Simalungun - Bertemu dengan orang yang sudah tiada melalui mimpi, membuat kita kembali mengingat kenangan yang pernah terjadi.

Seperti dialami Sarmila (43), warga Bandar Tinggi, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Dia kerap didatangi anak pertamanya, Irwansyah (21) di dalam mimpi. Irwansyah selalu memberikan semangat melalui alam mimpi.

Selasa, 18 Juni 2019 sekitar pukul 11.00 WIB. Saat ditemui di Monumen Kapal Arwah KM Sinar Bangun, Tigaras Kabupaten Simalungun, Sarmila bertutur.

Berita sebelumnya: Keluarga Korban Sinar Bangun Tagih Janji JR Saragih

"Mimpi kadang, 'o Mak, o Mak, aku pulang. Perasaan saya dia datang, o Mak, saya sudah enak di sini'," katanya, di sela-sela saat berziarah.

Irwansyah yang saat itu berangkat dengan menggunakan KM Sinar Bangun bersama empat temannya, kecelakaan di tengah Danau Toba. Saat menyeberang dari Simanindo, Kabupaten Samosir ke Tigaras, Kabupaten Simalungun, kapal yang mereka tumpangi karam.

Kepada Tagar, Sarmila bercerita dia sudah sering datang ke monumen KM Sinar Bangun. Setiap kali anaknya datang dalam mimpinya, dia selalu merasa rindu dan ingin berziarah ke Tigaras, ke monumen peringatan di mana nama putranya satu dari ratusan nama tertulis di sana.

"Setiap kali mimpi anakku, kami langsung ke mari naik kreta (sepeda motor). Mimpi anakku pulang ke rumah, kemaren aku langsung datang ke mari," katanya.

Meski harus melewati perjalanan selama tiga jam dari tempat tinggalnya, dia tetap harus datang. Tanpa memikirkan penat yang dirasakannya.

"Berangkat pukul 05.30 WIB. Siap salat langsung ke mari rental empat mobil," ucapnya, menyebut kali ini datang dengan rombongan keluarganya.

Dia bertutur, Irwansyah pernah berjanji setelah sukses akan membawa Sarmila ke tanah suci Mekkah. Nahas, pria yang baru setahun bekerja di Inalum itu pergi sebelum menepati janji kepada sang ibu. 

Berita sebelumnya: KM Sinar Bangun, Kapal Arwah di Tepian Danau Toba

"Janjinya dia mau bahagiakan saya dan mau membawa umroh ke Mekah. Kalau aku sukses, Ma. Kalau sudah kerja. Baru kerja setahun sudah kek gini," ucapnya mengingat janji sang anak.

Meskipun sudah ditinggal setahun, ternyata dia masih belum mengikhlaskan kepergian anak pertamanya itu. Semakin berjalan waktu semakin membuatnya selalu mengingat Irwansyah.

"Kalau ini mana bisa awak lupakan. Makin hari makin ingat. Bukan makin hari makin lupa. Belum ikhlas tapi kek manalah ini yang terjadi," terangnya.

Sarmila meminta pemerintah agar sering memantau perkembangan kapal di Danau Toba dan kapal diperbaiki jika rusak, supaya tidak terjadi lagi tragedi sama dengan warga lain.

Berbeda dengan Intin Santina Siahaan (43) warga Simpang Kodim, Kota Pematangsiantar. Bercerita, sebelum kejadian tenggelamnya kapal, suaminya Sahala Marbun sepertinya sudah memberikan pertanda buruk.

Sang suami tiba-tiba berpesan agar Santina merawat ke empat anak mereka. Sahala juga mengaku pernah hampir mengalami kecelakaan sebanyak dua kali.

Berita sebelumnya: Doa dan Tangis Peringati Tragedi KM Sinar Bangun

"Dibilang, anak-anak ini uruslah. Kek sudah tau dia mau meninggal. Dibilang dia sudah dua kali mau tabrakan saat berkendaraan, jadi terjadi kek ginilah sama dia," katanya.

Dia mengaku sudah ikhlas dengan apa yang terjadi. Karena menurutnya, melihat anak-anaknya sehat sudah lebih dari cukup.

"Gak tau lagi aku bilang apa. Gak terbilang lagi, pasrah ajalah. Yang penting anak-anakku sehat-sehat," ungkapnya singkat, seraya mengatakan tak sanggup lagi untuk berbicara.[]