan tubuhnya yang besar dan kuat-kuat.

Kekayaan dari hasil bertani di kebun yang terkenal luas-luas digunakan bangsa Ad untuk membangun rumah dan istana-istana yang megah sebagai tempat tinggalnya. Karena terlena dengan kehidupan yang berlimpah, mereka lupa akan asal-usulnya, mereka tidak tahu dari mana asal segala nikmat dan rahmat yang berlimpah-limpah itu. 

Hal itu membuat mereka kemudian menyembah bebatuan dan meminta kepada batu ketika dilanda kesusahan hidup. Dari kondisi tersebut, Nabi Hud AS menyeru kaumnya sebagaimana diterangkan dalam Alquran:

“Kami telah mengutus kepada kaum Ad, seorang saudaranya bernama Hud, seraya berkata: “Hai kaumku! Sembahlah Allah SWT, tiada Tuhan bagimu selain Dia. Tiadalah kamu melainkan orang yang selalu mengada-adakan saja.” (QS. Hud, ayat 50).

Dalam ayat lain, Nabi Hud menyatakan:

“Hai kaumku! Saya tidak meminta upah kepadamu, dan tiada yang memberi upah kepada saya, melainkan Allah yang menjadikan saya. Apakah kamu tidak berakal?” (QS. Hud, ayat 51).

“Hai kaumku! Minta ampunlah kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kamu kepada-Nya, niscaya Ia menurunkan hujan yang lebat dari langit, dan Ia menambah kekuatan bersama dengan kekuatanmu, sebab itu janganlah kamu berpaling, nanti kamu menjadi orang yang berdosa!” (QS. Hud ayat 52).

Akan tetapi ajakan Nabi Hud AS itu diingkari kaum Ad. Mereka justru membandingkan risalah yang dibawa Hud dengan kepercayaan yang selama ini telah dianutnya. Kaum Ad menjawabnya sebagai berikut:

“Mereka menjawab: “Wahai Hud! Tiada engkau mendatangkan kepada kami suatu keterangan, sebab itu kami tidak suka meninggalkan tuhan kami dengan semata-mata perkataan engkau itu saja, dan tiadalah kami percaya kepada engkau. Tiadalah kami mengatakan, melainkan di antara Tuhan kami telah menimbulkan kejahatan kepada engkau (yaitu penyakit gila).” Hud berkata: ”Sesungguhnya saya mempersaksikan hal ini kepada Allah dan jadi saksilah kamu, bahwa saya berlepas diri daripada yang kamu persekutukan”. (QS. Hud ayat 53-54).

***

Walaupun ditolak, Nabi Hud terus mengajak mereka. Namun jawaban yang sama disampaikan kaumnya yang tetap mendustai ajakan Nabi Hud. Demikian dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, beratus-ratus tahun pula konon lamanya. Hanya sedikit sekali yang menurut ajarannya itu.

Memang mereka benar-benar tidak mau beriman, mereka tidak mau berhenti berbuat durhaka dan jahat, mereka hanya berbuat apa yang mereka kehendaki belaka dengan tidak menghiraukan siapa saja. Sifat takabur mereka sudah demikian hebatnya, sehingga tidak dapat diubah oleh siapa pun juga.

Pengingkaran kaum Ad kepada Nabi Hud itu membuat Allah SWT murka dan memberikan laknat kepada mereka, dengan terbentangnya di langit awan yang hitam panjang. Melihat keadaan yang begitu ganjil, mereka semua keluar rumah untuk melihat awan itu. Akhirnya mereka berkata, “Itulah awan panjang, menandakan sebentar lagi hujan akan turun untuk menyiram tanah tanaman kita, memberi minum kepada ternak-ternak kita.”

Ad dibinasakan dengan angin yang sangat keras, dan amat dinginnya, ditimpakan kepada mereka tujuh malam delapan hari tak putus-putusnya.

Nabi Hud berkata kepada mereka: “Itu bukan awan rahmat, tetapi awan yang membawa angin samun yang akan menewaskan kamu sekalian, angin yang penuh azab siksa yang sepedih-pedihnya.”

Angin dahsyat pun berembusan dengan kekuatan luar biasa hebatnya. Binatang-binatang ternak mereka yang sedang berkeliaran di padang ternak mereka, kecil besar turut terbang berhamburan. Mulailah mereka takut dan lari masuk rumah mereka masing-masing.

Tujuh malam dan delapan hari lamanya, angin itu bertiup sehebat-hebatnya. Tidak hanya, manusia dan binatang-binatang yang musnah, bahkan batu-batu dan gunung-gunung pun hancur. Kejadian itu dikisahkan dalam Alquran:

“Ada pun Ad dibinasakan dengan angin yang sangat keras, dan amat dinginnya, ditimpakan kepada mereka tujuh malam delapan hari tak putus-putusnya. Maka kelihatan mereka bergelimpangan mati sebagai batang kurma yang telah roboh. Habis binasalah semuanya karena kedurhakaan mereka juga.” (QS. al-Haqqah, ayat 6-7).

Meski angin dahsyat menerjang, Nabi Hud AS beserta pengikutnya tetap saja di rumah, tanpa merasakan sedikit juga akan bahaya angin ribut. Setelah terjadi peristiwa itu Nabi Hud AS kemudian pindah karena negeri itu sudah rusak binasa. Nabi Hud pindah ke Hadramaut, di mana ia hidup sampai wafatnya di sana. []

Baca juga:

Berita terkait
Kenapa Nabi Selalu Laki-laki, Bukan Perempuan
Dalam Alquran hanya ada 25 nabi yang diceritakan untuk diimani umat Islam. Semua laki-laki. Tidak ada perempuan. Kenapa?
Ketika Aminah Mengandung Nabi Muhammad SAW
Kehidupan masa kecil Aminah hingga ia menikah kemudian mengandung Nabi Muhammad SAW sampai akhirnya meninggal.
Khadijah, Wanita Paling Dicintai Nabi Muhammad SAW
Kisah cinta Khadijah dan Nabi Muhammad SAW berawal dari mitra bisnis. Khadijah lebih tua dan tidak gengsi menyatakan cinta terlebih dulu.
0
Nabi Hud AS, Sebelum Angin Membinasakan Segala
Kenapa angin bertiup sehebat-hebatnya selama tujuh malam delapan hari membinasakan Ad, kaum bertubuh besar dan kuat pada zaman Nabi Hud AS.