TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 1 · episode 2

Hutan yang Mendadak Diam

04 menit membaca

Hutan yang Mendadak Diam

Sesuatu terjadi pada hutan itu, dan aku tidak tahu kapan tepatnya ia dimulai.

Satu detik sebelumnya, Hutan Sirewang bernyanyi. Jangkrik menggosok sayapnya tanpa henti, katak-katak di tepi sungai kecil saling bersahutan, dan angin berdesir lembut menembus celah-celah dedaunan. Suara-suara itu sudah menjadi latar yang begitu akrab hingga aku nyaris tidak lagi menyadarinya — seperti napas sendiri, selalu ada, tidak pernah diperhatikan.

Lalu semuanya berhenti.

Bukan mereda. Bukan satu per satu. Berhenti. Jangkrik, katak, serangga malam, semuanya diam dalam waktu yang sama, seolah ada seseorang yang menekan tombol mati pada seluruh hutan. Angin pun lenyap. Daun-daun yang tadi bergoyang kini tergantung kaku di tangkainya, tak bergerak sedikit pun. Bahkan asap kecil dari lilin di dalam tendaku naik lurus, tegak, tanpa berani miring.

Aku menahan napas dan menajamkan pendengaran. Yang kudengar hanya jantungku sendiri, berdebar terlalu keras di dalam dada.

Kemudian — sebuah langkah.

Bukan dari depan tenda. Dari belakang. Satu langkah kaki menghantam tanah, pelan dan berat, seperti sesuatu yang tahu bahwa aku sedang mendengarkan. Lalu berhenti.

Aku masih duduk bersila di atas matras, kamera kecil di samping lutut, senter di tangan kanan. Lampu kepala yang tadi kupakai membaca buku kini kumatikan, karena entah kenapa aku merasa cahaya justru akan menarik perhatian apa pun yang ada di luar sana. Di dalam tenda hanya tersisa nyala lilin yang bergetar pelan, memantulkan bayangan tanganku ke dinding kain oranye.

Dua langkah. Berhenti lagi.

Suara itu bergerak. Tidak menjauh. Tidak mendekat. Ia berjalan mengelilingi tendaku, sangat lambat, dengan jeda yang teratur di antara setiap langkah. Seperti seseorang yang berjalan sambil menghitung. Menghitung langkah. Menghitung jarak. Atau menghitung sesuatu yang lain.

Berapa banyak orang yang ada di dalam tenda ini.

Pikiran itu muncul begitu saja di kepalaku, dan bulu tengkukku langsung berdiri. Aku menoleh ke arah pintu tenda, yang tertutup rapat dengan resleting. Dari celah kecil di bagian bawah, aku bisa melihat sepotong tanah gelap di luar — dan tidak ada apa-apa. Tidak ada kaki. Tidak ada bayangan.

Padahal suara langkahnya jelas sekali. Begitu jelas hingga aku bisa merasakan getarannya merambat lewat tanah dan menyentuh tubuhku.

Tiga langkah. Berhenti.

Aku menahan diri untuk tidak bersuara. Ingatan tentang pesan lelaki tua di warung kembali menghantui: jika ada yang memanggil dari luar tenda, jangan dijawab. Aku belum mendengar panggilan apa pun malam ini. Tapi suara langkah ini terasa lebih buruk dari panggilan mana pun. Karena panggilan butuh jawaban. Langkah tidak. Langkah hanya butuh kehadiran.

Empat langkah. Berhenti.

Ia kini berada di sisi kiri tendaku. Aku bisa mendengar napasnya. Pelan, panjang, dan… salah. Ada jeda yang terlalu lama di antara tarikan dan embusan, seolah makhluk itu tidak benar-benar butuh udara, hanya menirukan cara bernapas. Aku menggenggam senter sampai buku-buku jariku putih. Kamera di sampingku masih menyala, lampu merah kecilnya berkedip pelan, merekam. Setidaknya aku berharap ia merekam.

Lima langkah. Berhenti.

Lalu hening. Terlalu hening. Aku menunggu langkah keenam, tapi tidak ada. Aku menunggu, dan menunggu, sampai rasanya dadaku akan pecah. Di luar, hutan tetap membeku dalam keheningan yang tidak wajar.

Dan tepat ketika aku mulai berpikir bahwa ia sudah pergi —

tenda di depanku bergerak.

Bukan tersentuh angin. Kain oranye itu melengkung ke dalam, pelan, persis di depan wajahku, seperti ada sesuatu yang menekan permukaannya dari luar. Sebuah tonjolan berbentuk samar muncul di kain, di ketinggian sekitar kepalaku. Seperti wajah. Seperti seseorang yang menempelkan dahinya ke tenda, mencoba mengintip ke dalam.

Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bernapas.

Tonjolan itu bergeser, turun perlahan, mengikuti gerakan sesuatu yang sedang menelusuri tendaku. Lalu berhenti tepat di depan pintu. Di depan resleting. Aku bisa melihat kain itu bergetar halus, ditekan dari luar, dan mendengar bunyi gesekan yang sangat pelan — seperti kuku-kuku panjang yang menggores kain, satu per satu, mencari celah.

Lalu sebuah suara. Bukan panggilan. Bukan namaku. Hanya bisikan serak, sangat dekat, hampir tepat di telingaku meski aku tahu ia berada di luar:

“…dua.”

Satu kata. Lalu hening lagi.

Aku menoleh ke kamera. Lampu merahnya masih berkedip. Dan di layar kecil yang menyala redup, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku: kamera itu merekam tendaku dari dalam, dan di sudut gambar, di balik kain yang seharusnya kosong —

ada sebuah bayangan berdiri.

Di dalam tenda. Bersamaku.

Lalu lilin di depanku mati, dan kegelapan menelanku bulat-bulat. Di luar, suara langkah itu mulai lagi. Dari belakang. Satu langkah. Berhenti. Dua langkah. Berhenti.

Dan kali ini, aku mendengar langkah yang sama dari dalam.

kembali ke daftar story episode 2