UNTUK INDONESIA
Melihat Panorama Alam di Gua Jepang Aceh
Gua Jepang di Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Aceh dibangun pada tahun 1942, panjangnya hanya 100 meter.
Suasana saat berada di Gua Jepang di Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. (Foto: Tagar/Agam Khalilullah)

Lhokseumawe - Langit terlihat begitu cerah, gumpalan awan putih menghiasi langit yang biru itu. Burung-burung berterbangan di udara, jalanan bertanjakan, serta bebatuan sehingga menimbulkan debu-debu halus.

Begitulah suasana menuju ke lokasi Gua Jepang di Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Aceh kondisi jalannya memang rusak dan berdebu, namun saat berada di puncak seolah-olah rasa lelah itu terbayar, apalagi menyaksikan panorama alam yang indah.

Gua ini dibangun pada tahun 1942, panjangnya hanya 100 meter. Fasilitas militer di masa penjajahan itu, digunakan untuk pertahanan kelompok kecil dari serangan musuh dan untuk pengintai musuh yang datang dari arah laut.

Dilokasi itu, terdapat 16 buah gua dan Delapan benteng pertahanan serdadu (tentara) Jepang yang digali secara paksa oleh 300 orang masyarakat Lhokseumawe sekitarnya, pada Juli sampai Desember tahun 1942.

Kala itu masyarakat Lhokseumawe dipekerjakan paksa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Romusha, untuk membangun gua tersebut, yang akan digunakan untuk pengintaian jalur Selat Malaka. Selain itu juga sebagai tempat pertahanan, tempat tinggal dan juga gudang logistik para tentara Jepang.

Mulut gua jepang itu umumnya menghadap ke arah Utara atau menghadap laut, sehingga memang sudah di desain untuk mengintai musuh di perairan Selat Malaka. Sehingga dapat dengan mudah melihat aktivitas kapal-kapal jalur pelayaran Internasional itu.

Benteng jepangPengunjung mengabadikan momen saat berada di Gua Jepang di Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Minggu, 8 Desemnber 2019. (Foto: Tagar/Agam Khalilullah)

Bagian dalam gua telah disekat seperti kamar dan apabila masuk tidak ada penerangan sama sekali, serta tidak ada keterangan bahwa kamar-kamar itu dulunya digunakan untuk kegiatan apa.

Masyarakat Aceh lebih mengenalnya dengan sebutan Bukit Gua Jepang, sedangkan Pemerintah Lhokseumawe melebelkan namanya sebagai Taman Ngieng Jioh (Taman Melihat Jauh), letaknya di ketinggian 100 meter di atas permukaan laut.

Rasa lelahnya hilang karena melihat pemandangan yang bagus.

Saat masa pendudukan Jepang pada zaman dulunya, maka gua tersebut juga dijadikan sebagai tempat untuk mengesekusi tawanan perang dan juga tempat penyiksaan, serta dijadikan sebagai benteng pertahanan.

Ketika Kemerdekaan Indonesia, maka Gua Jepang yang terletak di Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, dijadikan sebagai tempat lokasi penahanan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Beberapa fasilitas yang tersedia, yaitu, sebagai tempat penyimpanan logistik oleh tentara Jepang. Terdapat pula ruang pengintaian, dapur, ruang makan, dan kamar tidur. Lokasinya juga cukup strategis, karena bisa langsung memantau musuh di laut kala itu.

Saat tiba di puncak, kita bisa melihat laut biru Samudera Hindia dan kemegahan kilang gas milik PT Arun yang kini telah berubah menjadi Perta Arun Gas (PAG).

Benteng jepang 3Pemandangan saat diatas puncak gua jepang di Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Minggu 8 Desember 2019. Pengunjung bisa menikmati laut biru Samudera Hindia dan kemegahan kilang gas milik PT Arun yang kini telah berubah menjadi Perta Arun Gas (PAG). (Foto: Tagar/Agam Khalilullah)

Ladang gas Arun membentang sepanjang 18,5 km, lebar 6,5 km dengan ketebalan 30,6 meter kaki, terletak di kedalaman antara 268 meter sampai 299 meter di perut bumi. Tekanan yang dikandung 3.550 kilogram setiap kaki persegi dan suhunya mencapai 352 derajat fahrenhit, berjumlah tujuh belas triliyun kaki kubik.

Kini lokasi itu menjadi salah satu kawasan wisata favorit bagi masyarakat Kota Lhokseumawe dan sekitarnya. Apalagi pada hari libur Sabtu dan Minggu, pengunjung bisa 100 orang, untuk masuk ke obyek wisata itu, pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 5.000.

Salah seorang pengunjung Syahrizal mengatakan, panorama alamnya sangat indah, serta bisa melihat beberapa sisi keadaan, seperti melihat langsung perairan Selat Malaka, Kilang Gas Arun dan perbukitan yang sangat indah.

“Kalau tiba di atas, maka pemandangannya sangat indah terutama disaat matahari mau terbenam. Rasanya kalau sudah tiba diatas, maka rasa lelahnya hilang karena melihat pemandangan yang bagus,” ujar Syafrizal. []

Baca juga: 

Berita terkait
Menikmati Pesona Objek Wisata Bur Telege di Aceh
Pesona Aceh memang tiada habisnya untuk diselami, memukau dan memikat mata, salah satunya adalah Bur Telege (1.360 mdpl) di Takengon, Aceh Tengah.
Galeri Kopi, Menikmati Ngopi Langsung di Kebunnya
Sebuah warung kopi yang disulap dengan nuansa tradisional berdiri di sebidang perkebunan kopi di kawasan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh
Pengalaman Mengunjungi Taman Bunga Celosia di Aceh Jaya
Siang itu matahari sedang bersinar terik, pantulan terangnya membuat warna-warna Celosia kontras berkilau, kuning dan merah menyala.
0
Gubernur Sulsel Minta Isu Corona Tak Dipolitisasi
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah meminta masyarakat agar isu virus corona tidak dipolitisasi.