Jakarta, (Tagar 19/7/2018) – Sejumlah nama tenar muncul untuk dipasangkan bersama Joko Widodo dalam pemilihan presiden (Pilpres) mendatang.

Meski pesta demokrasi itu baru akan berlangsung tahun depan, namun Jokowi yang sudah resmi diajukan PDIP untuk kembali menduduki kursi tertinggi di Indonesia itu harus mendaftarkan diri dengan nama cawapresnya pada awal Agustus 2018.

Dari 10 nama yang digadang-gadang berkompeten mendampingi Jokowi untuk memimpin Indonesia, akhirnya telah mengerucut menjadi tiga nama. Tiga nama ini merupakan nama yang sempat di-iya-kan Jokowi menjadi kandidat cawapresnya.

Adapun tiga nama cawapres Jokowi tersebut adalah Airlangga Hartarto, Mahfud MD serta Tuang Guru Bajang (TGB). Datang dari latar  belakang dan pengalaman yang berbeda, mari kita telisik seperti apa kekurangan dan kelebihan yang diberikan oleh mereka.

1.Jokowi – Airlangga Hartarto
Airlangga Hartarto adalah anggota DPR dari Fraksi Golkar. Pada akhir tahun2017, ia terpilih sebagi Ketua Umum Partai Golkar menggantikan Setya Novanto, usai Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka kasus pengadaan KTP Elektronik (E-KTP).  
Dengan pengalaman di dunia politik yang sudah ia geluti sejak 2005 silam, Airlangga dinilai sangat berkompeten untuk menduduki RI 2 mendamping Jokowi

Tidak hanya itu, kelihaiannya di dunia bisnis juga menjadi nilai tambahan untuk Airlangga. Yang teranyar ia pernah menjabat sebagai Komisaris PT Sorini Corporation Tbk Pandaan, Malang.

“Pak Airlangga itu ketua umum partai besar. Berpengalaman dalam dunia politik, usaha dan memiliki jaringan yang amat luas. Pengalaman di DPR membuat modal yang sangat cukup utuk mendampingi presiden Jokowi,” pungkas Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Dave Laksono saat dihubung Tagar, Rabu (18/7).

Dari track record yang telah ditorehkan Airlangga, Dave menyebut nama baik Airlangga sangat terpercaya hingga internasional. Jika Airlangga mendampingi Jokowi, menurut Dave, maka kepercayaan masyarakat global terhadap pemerintahan Indonesia pun bertambah.

“Nama baiknya sangat terpercaya di dunia international, itu akan menambah kepercayaan masyarakat global kepada pemerintahan Indonesia,” ucap Dave.

Disamping kelebihan itu, Airlangga dinilai juga memiliki kekurangan jika terpilih sebagai cawapres Jokowi. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Masduki Baidlowi, Airlangga dinilai rentan mendapat ancaman dari partai politik lain yang menjadi koalisi Partai Golkar.

“Kalau Airlangga jadi pasangan Jokowi akan diprotes oleh pimpinan-pimpinan partai lain, kan pimpinan koalisinya banyak. Kalau Airlangga yang dipasang tentu mereka protes,” ungkap Masduki kepada Tagar, Rabu (18/7).

Ancaman tersebut, menurut Masduki, akan terjadi pada tahun 2024 mendatang. Dimana saat itu Jokowi tidak akan bisa maju kembali sebagai presiden, maka Airlangga sebagai cawapres lah yang akan kembali maju sebagai capres.

“Nanti di tahun 2024, Jokowi sudah berakhir dan tidak bisa mencalonkan lagi, nah maka otomatis wapres itu yang ada peluang untuk jadi capres. Keinginan pimpinan partai jadi presiden lagi itu kuat, maka pimpinan partai koalisinya itu tidak setuju,” jelas Masduki.

2.Jokowi  – Mahfud MD

Pria bernama lengkap Mohammad Mahfud MD ini merupakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI ke-2. Mungkin bagi Mahfud, persoalan hukum adalah makanan sehari-harinya.

Bukan saja pernah menjabat sebagai Ketua MK, sejak mengenyam pendidikan pun ternyata ia mengambil bidang studi hukum untuk gelar doktor dan profesornya.  Ditambah lagi profesinya sebagai dosen ilmu hukum di salah satu kampus swasta di Yogyakarta.

“Pak Mahfud itu adalah seorang pakar hukum tata negara dan seorang pakar hukum itu integritasnya sangat terjaga, kemudian dia juga punya sifat tegas dan berani ya menjadi ciri dari pemimpin, yaitu tegas dan berani,” ucap Masduki.

Masduki menganggap penting jika seorang presiden didampingi oleh wakil presiden yang punya kepakaran di bidang hukum, lantaran kata dia, Indonesia saat ini jika dilihat dari sisi ekonomi masih belum berjalan dengan baik.

“Ekonomi itu akan jalan jika ada kepastian hukum. Jika belum ada kepastian hukum  bisa terjadi ketidakstabilan dan itu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, tetapi kalau ada kepastian hukum maka pertumbuhan ekonomi akan jalan. Karena itu sangat penting Jokowi jika didampini oleh seorang pakar hukum,” jelasnya.

Mahfud sendiri sejak kuliah hingga saat ini, aktif di berbagai bidang organisasi keislaman diantaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia, serta ketua Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

“Pak Mahfud kader NU secara kultural, ormas terbesar di Indonesia adalah NU, maka jika dijadikan wapres maka keduanya semakin kuat. Namun tidak hanya NU, Mahfud ini juga diterima oleh kalangan islam modernis. Jadi, sisi NU-nya kena, sisi non NU-nya juga kena,  sisi nasionalisnya juga kena,” paparnya.

Kemudian, lanjut Masduki, Mahfud merupakan orang yang dikader oleh Gus Dur sehingga Mahfud mampu menjadi penerus ide-ide Gusdur, misalnya membangung sistem demokrasi dilandasi oleh hubungan agama dan negara yang terjembatani dengan baik.

“Pak Mahfud adalah orang yang dikader oleh Gusdur yang sampai akhir hayatnya itu tidak pernah cacat. Ia boleh dikata adalah penerus dari ide-idenya Gusdur,” pungkasnya.

Disamping itu, menurut Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati, jika terpilih sebagai wakil presiden maka Mahfud juga memiliki kekurangan yakni tidak mampu merebut hati masyarakat Indonesia timur.

“Saya pikir kekurangan beliau untuk merebut Indonesia timur. Kita tahu bahwa Mahfud identik dengan  representasi muslim mayoritas, nah ini perlu sekiranya Mahfud untuk menampilkan diri sebagai figur inklusif,” jelas Wasisto kepada Tagar, Rabu (18/7).

3.Jokowi – TGB

Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode.

Sejak 2008, setidaknya ada 67 penghargaan yang ditorehkan pria berumur 46 tahun ini. Termasuk penghargaan sebagai kepala daerah yang memberikan peran besar dalam pembinaan Teknologi Tepat Guna (TTG). Serta anugerah Kihajar sebagai kepala daerah berprestasi di dalam memajukan pendidikan di daerahnya melalui peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Sama seperti Mahfud, TGB juga unggul di aspek keagamaan. Ia adalah kader Nahdlatul Wathon (NW). Hanya saja akar kekuatan NW hanya di Nusa Tenggara Barat saja.

“Kalau Pak TGB itu dimensinya tidak sebanyak Mahfud, kepakarannya tidak ada. Dia hanya tokoh agama saja, dia itu NW, NW itu akar kuatnya hanya di NTB, kalau diluar NTB nggak kuat,” tandas Masduki.

Kepada Tagar, Masduki turut menyebutkan kandidat cawapres lain untuk Jokowi  yang diunggulkan dari NU yakni Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PBNU dan ketua gabungan ormas-ormas Islam (LPOI) Kyai Said Aqil Siroj, dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy.

“Mereka juga dari NU yang sedang dipertimbangkan (jadi cawapres), dan ada di kantong Pak Jokowi, tapi Pak Jokowi pake baju apa dulu? Kalau baju model Bung Karno kan banyak kantongnya, di belakang dua, di depan dua di bajunya juga kantong lagi kan,” kata Masduki sambil terkekeh. (sas)