TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 1

Warung Pukul Dua

04 menit membaca

Warung Pukul Dua

Jalan itu lurus, gelap, dan tidak ada satu pun lampu yang menyala. Aku sudah lewat jalur lama ke Sumberejo ini puluhan kali, tapi baru malam ini terasa sepanjang ini.

Jam di panel motorku menunjukkan 01.52. Aku mempercepat sedikit. Udara malam masuk lewat celah jaket, menusuk leher.

Kananku pepohonan. Kiriku sawah yang mengering. Di tengah semua itu, tiba-tiba — cahaya.

Sebuah lampu minyak menyala di bawah atap seng. Warung kecil, berdiri sendiri di tepi jalan, seperti sengaja menungguku.

Aku mengerem.

Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak lapar. Tapi kakiku sudah menurunkan standar motor sebelum otakku sempat memutuskan apa pun.

"Mas. Sini dulu."

Suara itu perempuan. Tua. Pelan, tapi jelas, seperti orang yang sudah memanggil namaku sejak lama.

* * *

Warungnya sempit. Dua bangku panjang, satu meja kayu, dan rak berisi bungkus kopi yang sudah menguning. Tidak ada listrik. Hanya lampu minyak di tengah meja, apinya kecil dan tidak bergoyang.

Padahal tidak ada angin. Tapi apinya tidak bergoyang.

Perempuan tua itu duduk di balik meja. Rambutnya putih seluruhnya, disanggul rapi. Matanya sipit, tapi tajam.

"Duduk, Mas Dimas."

Aku berhenti.

"Maaf, Mbok. Saya belum pernah ke sini."

"Belum," katanya. "Tapi saya sudah tahu kamu."

Dia menuang air dari teko ke gelas kaca. Tangannya tidak gemetar. Airnya mengepul, padahal teko itu, sejak kapan pun, tidak mungkin masih panas.

"Dimas Prasetyo," ucapnya. "Lahir tanggal dua belas. Anak tunggal. Ibu kamu namanya Sumiati."

Aku tidak bergerak.

"Mbok tahu dari mana?"

Dia tersenyum. Bibirnya tipis, giginya tinggal beberapa.

"Dari kamu, Mas. Kamu yang bawa semuanya ke sini."

* * *

Aku duduk. Bukan karena aku mau. Kakiku lemas sendiri.

Kopi di depanku hitam, pahit, dan tidak aku sentuh.

"Malam tahun baru, lima tahun lalu," kata Mbok. "Kamu antar temanmu pulang, kan?"

Darahku berhenti.

"Rendra," lanjutnya. "Kamu turunkan dia di tikungan dekat jembatan. Jam sebelas lewat. Kamu bilang dia yang minta turun."

Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.

"Kamu bilang kalian bertengkar," katanya lagi. "Tapi kalian tidak bertengkar, Mas. Kamu cuma takut kena marah ibumu karena pulang telat."

Tanganku di atas meja mulai dingin.

Kejadian itu tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun. Tidak kepada ibuku. Tidak kepada polisi. Tidak kepada pacarku. Tidak kepada siapa pun, bahkan saat mabuk.

"Rendra tidak pernah pulang," bisik Mbok. "Sampai sekarang."

Lampu minyak itu berkedip. Untuk pertama kalinya.

Aku ingin pulang.

* * *

Aku berdiri. Bangku itu berderit keras.

"Berapa, Mbok?"

"Tidak usah." Dia mengangkat tangan. "Kamu belum minum."

Aku melangkah mundur ke arah motor. Uang di kantongku tetap aku taruh di meja, di samping gelas yang masih mengepul.

"Mas."

Aku berhenti lagi. Aku benci bahwa aku selalu berhenti.

"Satu pesan saja," katanya. "Waktu kamu pergi nanti, jangan lihat spion."

"Kenapa?"

"Karena di belakangmu ada kursi kosong."

Aku menoleh. Di dalam warung itu, di sudut paling gelap, memang ada kursi kayu. Kosong.

"Itu kursi Rendra," katanya. "Dia duduk di situ tiap malam, nunggu kamu lewat."

Perutku mual.

"Kalau kamu lihat dia lewat spion," lanjut Mbok, suaranya turun sampai hampir tidak terdengar, "dia akan tahu kamu melihatnya. Dan dia akan ikut pulang."

Dia menatapku lama.

"Kamu tidak mau dia ikut pulang, kan, Mas? Rumahmu kecil."

* * *

Aku menyalakan motor. Tanganku gemetar sampai kunci susah masuk.

Jangan lihat spion. Jangan lihat spion. Jangan lihat spion.

Aku melaju pelan. Jalan tetap gelap. Sawah tetap kering. Tidak ada satu pun lampu di belakangku.

Lima menit. Sepuluh menit.

Aku mulai tenang. Mungkin Mbok itu cuma orang tua yang kesepian, yang suka menakut-nakuti orang lewat supaya ada yang mampir. Mungkin.

Lalu motorku melewati tikungan dekat jembatan.

Tikungan tempat aku menurunkan Rendra lima tahun lalu.

Dan di tikungan itu, di pinggir jalan, ada sesuatu yang berdiri. Tinggi. Diam. Menghadap ke arahku.

Aku tidak menoleh. Aku menatap lurus ke depan. Rahangku kaku.

Tapi tanganku — tanganku bergerak sendiri.

Mataku melirik ke spion.

Di spion, jalan di belakangku kosong. Gelap. Tidak ada apa-apa.

Aku menghela napas. Bodoh. Cuma sugesti.

Lalu, di spion itu, perlahan, muncul sebuah kursi kayu. Berdiri di tengah jalan. Kosong.

Dan di atas kursi itu, bayangan seseorang mulai duduk.

Aku memutar gas sekuat-kuatnya.

* * *

Sampai rumah, aku menguncinya dua kali. Tiga kali. Aku menyalakan semua lampu, bahkan lampu dapur yang biasanya mati.

Aku duduk di sofa, memeluk lutut, sampai keringat di punggungku mengering.

Pukul 03.17 aku terbangun. Entah kapan aku tertidur.

Aku berdiri. Berjalan ke dapur untuk minum.

Dan di ruang tamu, di bawah lampu yang menyala terang, ada kursi kayu.

Kursi yang tidak pernah ada di rumahku.

Kosong.

Belum.

kembali ke daftar story episode 1