story 4 · episode 2
Sosok dalam Rekaman
04 menit membaca

Pagi itu aku tidak langsung keluar dari tenda. Aku duduk bersila di atas matras, memeluk lutut, dan menunggu matahari benar-benar naik sampai cahayanya menembus kain tenda yang tipis. Baru setelah suara burung kembali terdengar — burung sungguhan, bukan suara apa pun yang menyerupainya — aku memberanikan diri membuka resleting dan menghirup udara hutan yang basah.
Semuanya tampak normal. Terlalu normal. Daun-daun masih mengkilap oleh embun, tanah di sekitar tenda rata seperti tidak pernah dipijak siapa pun, dan kopi yang kutinggalkan semalam di luar masih berdiri tegak di tempatnya, utuh, tidak tersentuh. Seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.
Hanya ada satu hal yang membuat tanganku gemetar: kamera.
Kamera itu kupasang di tripod kecil tepat di depan pintu tenda, menghadap ke arah jalan setapak. Baterainya kuharap masih cukup. Sepanjang malam ia merekam dalam mode night vision, dan lampu merah kecilnya berkedip pelan seperti detak jantung yang tenang. Aku mengambilnya, mengelap lensanya dengan lengan jaket, lalu duduk di atas batu dan menekan tombol putar.
Enam Jam yang Terlalu Tenang
Rekaman itu membosankan. Selama hampir enam jam, layar hanya menampilkan pemandangan hijau keabu-abuan: batang-batang pohon, semak, dan sudut tenda yang masuk ke bingkai. Sesekali ada gerakan kecil — daun jatuh, mungkin, atau sesuatu yang cepat berlari di antara akar. Aku mempercepat putarannya, dua kali, empat kali, delapan kali. Waktu di layar melompat: 22.40, 23.15, 00.02.
Lalu pukul 02.17.
Aku menekan jeda. Menekan putar lagi. Menekan jeda sekali lagi, karena aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Di sudut kanan bingkai, tepat di samping tendaku, ada seseorang. Ia berjongkok. Tubuhnya kurus sekali, terlalu kurus, seperti tubuh yang hanya dilapisi kulit dan tulang. Punggungnya melengkung, lututnya terangkat tinggi sampai hampir menyentuh dagu, dan kedua tangannya menjuntai ke tanah dengan jari-jari yang panjang, terlalu panjang, menyentuh rumput seperti akar yang baru tumbuh.
Ia tidak bergerak. Ia hanya berjongkok di sana, menghadap kamera.
Dan ia menatap.
Dua Puluh Menit
Aku memutar rekaman itu pelan-pelan, detik demi detik, dengan napas yang kutahan. Sosok itu sama sekali tidak berkedip. Tidak ada gerakan dada yang menandakan ia bernapas. Tidak ada getaran otot. Yang bergerak hanya satu hal: kepalanya, sedikit demi sedikit, mengikuti arah kamera setiap kali kamera itu bergeser karena angin menggoyang tripod.
Ia tahu kamera itu merekam. Ia tahu aku akan menontonnya.
Dua puluh menit. Selama hampir dua puluh menit penuh, sosok itu berjongkok di samping tendaku sementara aku tidur di dalamnya, tidak tahu apa-apa, dengan pintu tenda yang hanya ditutup kain tipis. Aku menutup mulutku dengan telapak tangan. Rasanya ada sesuatu yang dingin merayap naik dari punggungku sampai ke tengkuk.
Lalu, pada menit kedua puluh satu, ia mulai bergerak.
Bukan berdiri. Ia tidak pernah berdiri. Ia bergerak mundur, masih dalam posisi berjongkok, meluncur ke belakang seperti sesuatu yang ditarik oleh tali tak terlihat. Tubuhnya menembus semak, menembus batang pohon, menembus bayangan — tanpa suara, tanpa menggeser satu daun pun. Layar menelannya, dan selama beberapa detik bingkai itu kembali kosong.
Aku pikir rekaman sudah selesai. Aku hampir mematikannya.
Tiga Kata
Kemudian wajah itu muncul lagi.
Dari samping. Sangat dekat. Terlalu dekat sampai lensa kamera tidak bisa memfokus dengan benar, dan yang tampak hanya kulit pucat yang mengkilap oleh inframerah, serta dua lubang mata yang kosong tanpa cahaya. Wajah itu memenuhi seluruh layar, mendekat ke lensa seperti seseorang yang ingin berbisik langsung ke telinga penontonnya.
Dan bibirnya bergerak.
Aku memundurkan rekaman. Memutarnya lagi. Memperbesar gambar sampai piksel-pikselnya pecah menjadi kotak-kotak kasar. Aku menonton gerakan bibir itu berulang-ulang, dua puluh kali, tiga puluh kali, sampai aku hafal bentuknya.
Tiga kata.
"Kamu salah orang."
Aku menatap layar yang sudah membeku itu lama sekali. Matahari sudah tinggi, hutan sudah ramai oleh suara burung dan serangga, tapi aku merasa udara di sekitarku membeku. Karena kalimat itu tidak masuk akal. Aku tidak pernah menyebut nama siapa pun di hutan ini. Tidak ada satu pun orang yang tahu aku ada di sini. Tidak ada yang seharusnya datang mencariku.
Kalau begitu, siapa yang sebenarnya ia cari?
Aku menoleh ke arah tenda. Kainnya masih terpasang, masih basah oleh embun pagi. Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, aku menyadari sesuatu yang seharusnya kusadari sejak awal: ada dua pasang jejak kaki di tanah di depan pintu tendaku. Satu pasang milikku. Pasangan yang lain jauh lebih kecil, lebih panjang, dan berujung pada sesuatu yang tidak menyerupai kaki manusia sama sekali.
Jejak itu tidak menuju ke tenda. Jejak itu keluar dari tenda — dan berhenti tepat di tempat aku berdiri sekarang.