TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 1 · episode 3

Langkah di Belakang Tenda

05 menit membaca

Langkah di Belakang Tenda

Kami mendirikan tenda di tepi hutan pinus, dua kilometer dari batas desa yang tidak ada di peta. Ngadirejo, kata Bimo sambil menunjuk peta lipat yang sudah basah. Aku tidak peduli nama desanya. Aku peduli bahwa kami berempat sudah berjalan terlalu jauh dan langit sudah gelap.

Empat orang. Aku, Bimo, Sari, dan Yudha.

Tenda kami kecil, warna oranye pudar, cukup untuk empat kantong tidur yang saling bersentuhan. Kami makan mie instan, tertawa soal dosen, lalu tidur sebelum pukul sebelas.

Hutan itu sunyi. Terlalu sunyi.

Tidak ada jangkrik. Tidak ada burung malam. Tidak ada angin yang menggerakkan daun pinus. Hanya napas kami, dan bunyi tenda yang mengembang pelan.

* * *

Langkah pertama datang pukul dua lewat.

Kres. Kres. Kres.

Bunyi sepatu di atas jarum pinus kering. Pelan. Teratur. Mengelilingi tenda kami dari luar.

Aku membuka mata. Di sebelahku, Sari juga sudah bangun. Matanya membelalak di kegelapan, menatapku tanpa suara.

Langkah itu berputar. Satu putaran penuh. Lalu berhenti.

"Bimo," bisikku. "Ada orang di luar."

Bimo duduk. Yudha meraba lampu senter, menyalakannya, dan cahaya itu menembus dinding tenda seperti bilah tipis.

"Halo?" panggil Bimo. "Ada siapa di luar?"

Tidak ada jawaban.

Yudha membuka resleting. Dia keluar dengan senter menyala, memutar cahaya ke segala arah. Aku mendengar dia melangkah menjauh, mengitari tenda, menginjak ranting.

Lalu dia kembali.

"Kosong," katanya. "Mungkin babi hutan."

Kami berbaring lagi. Tidak ada yang tidur.

* * *

Pukul tiga lewat sedikit, langkah itu kembali.

Kres. Kres. Kres.

Kali ini lebih dekat. Lebih lambat. Seperti seseorang yang sengaja memperlambat kakinya supaya kami bisa menghitung setiap langkahnya.

Sari keluar. Dia kembali dua menit kemudian, wajahnya pucat.

"Tidak ada apa-apa," katanya. Tapi suaranya bergetar.

Lalu langkah itu lagi. Bimo keluar. Kosong.

Lalu lagi. Aku keluar. Kosong.

Lalu lagi. Yudha keluar. Kosong.

Empat kali kami keluar, empat kali tidak ada siapa-siapa. Tapi setiap kali kami masuk kembali dan menutup resleting, langkah itu mulai lagi. Mengelilingi tenda. Satu putaran. Dua putaran.

Seperti seseorang yang sedang menghitung kami.

Pukul 03.17, langkah itu berhenti.

Dan hutan itu jadi begitu sunyi sampai aku bisa mendengar darah mengalir di telingaku sendiri.

* * *

Pagi datang kelabu. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pinus, dan embun membuat semua yang kami sentuh terasa basah.

Aku keluar tenda pertama. Aku ingin melihat tanah.

Dan aku melihatnya.

Jejak kaki.

Jelas sekali di tanah yang lembek. Cetakan sepatu bot, sama seperti punya kami. Empat baris jejak, berjalan beriringan dari depan tenda, masuk ke dalam hutan. Lurus. Rapi. Seperti barisan yang sengaja dibentuk.

Aku mengikuti jejak itu dengan mata. Jejak itu masuk semakin dalam ke antara pohon-pohon, sampai akhirnya hilang di bawah kabut.

Empat jejak pergi.

Lalu aku menoleh ke arah sebaliknya.

Jejak yang kembali.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Aku menghitung ulang. Aku berjongkok, menempelkan tangan ke tanah, mengukur lebar cetakan dengan jari.

Lima.

Lima baris jejak kaki kembali ke tenda. Berjalan dari dalam hutan, menuju tempat kami tidur, dan berhenti tepat di depan resleting.

Kami berempat. Empat yang pergi. Lima yang pulang.

* * *

"Bimo."

Suaraku keluar seperti serak. Bimo keluar dari tenda, masih mengucek mata, lalu melihat ke tanah dan berhenti bergerak.

"Kamu yang bikin jejak tambahan?" tanyanya.

"Aku baru keluar."

Sari menyusul. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Yudha berdiri di belakang kami, tidak bicara, hanya menatap jejak kelima itu lama sekali.

Jejak kelima lebih kecil dari yang lain. Lebih rapat langkahnya. Seperti orang yang berjalan pelan, hati-hati, tidak ingin terdengar.

Dan cetakannya — cetakannya tidak memakai sepatu.

Telapak kaki. Jari-jari kaki. Kosong.

Jejak itu berhenti di depan tenda, di samping resleting, tepat di tempat aku tidur semalam.

Aku menoleh ke dalam tenda. Empat kantong tidur. Kusut. Basah oleh embun.

Lalu aku melihat sesuatu yang membuat lututku lemas.

Di dalam tenda, di lantai plastik yang kami gelar, ada jejak kaki basah. Telapak. Jari-jari. Menuju ke sudut belakang.

Dan di sudut itu, di atas kantong tidurku, ada cekungan.

Seperti seseorang yang duduk di situ.

Seperti seseorang yang duduk di situ sepanjang malam, menunggu kami keluar satu per satu.

* * *

Kami memutuskan turun. Sekarang. Tanpa sarapan. Tanpa melipat tenda.

Kami berjalan cepat menyusuri jalur yang tadi kami lalui kemarin, dan tidak ada satu pun dari kami yang menoleh ke belakang. Aku tidak tahu kenapa, tapi sejak keluar dari tenda, tengkukku terasa panas, seperti ada yang berdiri sangat dekat di belakangku.

Sari berjalan paling depan. Bimo di belakangnya. Aku ketiga. Yudha paling belakang.

Kami berjalan setengah jam tanpa bicara.

Lalu Sari berhenti.

"Bimo," katanya pelan. "Kamu dari tadi di belakangku, kan?"

"Iya."

"Terus yang di belakang kamu siapa?"

Kami semua menoleh.

Di belakang Bimo ada aku. Di belakangku ada Yudha. Empat orang. Lengkap.

Tapi Sari menatap kami dengan mata yang sudah tidak bisa menampung apa pun lagi.

"Kalau begitu," bisiknya, "kenapa dari tadi aku dengar lima langkah?"

Kami berdiri di situ, di tengah hutan pinus, dan untuk pertama kalinya sejak semalam, hutan itu tidak sunyi.

Kres.

Kres.

Kres.

Dari belakang kami.

Pelan. Teratur. Mengikuti.

kembali ke daftar story episode 3