Kupang, (Tagar 11/10/2018) - Hengky Funay (51), seorang Supervisor Teknik Jaringan Sub Rayon Naikliu di Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, tak mampu menahan air matanya yang seketika menetes saat ia menceritakan kembali kisah pahit yang menenimpanya.

Ayah tiga anak yang sudah mengabdikan hidupnya bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Nusa Tenggara Timur sejak tahun 1989 itu, sambil terbata-bata menuturkan peristiwa kecelakaan sepeda motor yang dialami pada 2017 lalu.

Pengalaman naas itu terjadi usai dirinya besama pihak vendor mematok area untuk pemasangan jaringan listrik baru di Kecamatan Amfoang Barat Laut, yang merupakan bagian dari kawasan perbatasan negara dengan Distrik Oecusse-Ambeno, negara tetangga Timor Leste.

"Saya pikir saya sudah mati waktu itu karena jatuh di jalanan berbatu dan tertindih sepeda motor. Kaki kiri saya patah," katanya sambil menunjuk kakinya dilansir Antara.

Hengky, begitu sapaan akrabnya, mengaku sangat beruntung masih diberikan kesempatan hidup dari Tuhan melalui bantuan warga Desa Soliwu, yang tak lama berselang saling berdatangan untuk menolongnya di lokasi kecelakaan.

Ia lalu dibawa ke rumah warga untuk mendapat perawatan sementara sebelum dilarikan ke Rumah Sakit Siloam Kota Kupang yang berjarak seratusan kilometer untuk mendapat pengobatan medis.

Lebih dari sebulan menjalani perawatan, Hengky kembali bekerja dengan kondisi kaki kirinya yang tak lagi normal akibat patah tulang yang disambung menggunakan besi berbentuk pen.

Saya selalu tidak bisa menahan air mata kalau cerita lagi kejadian itu, katanya dengan derai air mata di kedua pipinya.

Di balik kisahnya, Hengky mengakui bahwa bekerja menghadirkan terang bagi desa-desa di tepian Nusantara seperti wilayah Amfoang yang mencakup enam kecamatan bukanlah perkara mudah, terutama akses jalan yang sulit.

Setiap pelintas yang melewati jalur Oelamasi, ibu kota Kabupaten Kupang, menuju Naikliu yang berjarak lebih dari 150 kilometer, harus melewati sebagian besar jalan tanah yang sempit dan membentuk banyak kubangan.

Beberapa ruas jalan tampak sudah pernah diaspal namun lebih didominasi ruas-ruas yang rusak sehingga memunculkan kerikil dan batu tajam.

Tak hanya itu, perjalanan menuju Naikliu atau pun menembus hingga ke Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur yang berbatasan dengan Timor Leste di wilayah kantung (enclave) Naktuka, harus melintasi bukit dan lembah yang dipisahkan puluhan kali tanpa jembatan dengan batu-batu besar di dalamnya.

"Anda bisa alami sendiri seperti apa beratnya medan dalam perjalanan ke Ikliu, seperti itulah kondisi kami di sini," kata Hengky.

Aksenas Taku Nama, yang menjadi Penanggung Jawab Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Naikliu juga mengisahkan pengalaman medan berat yang dialami dalam bekerja menjaga pasokan listrik untuk desa-desa di perbatasan.

Ia mengungkapkan, bersama sejumlah petugas lapangan pernah melewati Hari Raya Natal di dalam Kali Oehani, sungai yang memisahkan Kelurahan Naikliu dan Desa Kolabe untuk meperbaiki tiang listrik yang tumbang akibat hantaman aliran air kali.

Waktu itu ada dua tiang terlepas dan hanyut sehingga perbaikan agak rumit karena kalinya cukup lebar, tapi mau tidak mau harus dibenahi karena desa sebelah padam sedangkan masyarakat mau merayakan Natal, katanya.

Ia mengatakan, kondisi Kali yang membentang lebar menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika tiba musim hujan karena membuat hampir semua desa di wilayah Amfoang terisolasi.

Baik orang dan kendaraan sama sekali tidak bisa menyeberang. Ada yang bahkan menunggu hingga satu sampai dua hari setelah air surut baru bisa melintas karena tidak ada jembatan, katanya.

16 Desa Dilistriki

Bagi Hengky Funay, kondisi medan yang berat bukan menjadi hambatan berarti melainkan tantangan untuk menghadirkan listrik untuk desa-desa di perbatasan dan mempertahankannya agar tetap menyala.

Dijelaskannya, selama tahun anggaran 2017-2018, pihaknya melistriki 16 desa di seluruh wilayah Amfoang, di antaranya Kecamatan Amfoang Utara, Kecamatan Amfoang Timur dan Kecamatan Amfoang Tengah, masing-masing sebanyak empat desa.

Selain itu, di Kecamatan Amfoang Barat Daya dua dari empat desa di antaranya sudah dilistriki, dan di Kecamatan Amfoang Barat Laut terdapat enam desa dengan empat desa di antaranya sudah berlistrik.

Saat ini, pihaknya sedang menambah jaringan ke arah barat sepanjang 62 kms (kilometer sirkuit) untuk menjangkau desa-desa yang belum berlistrik.

Memang untuk sementara karena keterbatasan yang ada maka listrik masih kami operasikan hanya 12 jam dari pukul enam pagi hingga pukul enam sore, katanya.

Pasokan listrik untuk seluruh wilayah Amfoang, lanjut Hengky, mengandalkan tiga pembangkit di antaranya PLTD Naikliu berkapasitas 165 kilowatt (kw) dengan beban puncak berkisar dari 92-94 kw.

Selain itu, PLTD Oepoli berkapasitas 370 kw dengan satu pembangkit yang dioperasikan saat ini sebesar 70 kw dengan beban puncak 64-66 kw serta PLTD Lelogama di Kecamatan Amfoang Tengah berkapasitas 165 kw dengan dengan beban puncak 117-118 kw.

Menurutnya, kondisi kapasitas sejumlah pembangkit itu dalam kedaaan kelebihan daya (surplus) sehingga siap dipasok untuk memenuhi permintaan masyarakat.

"Dengan kelebihan daya ini maka kapan pun masyarakat yang berada di jalur jaringan terpasang ingin menyambung listrik maka bisa segera kami kerjakan," katanya.

Apresiasi Warga

Secara terpisah, tokoh adat dan masyarakat di Oepoli, Tom Kameo, menyampaikan apresiasi kepada pihak PLN yang telah memberikan secercah harapan bagi warga di perbatasan untuk bisa menikmati listrik.

Baginya, kehadiran listrik di perbatasan telah membuat warga di beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu bisa merasakan kemerdekaan sebagai warga Negara Indonesia.

Kehadiran listrik PLN ini membuat kami bisa merasakan apa itu kemerdekaan setelah 73 tahun dirayakan bangsa ini, ujar Kameo.

Ia pun menaruh harapan besar terhadap PLN untuk menuntaskan pembangunan listrik agar menjangkau semua desa di wilayah perbatasan, sehingga tidak kalah dengan warga negara tetangga di Distrik Oecusse yang selama ini sudah terang-benderang.

Terus terang dulu memang kita kalah jauh dengan warga di Oecusse karena mereka terang-benderang sedangkan di sini gelap gulita, tapi sekarang kita sudah menang, katanya.

Ia optimsitis kehadiran listrik akan mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat yang saat ini mulai tampak menggeliat.

Sekarang kita lihat usaha kios-kios semakin berkembang dengan dilengkapi kulkas, warga bisa cas handphone, menonton Tv, dan sebagainya. Sudah berbeda dengan kondisi sebelumnya, katanya.

Kepala Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Utara, Wemfied Komeo mengemukakan kehadiran listrik di wilayah perbatasan semakin membuka keterisolasian wilayah yang dialami selama ini.

Ia mengakui, namun belum semua warga menikmati listrik karena kesulitan biaya untuk pemasangan meteran.

Memang warga juga mengeluh soal biaya pemasangan yang mahal, tapi bertahap dan lama-lama pasti pasang juga karena memang sangat butuh, katanya.

Wemfied juga berharap agar ke depan listrik bisa beroperasi lebih dari 12 jam terutama pada pagi hingga siang hari sesuai aktivitas pekerjaan warga.

Ia mencontohkan seperti usaha mebel warga, aktvitas belajar-mengajar di sekolah, maupun kegiatan di kantor desa yang membutuhkan daya listrik.

Tidak apa kalau memang belum bisa nyala 24 jam tapi paling tidak pagi sampai siang hari itu listrik menyala karena itu saat-saat aktivitas warga yang membutuhkan listik, katanya.

Ia menambahkan, masih banyak infrastruktur di wilayah perbatasan membutuhkan sentuhan pembangunan salah satunya akses jalan dan jembatan. 

Wemfied mengakui bahwa wajah wilayah di tepian Nusantara itu semakin cerah dengan hadirnya listrik dari PLN. []