Tangerang, (Tagar 6/12/2018) - Kelompok Tani Tirta Perkasa, Desa Pegadegan Udik, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, mengeluhkan jauhnya agen pupuk dan tidak berfungsinya saluran air yang ada di wilayahnya selama ini. Mereka berharap ada solusi dari pihak terkait sehingga hasil panen petani dapat maksimal ke depannya.

Hal ini disampaikan Ketua Poktan Tirta Perkasa H Judin, saat berdialog langsung dengan Komite Penggerak Nawacita (KPN) salah satu organ relawan pendukung Jokowi, Rabu (5/12) yang tengah melakukan program bina lingkungan terhadap masyarakat.

“Saat ini yang kami butuhkan adalah ketersediaan pupuk dan saluran irigasi, apalagi saat ini untuk menarik air dari sungai Cimanceuri kami memakai diesel yang hampir menguras 1/9 penghasilan kami,” ungkap H Judin.

“Selain ketersedian air, kios pupuk pun juga jauh di wilayah kami,” sambung H Judin.

H Judin menambahkan, meskipun persawahan masyarakat berada persis berseberangan dengan sungai, namun mitra tani selama ini merupakan petani tadah hujan. Sehingga ketika musim kemarau tiba air sungai menjadi salah satu alternatif untuk mengairi persawahan mereka.

Untuk menaikkan air sungai ini mereka pun memompanya dan menyalurkan ke saluran irigasi yang telah ada, namun ada sejumlah titik yang tidak berfungsi maka proses penyaluran air menjadi terhambat sehingga membuat area persawahan mengalami kekurangan air. Padahal, lanjutnya, dengan anggota Poktan yang berjumlah 90 orang ini, luas tanah persawahan yang ada cukup luas yakni sekitar 80 hektar.

Ia pun menyampaikan rata-rata mata pencaharian warganya bertani sehingga segala kebutuhan hidup termasuk biaya pendidikan bergantung pada pertanian. Menurutnya, bila penghasilan pertanian terganggu akibat rusaknya irigasi tersebut, tentu berpengaruh pada perekonomian.

Hal senada juga disampaikan Ketua Kelompok Tani Mitra Cai, Ahmad Ghozali, yang mengatakan dengan luas lahan anggotanya yang berkisar 35 hektar, fungsi saluran irigasi sangatlah dibutuhkan bagi masyarakat. Menurutnya untuk tetap mendapatkan air, selama ini petani berinisiatif membuat saluran dengan sistem manual yakni menarik air dari sungai Cimanceuri dengan pompa berbahan bakar diesel dan menyalurkan ke saluran irigasi yang telah ada.

Ahmad Ghozali mengatakan pihaknya tidak ingin kondisi itu malah memunculkan masalah baru yang berimbas pada hal-hal lain seperti terganggunya perekonomian masyarakat. “Ratusan petani butuh perbaikan drainase secepatnya. Bila gagal panen, tentu mata pencaharian masyarakat terganggu,” katanya.

Menanggapi keluhan petani tersebut, Viktor S Sirait dari Komite Penggerak Nawacita (KPN) mengatakan apa yang disampaikan para petani menjadi masukan berarti bagi pihaknya dalam mencari solusi agar ketahanan pangan nasional dapat terjaga dengan baik. Ia berharap tidak berfungsinya saluran irigasi tersier warga akan segera diperbaiki secepat mungkin.

“Kita akan mencoba perbaiki saluran irigasi tersier dan mencoba membuat bendung karet untuk menaikin air. Jadi para petani nantinya terbantu bebannya dengan tidak ada lagi biaya solar yang dikeluarkan selama ini,” ungkap Viktor.

“Kalau buat bendung karet tersebut, maka bisa mengairi sejumlah desa yang ada di Kecamatan Kronjo dan Kecamatan Kemiri,” tambahnya. 

Viktor S SiratViktor S Sirait. (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Menurutnya, peran serta KPN selama ini selaras dengan pembangunan infrastruktur pertanian yang menjadi perhatian pemerintah Jokowi. “Karena ini akan meningkatkan daya saing petani dalam hal produksi pangan, di samping itu juga komitmen keberpihakan Jokowi terhadap petani yang selama ini terabaikan dari kebijakan kebijakan strategis pemerintah,” jelasnya.

Pengurus KPN lainnya Juanito Djamal juga mengungkapkan Pemerintahan Jokowi punya komitmen yang kuat dalam pemerataan ekonomi yang diwujudkan melalui pembangunan ekonomi yang berkeadilan. Pemerintahan Jokowi, ungkapnya, melakukan pembangunan infrastruktur dari kota sampai ke pinggiran, termasuk di dalamnya infrastruktur pertanian seperti waduk, irigasi dan lain-lain.

“Untuk itu, KPN mencoba menerjemahkan gagasan Presiden melalui program membangun dari pinggiran, karena yang paling timpang itu di pinggiran, misalnya membangun jembatan desa dan dalam konteks ini irigasi yang langsung menyentuh sawah, atau irigasi tersier,” papar Juanito.

“Kami berencana membangun saluran air dari sungai langsung ke sawah. Ukurannya memang kecil namun sangat menyentuh petani. Langsung terasa perbedaannya di sawah-sawah di beberapa daerah. Jadi Presiden Joko Widodo tidak hanya melakukan pembangunan namun juga menginspirasi pihak-pihak lain seperti kami untuk membangun sampai ke pinggiran, sampai ke rakyat Indonesia secara langsung,” ujar Juanito.

Juanito mengaku prihatin terhadap keringnya persawahan masyarakat. Sementara berjarak tak sampai 20 meter ada sungai yang debit airnya lebih dari cukup. Menurutnya kalau pembangunan Bendung Karet nanti jadi terlaksana, maka akan mengairi 8 desa dengan luas 700 hektar.

Untuk membangun Bendung Karet, pihak KPN berencana melakukan studi kelayakan terlebih dahulu sebagai salah satu alternatif. Selain itu KPN juga akan berupaya menghimpun mitra yang mungkin bisa membantu, termasuk dari pemerintahan daerah atau BUMN terkait.

Peran serta BUMN sendiri dirasa sangatlah penting sebagai bentuk komitmen untuk menyejahterakan rakyat. Selain bertugas mencari keuntungan BUMN juga harus ambil bagian dalam menekan kesenjangan ekonomi masyarakat.

Sedangkan perbaikan saluran irigasi tersier sepanjang 3 km rencananya akan dilakukan dengan cara swadaya masyarakat dan bantuan semen, pasir, batu, dari KPN. Dimana pengerjaannya dilakukan dengan cara bergotongroyong.

Selain itu terkait permasalahan kios pupuk yang letak lokasinya jauh dari wilayah masyarakat, Juanito berjanji akan menyampaikannya ke pihak yang berwenang, termasuk ke BUMN Pupuk.

Dalam acara pertemuan dengan sejumlah Kelompok Tani di Kecamatan Kronjo ini, KPN juga menyerahkan bantuan program PKBL Pupuk Kujang, Pupuk Organik Cair Bion Up, Pupuk NPK 30-6-8, dan Pupuk Urea. []