UNTUK INDONESIA
Melintasi Kawasan Kota Tua Cirebon
Gedung British American Tobacco atau BAT di kawasan kota tua Cirebon, satu di antara spot favorit anak muda untuk mengabadikan momen dalam foto.
Seorang tukang becak berada di sisi gedung BAT Cirebon, Jawa Barat. (Foto: Tagar/Yohanes Charles)

Cirebon - Ketika melintasi kawasan Kota Tua Cirebon, tepatnya di Jalan Pasuketan Kota Cirebon, akan terlihat sebuah bangunan megah berdiri kokoh. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang ada di Kota Cirebon. Oleh masyarakat, bangunan tersebut dinamakan Gedung BAT atau British American Tobacco.

Bangunan ini terletak persis di antara Jalan Pasuketan, Jalan Talang, Jalan Palang Merah, dan Jalan Kebumen, dengan luas sekitar satu hektare. Tidak ada halaman di depan bangunan ini. Temboknya berbatasan langsung dengan jalan raya. Catnya berwarna putih, dan di beberapa bagian dicat warna biru dan krem.

Bersama beberapa bangunan tua lain, Gedung BAT masuk dalam kawasan Kota Tua Cirebon. Hal ini karena dulu pada era pemerintah Hindia Belanda, adalah kawasan pemerintahan Kota Cirebon, atau era Belanda disebut Gemeente Cheribon.

Sebagai pusat pemerintahan, di sekitar gedung ini terdapat beberapa bangunan pemerintahan Belanda, seperti kantor polisi, kantor residen, kantor asisten residen, kantor pos, de Javasche Bank (yang sekarang dijadikan kantor Perwakilan Bank Indonesia, Cirebon) Escompto Bank, gedung perdagangan, pelabuhan, dan lain-lain.

Gedung BAT merupakan salah satu bangunan ikonik di Kota Cirebon. Sesuai namanya, bangunan ini merupakan tempat memproduksi rokok. Sehingga, ketika melewati kawasan ini, akan tercium aroma tembakau yang khas.

Berbatasan langsung dengan jalan, pintu keluar masuk kendaraan diberi tanda supaya tidak mengganggu arus lalu lintas. Apalagi, dekat pintu keluar merupakan lampu merah yang kerap dilalui banyak kendaraan.

Gedung BAT CirebonGedung BAT Cirebon pada malam hari. (Foto: Instagram/cirebonkerenjeh)

Ini merupakan pabrik rokok peninggalan Belanda, dan tetap jadi pabrik hingga beberapa waktu lamanya. Pada masa jaya, terlihat aktivitas pegawai pabrik, terutama pada jam masuk dan keluar kerja. Para pegawai memakai seragam berlogo mirip tembakau.

Namun kejayaan pabrik rokok yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Cirebon itu kemudian pupus, karena produksi rokok menurun. Sejak 2010, pabrik berhenti beroperasi. Perabotan dan mesin pabrik entah dipindah ke mana. Ada yang mengatakan dijual. Ada yang bilang dipindah ke pabrik Bentoel Malang, karena setelah berhenti produksi, pabrik yang masih dimiliki Bentoel Grup ini memindahkan produksinya ke Malang.

Praktis, kini yang tersisa hanya bangunan megah, tua, dan kosong. Masyarakat biasa tidak diizinkan masuk ke dalam bangunan pabrik. Hanya diperuntukkan bagi pegawai yang masih terdaftar seperti satpam, dan jajaran perusahaan.

Meskipun kosong, bangunan ini masih menyimpan pesona karena nilai historis dan keunikan bangunan. Bagian depan bangunan berupa pilar-pilar berwarna putih membentuk setengah lingkaran. Jendela di bagian tembok samping seolah mengikuti bentuk bagian setengah lingkaran dari pilar-pilar. Untuk bagian ini, bangunannya hanya terdiri dari dua lantai yang dipergunakan sebagai ruangan kantor.

Pada bagian ini, tepat di depannya, terdapat sebuah tulisan 'Anno 1924', yang merupakan penunjuk tahun didirikan bangunan ini, yakni pada tahun 1924. Bangunan ini dirancang Biro Arsitek asal Belanda, yakni Eduard Cuypers and Hulswit dengan gaya Art Deco. Bagian lain difungsikan sebagai gudang.

Bangunan ini seluruhnya terbuat dari campuran kapur, sehingga tampak kokoh. Sesuai ciri khas bangunan rancangan Belanda, batu bata temboknya cukup tebal, bahkan ada yang setebal satu meter. Karena itulah, ada seorang sejarawan berkelakar bangunan ini tahan dibom.

Gedung BAT CirebonMemotret motor kesayangan dengan latar belakang gedung BAT Cirebon. (Foto: Instagram/_alyazry18)

Pada masa kejayaan, merek rokok yang diproduksi pabrik ini antara lain Lukcy Strike, Pall Mall, Ardath, Kansas, Commfill. Tahun 1930, BAT menjadi pabrik rokok besar yang kapasitas produksinya mencapai 17.5 juta batang rokok sehari (memori Residen Cirebon C.J.A.E.T Hiljee, 3 Juni 1930), dengan jumlah pekerja 1.700 orang.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, pabrik ini memasuki masa sulit. Pada masa berikutnya pabrik ini kembali menunjukkan taring pada 1960 dengan memproduksi merek Double Ace, Gold Fish, Mascot, Medal, Kresta, Pirate, Bison, dan rokok khusus untuk militer. Hingga akhirnya produksi rokok di pabrik ini berhenti permanen pada 2010.

Gedung BAT Cirebon tercatat sudah tiga kali pindah tangan. Mulanya dimiliki perusahaan rokok SS Michael. Sejak Mei 2010 beralih ke BAT dan pada 2010 dibeli PT Bini.

Salah satu penjaga Gedung BAT, Muhammad Yusuf mengatakan, produksi rokok di Gedung BAT dihentikan dengan alasan yang kurang jelas. Gedung dibiarkan kosong hingga waktu yang tidak ditentukan.

"Tidak tahu juga mau dipakai untuk apa," kata Yusuf kepada Tagar, Selasa, 10 Desember 2019.

Bangunan Gedung BAT kemudian masuk dalam kategori cagar budaya, tidak boleh dibongkar atau diubah dari bentuk asli. Karena itu, kini bangunan tua ini hanya menunggu nasib dari tangan-tangan yang peduli dengan bangunan bersejarah, sama dengan bangunan tua lain di sekitarnya.

Selain kerap dijadikan lokasi untuk event, Gedung BAT juga menjadi satu di antara spot para pecinta fotografi, baik untuk swafoto maupun untuk dokumentasi. Bahkan, Gedung BAT pernah dijadikan lokasi syuting beberapa film di antaranya produksi Belanda, film berjudul Oeroeg (1993). []

Baca yang lain:

Berita terkait
Secercah Harapan Lewat Goresan Batik Kriyan Cirebon
Di atas goresan motif khas batik Kriyan terukir doa dan harapan warga Cirebon untuk mengubah nasib yang lebih baik.
Syahdu Azan Pitu Cirebon Warisan Sunan Gunung Jati
Azan pitu, warisan Sunan Guning Jati di Masjid Agung Cipta Rasa Cirebon hingga saat ini masih terjaga.
Kaladama, Tahu Gejrotnya Masyarakat Cirebon Timur
Sama-sama dari Cirebon tapi kalagama punya cita rasa beda dari tahu gejrot.
0
Antisipasi Bentrok, Polisi di Malang Razia Suporter
Kepolisian di Malang Raya melakukan razia terhadap Aremania dan The Jakmania yang ingin ke Sidoarjo menyaksikan final Piala Gubernur Jatim 2020.