Oleh: Denny Siregar*

Saya jarang banget ngikutin berita artis.

Ya, karena artis gitu-gitu aja beritanya. Sama sekali gada isi yang harus saya serap dari mereka. Kalau ga pamer kekayaan, pamer liburan, pamer tampang paling ya pamer pacar. Hidup mereka gak menarik, gitu doang.

Tapi berita Luna Maya dan Syahrini lewat terus di timeline Facebook saya. Kayaknya seru nih. Mau gak mau saya kan baca juga, dan akhirnya mengerti duduk persoalan. Rupanya Luna Maya akhirnya harus terkapar lunglai karena pada tikungan terakhir dia disalip oleh sahabatnya sendiri, yaitu Syahrini.

Luna Maya dan Syahrini ini mirip pembalap MotoGP. Mereka sama-sama artis, sama-sama sering bikin berita sensasi, ternyata mereka juga berteman. Dalam MotoGP, mereka ibarat berada di tim yang sama.

Cuma ternyata dalam masalah memburu lelaki tidak ada "sahabat sejati". Apalagi kalau pacar si teman ternyata kaya 7 turunan 3 tanjakan, maka motto siapa yang tertawa paling akhir berlaku di sini.

Dan Syahrini pandai memanfaatkan situasi. Ketika dia mendengar berita Luna dan pacar tajirnya sedang bermasalah, maka dia melancarkan taktik dan strategi dalam menggaet pria. Diundanglah sang pacar ke sebuah acara, sendirian, dan mulailah parfum-parfum cinta ditebarkan. Untuk membius pasangan.

Dapat. Di tikungan terakhir Syahrini langsung mengikat. Luna yang selama 5 tahun prospek layaknya agen asuransi, ternyata di-closing oleh Syahrini dalam waktu beberapa hari. Sakitnya tuh di sini, di sini dan di sini... tunjuk mata, hidung, lutut kaki.

Kalau kita ibaratkan balap MotoGP, Luna Maya ini mirip Valentino Rossi yang sejak awal start di depan mulu, pas lap terakhir dan tikungan terakhir disabet teman setim. Memang kejam, tapi inilah kenyataan, kawan. All is fair in love and war.

"Ih, ternyata gitu ya, Bang. Trus hubungannya ma Prabowo apa, Bang...."

Aku terdiam. Dan mataku mulai berkaca-kaca.

"Prabowo mirip Luna Maya sebenarnya. Dia sibuk menggandeng banyak politikus di sana sini. Gandeng Ahok, gandeng Jokowi. Bahkan dia rela jadi Cawapres Megawati hanya untuk satu tujuan, suatu waktu ia harus menjadi Presiden di negeri ini.

Tapi sayang seribu sayang, keinginannya tidak tercapai. Ia harus rela orang-orang yang dulu dia gandeng, ternyata membalap sendiri-sendiri. Akhirnya Prabowo ditinggal kesepian, hanya bertemankan Fadli Zon, yang tetap setia karena bisa dijadikan pelampiasan.

Meski Fadli selalu memberi saran yang tidak sesuai, seperti saran konperensi pers soal Ratna yang katanya disiksa tapi ternyata operasi plastik, tapi gimana lagi, hanya Fadli yang rela terus di sisinya saat ini...."

Aku menyeruput kopi.

"Luna seharusnya belajar banyak dari seorang Prabowo. Bahwa kegagalan itu bukan sepenuhnya kegagalan. Kegagalan sebenarnya adalah ketidak-suksesan. Jadi kalau gagal, berarti tidak sukses. Jangan patah semangat. Coba lagi. Meski gagal lagi, coba lagi...."

"Kalau gak sukses terus, Bang ?"

"Ya, berarti gagal...," kataku sambil seruput kopi.

Temanku terdiam. Dia mengangguk tanda tak mengerti.

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: