TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 4 · episode 1

Ibu Memanggil dari Atas

03 menit membaca

Ibu Memanggil dari Atas

Rumah itu masih berbau ibuku.

Kapur barus di lemari, minyak kayu putih di meja nakas, dan sesuatu yang lebih tua dari keduanya — bau rumah yang lama tidak ditinggali tapi tidak pernah benar-benar kosong.

Aku pulang malam itu karena rumah sakit menelepon sore. Kata perawatnya, kondisi Ibu stabil. Kata mereka, tidak perlu buru-buru. Tapi tetap saja aku menyetir empat jam dari kota, membuka pagar berkarat, dan masuk ke rumah yang tujuh tahun terakhir hanya aku kunjungi saat Lebaran.

Ibu dirawat sejak lama. Terlalu lama. Kadang aku lupa sudah berapa tahun dia tidak membuka mata.

Aku mengunci pintu depan. Dua kali. Kebiasaan yang tidak pernah aku tinggalkan.

Lalu aku naik ke kamar lamaku di lantai bawah, karena kamar Ibu ada di atas, dan aku tidak sanggup tidur di sana.

* * *

Yang membangunkanku bukan alarm.

Yang membangunkanku adalah suara Ibu memanggil namaku.

"Raka."

Dari lantai atas.

Aku membuka mata. Gelap. Jam di ponselku menyala hijau di kegelapan: 03.17.

Suara itu turun lewat celah tangga kayu. Pelan. Sayang. Persis suara yang dulu memanggilku pulang saat Magrib, saat aku masih kecil dan enggan meninggalkan lapangan bola.

"Raka. Nak. Naik sebentar."

Aku duduk. Kakiku sudah menyentuh lantai sebelum otakku sempat berpikir.

Aku hampir menjawab.

Sudah kubuka mulut. Sudah kurasakan udara dingin masuk ke tenggorokan, siap membentuk kata iya, Bu.

Lalu ponselku berbunyi.

* * *

Layar itu menyala terang di kegelapan kamar. Nomor rumah sakit. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar.

"Raka?"

Suara itu serak. Lemah. Seperti keluar dari tenggorokan yang sudah lama tidak dipakai.

Suara Ibu.

Darahku berhenti di leher.

"Bu? Ibu sadar?"

"Dengar aku." Napasnya berat, tertahan. "Dengar baik-baik."

"Bu, Ibu di mana? Ibu bicara dari mana?"

"Raka." Suaranya naik sedikit, panik. "Di atas. Sekarang. Ada yang memanggil kamu, kan?"

Aku menoleh ke pintu kamarku. Di luar, di ujung tangga, sunyi.

"Iya," bisikku.

"Jangan dijawab."

Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.

"Apa pun yang memanggil kamu dari lantai atas," katanya, dan suaranya pecah di kata terakhir, "jangan pernah kamu jawab. Sekali saja kamu jawab, dia masuk."

"Bu, tapi—"

"Aku di sini. Di rumah sakit. Aku di sini, Raka."

Aku menoleh lagi ke pintu.

Kalau Ibu di rumah sakit —

lalu siapa yang memanggilku dari lantai atas?

* * *

Telepon itu mati. Aku menatap layar sampai gelap lagi.

Lalu suara itu kembali.

"Raka."

Lebih dekat.

Sudah bukan dari ujung tangga lagi. Sudah di anak tangga paling atas. Sudah di anak tangga kedua.

"Kenapa kamu tidak naik? Ibu kangen."

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan. Kuku-kukuku menusuk bibir.

"Raka."

Anak tangga ketiga.

Keempat.

Kayu itu berderit di setiap pijakan — bahkan pijakan yang tidak aku dengar. Berderit seperti rumah yang mengingat langkah seseorang yang sudah ribuan kali menuruni tangga ini.

"Nak."

Suaranya sudah di depan pintu kamarku.

Aku menutup mata. Aku menggigit telapak tanganku sampai terasa asin.

Jangan jawab. Jangan jawab. Jangan jawab.

Pintu kamarku tidak terkunci. Gagangnya berputar.

Pelan. Sekali. Dua kali.

Lalu berhenti.

* * *

Sunyi.

Aku membuka mata.

Pintu masih tertutup. Gagangnya diam.

Di luar, tidak ada langkah. Tidak ada napas. Tidak ada apa-apa.

Aku duduk bersandar di kepala tempat tidur, lutut ditarik ke dada, sampai keringat di punggungku mengering dan dingin.

Lalu ponselku berbunyi lagi.

Bukan rumah sakit.

Nomor rumah ini. Nomor telepon rumah tua yang kabelnya sudah lama putus sejak dua tahun lalu.

Aku menatapnya. Berdering. Berdering. Berdering.

Tanganku bergerak sendiri.

Aku mengangkatnya.

Dan dari gagang telepon itu, dari kabel yang seharusnya sudah mati, aku mendengar suara Ibu.

Tapi bukan dari rumah sakit.

Dari lantai atas.

"Raka," katanya, dan suaranya begitu dekat sampai terasa seperti napas di telingaku. "Kenapa kamu tidak menjawab Ibu?"

Aku menjatuhkan gagang telepon itu.

Dan di ujung tangga, di kegelapan yang tidak pernah aku lihat sepanjang hidupku di rumah ini, sesuatu mulai menuruni anak tangga.

Berderit.

Satu.

Dua.

Tiga.

kembali ke daftar story episode 1