Indonesia
Mengapa Kita Terus Makan Bahkan Ketika Sudah Kenyang?
Ini penjelasan ilmiah atas pertanyaan mengapa kita terus makan bahkan ketika sudah kenyang.
Ilustrasi. (Foto: Brandsynario)

Jakarta, (Tagar 23/9/2018) - Makan terus bahkan saat sudah kenyang pertanda otak kita berhenti bekerja dan telah dikuasai makanan. Mari kita hadapi itu. Kita semua memiliki saat-saat lemah dimana kita terus makan meski sudah kenyang.

Tetapi mengapa kita melakukan ini? Beberapa mungkin bertanya-tanya apakah itu ada hubungannya dengan rasa atau berada di lingkungan yang mendorong kesenangan? 

Dilansir Medical Daily sebuah penelitian baru pada tikus dari University of Michigan (UM) menunjukkan bahwa semuanya turun ke otak.

Makalah berjudul "Kekuatan yang tidak seimbang antara neuron peptidergik hipotalamus dalam kontrol pemberian makanan" diterbitkan dalam Risalah Akademi Sains Nasional pada 17 September.

Perilaku makan telah dikaitkan dengan dua kelompok sel yang dikenal sebagai neuron POMC dan neuron AgRP, yang digambarkan sebagai tetangga sebelah di otak. Jika Anda menganggapnya sebagai bagian dari mobil, POMC bertindak seperti rem, memberi tahu Anda bahwa rasa lapar Anda telah terpuaskan. Sementara AgRP bertindak seperti pedal gas, mendorong Anda untuk makan lebih banyak.

Para peneliti melakukan percobaan optogenetik pada tikus dengan merangsang neuron POMC, mengharapkan untuk melihat penurunan nafsu makan. "Sebaliknya, kami melihat efek yang sangat luar biasa," kata pemimpin peneliti Huda Akil, seorang profesor di Departemen Psikiatri UM. "Hewan-hewan itu makan seperti orang gila; selama setengah jam setelah stimulasi, mereka makan persediaan makanan sehari penuh."

Tampaknya rangsangan itu telah mengaktifkan kedua kelompok sel. Hal ini menyebabkan pelepasan simultan dari sinyal "tetap makan" dari sel AgRP dan sinyal "berhenti makan" dari sel POMC, sedikit seperti menggunakan rem dan menekan pedal gas pada saat yang bersamaan.

"Ketika keduanya dirangsang sekaligus, AgRP mencuri pertunjukan," Akil menyatakan, yang mungkin bisa menjadi penyebab kita makan berlebihan.

Ketika mereka mencoba sekali lagi hanya dengan merangsang sel POMC, ada penurunan yang signifikan dalam hal makan. Selanjutnya, pengadministrasian obat nalokson memblokir sistem opioid alami di otak, sehingga perilaku makan dihentikan.

"Ini menunjukkan bahwa sistem opioid endogen otak sendiri mungkin memainkan peran dalam keinginan untuk makan di luar apa yang dibutuhkan," tambah Akil.

Dia mencatat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk sepenuhnya memahami bagaimana pemicu perseptual, emosional dan sosial berdampak pada otak kita dan memainkan peran penting dalam makan berlebihan. Ini berpotensi dapat membantu para ilmuwan merancang intervensi untuk mengatasi obesitas, mungkin dengan mengaktifkan sel seperti yang terlihat pada temuan baru, atau dengan metode lain yang berkaitan dengan sistem saraf.

"Ada industri yang dibangun untuk menarik Anda makan, apakah Anda membutuhkannya atau tidak, melalui isyarat visual, pengemasan, bau, asosiasi emosional," Akil menjelaskan. "Orang-orang kelaparan hanya dengan melihat makanan itu, dan kita perlu mempelajari sinyal-sinyal saraf yang terlibat dalam mekanisme perhatian dan perseptional yang mendorong kita untuk makan." []

Berita terkait
0
Ustaz Abdul Somad, Jodoh dan Terpeleset di Media Sosial
Menarik untuk mengetahui kiprah UAS hingga populer dan video dakwahnya mendapat tempat di hati umat muslim. Wajahnya amat familiar di media sosial.