story 3 · episode 3
Orang yang Selalu Mengikuti
06 menit membaca

Orang itu pertama kali muncul di halte depan kantor, sebulan yang lalu.
Aku sedang menunggu angkot pulang. Jam setengah enam, langit masih kelabu, dan hujan baru saja berhenti. Aku menoleh ke kiri — dan di ujung halte, berdiri seorang lelaki.
Kurus. Jaket kelabu. Tangan tergantung di sisi badan. Tidak memegang payung, tidak memegang tas. Hanya berdiri.
Menatapku.
Aku pura-pura tidak lihat. Angkot datang, aku naik, aku duduk di baris belakang. Aku menoleh lewat kaca belakang.
Dia masih di situ. Tidak bergerak. Tapi matanya mengikuti angkotku sampai tikungan.
* * *
Besoknya dia ada lagi.
Di halte yang sama. Posisi yang sama. Jarak yang sama — selalu sekitar lima meter dariku, tidak pernah lebih dekat, tidak pernah lebih jauh.
Aku mulai menghitung. Hari ketiga. Hari keempat. Hari kelima.
Setiap sore, pukul setengah enam, dia sudah berdiri di sana sebelum aku keluar dari gedung. Seperti tahu jam pulangku. Seperti tahu pintu mana yang aku lewati.
Hari ketujuh, aku memutuskan mengganti rute.
Aku keluar lewat pintu belakang. Aku naik ojek, bukan angkot. Aku minta driver memutar lewat jalan besar, jauh, memutar tiga kali.
Aku sampai rumah. Aku membuka pagar. Aku menoleh ke ujung gang — kebiasaan bodoh yang tidak bisa aku tahan.
Dia berdiri di bawah lampu jalan.
Jaket kelabu. Tangan tergantung. Lima meter.
Menatapku.
* * *
Aku ganti kendaraan. Aku beli sepeda. Aku pulang lewat jalur sepeda yang sempit, di belakang pasar, jalur yang bahkan tetangga tidak tahu.
Dia ada di ujung jalur itu.
Aku minta dijemput. Aku pulang naik mobil teman, kaca tertutup, AC menyala, pintu terkunci.
Di spion, di tikungan pertama, dia berdiri di pinggir jalan. Tidak berjalan. Tidak berlari. Hanya berdiri — dan sudah di sana.
Aku pindah rumah.
Aku pindah ke kontrakan kecil di ujung kota, di gang yang tidak ada namanya di peta digital. Aku tidak memberi tahu siapa pun kecuali ibuku. Aku bahkan tidak memasang alamat di kartu nama.
Malam pertama di rumah baru, aku duduk di lantai, punggung menempel dinding, dan menangis sampai subuh.
Pukul 03.17, aku mendengar sesuatu di depan pintu.
Tok. Tok. Tok.
Aku tidak membuka.
Pagi harinya, di depan pintu, ada jejak sepatu. Basah. Jelas. Lima meter dari ambang, berhenti, lalu kembali.
* * *
Aku berhenti tidur. Aku berhenti makan. Teman-temanku bilang aku kurus. Atasanku bilang aku sering melamun. Ibuku bilang, pulanglah, Nak, kamu kenapa.
Aku tidak bisa bilang apa-apa.
Karena siapa yang percaya?
Seorang perempuan, dua puluh tujuh tahun, dikejar seorang lelaki yang tidak pernah mendekat, tidak pernah bicara, tidak pernah menyentuh — hanya berdiri, lima meter, setiap hari, setiap tempat, setiap kali aku menoleh.
Bulan kedua, aku berhenti menoleh.
Itu lebih buruk.
Karena saat aku tidak menoleh, aku bisa merasakannya. Di belakangku. Di tengkukku. Di setiap bulu di lengan yang berdiri sendiri. Seperti berdiri di depan pintu yang terbuka, tahu ada seseorang di baliknya, tapi tidak boleh melihat.
* * *
Malam ini aku memutuskan berhenti lari.
Aku keluar dari kantor pukul setengah enam. Dia ada di halte, seperti biasa. Aku tidak naik angkot. Aku tidak memanggil ojek. Aku berjalan lurus ke arahnya.
Lima meter. Empat. Tiga.
Dia tidak mundur. Tidak bergerak. Hanya menatapku dengan mata yang lelah — mata orang yang sudah lama sekali menunggu.
Dua meter. Satu.
Aku berhenti tepat di depannya. Aku mengangkat tangan, menusuk dadanya dengan telunjuk.
"Kamu siapa?" Suaraku pecah. "Kenapa kamu ikutin aku? Mau apa?"
Dia menatap telunjukku di dadanya. Lama.
Lalu dia tersenyum. Tipis. Sedih.
"Aku tidak mengikutimu," katanya. Suaranya serak, seperti sudah lama tidak dipakai.
Aku menggigit bibirku.
"Bohong. Sebulan. Setiap hari. Setiap tempat."
Dia menggeleng. Perlahan. Dia memasukkan tangan ke saku jaket kelabunya, dan mengeluarkan sesuatu.
Sebuah foto. Kertasnya kuning, sudutnya terlipat, permukaannya penuh goresan halus seperti sudah dipegang puluhan tahun.
Dia menyerahkannya padaku.
"Lihat," katanya.
* * *
Aku mengambil foto itu dengan tangan gemetar.
Hitam putih. Sebuah terminal bus tua. Atap seng, lantai basah, papan jadwal yang sudah pudar. Di depan terminal, berdiri seorang lelaki muda. Kurus. Jaket kelabu. Tangan tergantung di sisi badan.
Dia. Muda. Mungkin dua puluh tahun.
Di belakangnya — di belakang punggungnya, di kejauhan, di antara kerumunan penumpang yang buram — ada seorang perempuan.
Berdiri. Menghadap ke arahnya. Lima meter.
Kaus lengan panjang. Rambut sebahu. Tas di bahu kiri. Sepatu kanvas putih yang bagian tumitnya sudah menguning.
Aku menoleh ke sepatuku. Kanvas putih. Tumit menguning.
Perempuan di foto itu — perempuan itu aku.
Wajahku. Pakaianku. Tas yang sedang kupakai malam ini.
Di foto yang kertasnya sudah kuning dan sudutnya terlipat.
Di bawah foto itu, ada tulisan tangan kecil, tinta biru yang hampir hilang.
Terminal lama Sumberejo, 1978.
Tanganku mulai dingin sampai ke siku. Lututku lemas. Aku menatap lelaki di depanku.
"Ini… ini nggak mungkin. Aku belum lahir tahun tujuh puluh delapan."
Dia menatapku lama. Lalu dia menunjuk foto itu dengan jari yang keriput.
"Kamu yang berdiri di belakangku," katanya pelan. "Setiap kali aku naik bus, kamu ada. Setiap kali aku turun, kamu ada. Setiap kali aku pulang ke Sumberejo, kamu ada. Lima meter. Selalu lima meter."
Aku menggeleng. Air mataku jatuh di foto itu, membasahi kertas yang sudah tua.
"Aku tidak pernah ke Sumberejo."
"Tidak pernah," katanya. "Karena kamu tidak pernah turun dari bus terakhir."
Darahku berhenti di leher.
Di belakangku, halte itu sunyi. Lampu jalannya berkedip sekali, lalu mati. Dan dari kejauhan, dari ujung jalan yang tidak pernah kulihat berujung, aku mendengar suara mesin bus tua mendekat.
Pelan. Teratur. Seperti sesuatu yang sudah lama menungguku pulang.
Lelaki itu menoleh ke arah suara itu. Lalu menoleh kembali padaku.
"Aku cuma mau bilang," katanya, dan suaranya hampir tidak terdengar, "sudah waktunya kamu berhenti mengikutiku."
Bus itu berhenti tepat di depanku. Pintunya terbuka dengan desis panjang.
Di dalamnya, di kursi kelima dekat jendela, ada seseorang duduk. Kaus oblong abu-abu. Rambut berantakan. Bekas luka kecil di alis kanan.
Dia menoleh ke arahku. Dan di spion bus itu, aku melihat sesuatu yang membuat napasku berhenti total.
Jam digital di panel depan bus menunjukkan satu angka.
03.17.
Padahal langit masih kelabu senja.
Di dalam bus, seseorang mulai berbicara. Bukan sopir. Bukan penumpang. Suara seorang perempuan, pelan, datar, seperti pembaca berita.
"…dan hingga kini, korban masih tercatat hilang. Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada yang kembali."
Lelaki berjaket kelabu itu melangkah mundur. Satu langkah. Dua.
"Aku sudah selesai mengikutimu," katanya. "Sekarang giliranmu."
Dan bus itu menunggu.