UNTUK INDONESIA
Menggali Potensi Bisnis Besar di Sektor Olahraga
Olahraga tidak sekedar pertandingan, tapi banyak potensi bisnis besar yang terkait langsung dengan olahraga mulai dari tiket sampai merchandise
Helmi Yahya, keynote speaker, di Webinar Series 4 Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) “Experience-Based Economy: Sport as Business and Entertainment” melalui Zoom Meeting, 25 Juli 2020 (Foto: jabarprov.go.id).

Kota Bandung - Bisnis di sektor olahraga tidak sebatas pertandingan. Ada banyak potensi bisnis yang bisa digali dari sektor ini. Mulai dari atlet, merchandise, hingga berbagai konten menarik. Hal itu dibahas dalam Webinar Series 4 Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) “Experience-Based Economy: Sport as Business and Entertainment” melalui Zoom Meeting, 25 Juli 2020.

Helmi Yahya yang menjadi keynote speaker di webinar itu mengatakan, ada tiga hal bagaimana olahraga bisa menjadi industri. Pertama, pertandingan harus sangat menarik. Kedua, untuk membuat pertandingan menarik dibutuhkan pemain hebat. Ketiga, para pemain dan petarung hebat harus diberikan gaji tinggi yang didapat dari revenue. Misalnya Michael Jordan yang menjadi ikon atlet basket kulit hitam di dunia. Setiap pertandingannya menghasilkan revenue besar dari tiket, sponsor, merchandise dan lain-lain.

“Produk nempel, iklan nempel. Seperti sekarang Korea Selatan menciptakan K-Pop dan Drakor serta para artis di dalamnya. Sehingga gadget, kosmetik, dan lainnya masuk ke sana,” kata Helmi.

Dalam dunia sepak bola, Indonesia bisa belajar dari Liga Inggris. Belasan tahun lalu, TV rate Liga Inggris di bawah Liga Italia. Namun kini, rating Liga Inggris sama dengan gabungan Liga Spanyol, Italia, Perancis, dan Champion.

1. Liga Inggris Ikuti Prime Time Asia

“Kenapa jadi mahal dan banyak ditonton? Pemain dan pelatih terbaik ada di sini, mampu bayar, karena penghasilannya tertinggi di dunia nomor 4,” ujar Helmi. Penghasilan terbesar mereka dari TV rate. Selama ini, penonton terbanyak televisi ada di Asia. Liga Inggris menyadari hal tersebut. Mereka kemudian menyiarkan pertandingan mengikuti primetime Asia, sehingga rate iklan mahal sekali.

“Penonton di China lebih banyak dibanding penonton Inggris keseluruhan. Sedangkan Liga Italia dan Spanyol ngotot mengikuti primetime negaranya. Jatuhnya di Asia tengah malam jadi sedikit yang menonton,” ucap Helmi.

VP of Partnership & Activation/Comercial Persib Bandung, Gabriella Witdarmono, mengatakan bahwa olahraga awalnya hanya menonjolkan adu otot. Tapi, sekarang atlet menjadi role model kegiatan sosial, fashion, hingga endorse.

Di luar negeri, pendapatan dari match day hanya 15 persen. Sisanya dari merchandise, partnership, player transfer, hingga digital. Hal itulah yang ingin dikejar Persib. Setidaknya ada tiga produk dalam sport management yang dibidik. Pertama good service. Misal bagaimana para atlet memberikan service kepada penggemarnya dengan foto bareng.

Kemudian social ideas dan psychic benefits. Mulai dari membentuk komunitas, membuat konten, hingga memostingnya. Ketiga hal tersebut dimanage dan dimarketingkan. “Kita harus berinovasi untuk memberikan konten yang sesuai dengan yang ingin dicapai. Membuat konten interaktif, sehingga penonton merasa lebih dekat dengan pemain,” kata Gabriella.

2. Empat Transformasi untuk Masa Depan Olahraga dan Hiburan

Sementara itu, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru, Akhmad Hadian, mengungkapkan hasil sebuah riset tentang potensi liga setiap tahun mencapai Rp 1,3 triliun. Dia memprediksi angkanya lebih dari itu. “Industri bola seperti gunung es, yang muncul masih sedikit. Seperti Persib, Persija, Arema, Persebaya. Mereka memiliki brand equity seperti digital media equity, sponspor equity, customer (fans) equity,” ujar Akhmad.

Menurut Akhmad, ada empat transformasi untuk masa depan olahraga dan hiburan. Seperti rethink fans experience, reshape business and rights model, streamline operational effience, provide predictive security and compliance. “Banyak penggemar sifatnya berbeda. Pahami apa yang mereka inginkan,” kata Akhmad.

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya SBM ITB, Reza Nasution, mengatakan bahwa olahraga membutuhkan aktivitas manajemen. Kalau tidak dikelola dengan baik, potensinya sulit diraih. Padahal ada banyak potensi dari olahraga seperti makanan, transportasi, hospitallity, dan lainnya.

Manajer Riset Kimia Farma Bandung, Rizal Ginanjar, memotret perilaku unik di dunia olahraga yang digemarinya. Yaitu mendadak atlet. Lihat saja, banyak warga yang serius mengikuti race.

Rizal melihat, ada sepuluh peluang bisnis di era sport enthusiasm, yaitu peralatan olahraga, outfit, sport event, community building, pharmaceutical and FNB, injury kit, sport science, coach and training planner, digitalisasi, sport influencer, dan promosi wisata (Pun/jabarprov.go.id). []

Berita terkait
Menpora Rancang Road Map Benahi Sepakbola Indonesia
Menpora Zainudin Amali mengaku Indonesia mencoba untuk mencontoh Vietnam yang berhasil memajukan sepakbola dalam kurun waktu 10 tahun.
Deretan Top Skor La Liga, Liga Inggris, dan Serie A
Berikut lima besar top skor atau pencetak gol terbanyak di La Liga Spanyol, Liga Premier Inggris, dan Serie A Italia.
Daftar Juara Liga Inggris, Pertama bagi Liverpool
Liverpool mengunci titel Liga Premier Inggris setelah Manchester City dikalahkan Chelsea 2-1. Ini gelar pertama Liverpool sejak liga berubah nama.
0
Menggali Potensi Bisnis Besar di Sektor Olahraga
Olahraga tidak sekedar pertandingan, tapi banyak potensi bisnis besar yang terkait langsung dengan olahraga mulai dari tiket sampai merchandise