UNTUK INDONESIA
Mengenang 69 Tahun Peristiwa "Yogya Kembali"
Pada 29 Juni 1949, Yogya Kembali, adalah kembali menjadi milik Indonesia. Bebas dari pendudukan Belanda di Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota RI.
Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi melakukan tabur bunga dalam rangka memperingati peristiwa Yogya Kembali di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. (ans)

Yogyakarta, (Tagar 30/6/2018) - Tepat 69 tahun yang lalu, 29 Juni 1949 menjadi salah satu momentum bersejarah bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa yang sering disebut "Yogya Kembali" ini menjadi tonggak sejarah sejak Proklamasi 1945.

Pada 29 Juni 1949, Yogya Kembali, adalah kembali menjadi milik Indonesia. Bebas dari pendudukan Belanda di Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota RI. Tentara Belanda pergi setelah mengalami kekalahan perang dan diplomasi.

Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengajak masyarakat untuk mengenang peristiwa "Proklasi Kedua" ini. 

"Tepat hari Jumat, 29 Juni 2018 sudah 69 Tahun peristiwa bersejarah “Yogya Kembali”. Ada baiknya kita mengenangnya," kata Sri Sultan HB X dalam acara Syawalan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY di Balaikota Yogyakarta, Jumat (29/6).

Sultan HB X menjelaskan, mengutip Prof. Djoko Suryo, peristiwa Yogya Kembali merupakan Proklamasi Kedua yang bermakna ganda. Sejak Proklamasi 1945, ada momentum Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta yang mengisyaratkan Republik Indonesia de facto masih eksis. Proklamasi Kedua menyatakan Republik Indonesia de jure tetap berdaulat.

"Peristiwa ini untuk menunjukkan kedaulatan RI secara de facto dan de jure. Lewat Proklamasi Kedua ini dirancang agar memperoleh pengakuan internasional," kata Sri Sultan HB X.

Raja Keraton Yogyakarta ini menjelaskan, ada pesan mendalam dan menjadi teladan dalam peristiwa Yogya Kembali ini. Betapa para pendahulu dan pendiri bangsa memiliki kelapangan dada dan kebesaran hati demi tegaknya republik ini.

Saat itu, Presiden Soekarno sedang ditahan di Bangka, Kepala PDRI berada pada Mr. Syafruddin Parawiranegara yang berpindah-pindah di daerah Sumatera Barat. "Proklamasi diucapkan oleh Sri Sultan HB IX di Yogyakarta. Itulah kelapangan dada yang luar biasa," ungkapnya.

Sultan HB X mengungkapkan, saat itu baru empat tahun Keraton Yogyakarta, sebagai negeri yang bersifat kerajaan, memilih bergabung dalam pangkuan NKRI. "Melalui Amanat 5 September 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan rakyat Yogyakarta bergabung dengan NKRI," ujarnya.

Menurut Sultan HB X, peristiwa Yogya Kembali hendaknya selalu dikenang agar tidak kehilangan sejarah. Dengan mengenang sejarah maka dapat menjadi pengikat dan pemersatu bangsa.

Kepala Seksi Personel Korem 072/Pamungkas Kolonel Inf Dwi Kari Subandi mengatakan, peristiwa Yogya Kembali merupakan wujud dari semangat nasionalisme, patriotisme dan kewarganegaraan yang luar biasa. 

"Peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, dengan semangat nasionalisme mempertahankan kemerdekaan NKRI,' jelasnya.

Menurut dia, nasionalisme merupakan kesediaan untuk berkorban demi tegaknya bangsa. Patriotisme merupakan semangat yang dengan rasa rela hati menyerahkan semua untuk mempertahankan kemerdekaan.

Dia menjelaskan, melalui peristiwa Yogya Kembali, semangat dan nilai keteladanan para pendahulu patut diwarisi dan diteladani. Sebagai generasi penerus, rakyat Indonesia tidak boleh lengah dan lupa terhadap makna hakiki itu.

Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi berharap peristiwa Yogya Kembali menjadi pembakar semangat generasi muda. Ruang dan waktu memang berbeda, tapi semangat patriotisme dan nasionalisme harus tetap ada dalam diri generasi muda.

"Saat ini yang kita panggul bukan senjata, tapi semangat. Ini yang harus dicermati generasi muda, perjuangan membesarkan bangsa ini harus dilakukan dengan semangat dan pemikiran," paparnya.

Menurut dia, peristiwa Yogya Kembali adalah fakta perjuangan akan membuahkan kemenangan jika dilakukan bersama-sama. "Semangat persatuan dan kesatuan semua lapisan masyarakat menjadi kunci sukses Yogya Kembali 29 Juni 1949. Ini wujud kekompakan tentara dan rakyat," jelasnya.

Peristiwa Yogya Kembali dikenang dan diabadikan dalam Musuem Monumen Yogya Kembali yang dibangun. Monumen yang dibangun di bilangan Ring Road Utara, Desa  Sari Harjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman ini berbentuk kerucut bertingkat tiga.

Di area kompleks Monumen, tepatnya di pintu masuk bertuliskan 422 nama pahlawan yang gugur dalam mempertahankan NKRI dari penjajahan Belanda. Dalam museum juga menggambarkan suasana perang kemerdekaan. Tandu dan dokar yang digunakan Panglima Besar Jenderal Soedirman juga tersimpan di monumen itu. (ans)

Berita terkait
0
Polisi Tangkap Tiga Pelaku Penyekapan di Makassar
Tiga pelaku penyekapan serta penganiayaan terhadap Muh Asri diamankan di salah satu rumah di Jalan Rappocini Raya, Kota Makassar.