UNTUK INDONESIA
Lokalisasi Pelacuran dari Jalanan ke Media Sosial
Sejak reformasi gerakan massal tutup lokalisasi pelacuran, tapi Internet melalui media sosial jadi ranah baru pelacuran melalui prostitusi online
Ilustrasi - Menggunakan internet dengan aman termasuk ketika bergaul di media sosial. (Foto: Pixabay/fancycrave1)

Oleh: Syaiful W. Harahap

Ketika reformasi bergulir tahun 1998 gerakan massal menutup Lokres (lokalisasi dan resosialisasi), lebih dikenal sebagai lokalisasi pelacuran yang menampung pekerja seks komersial (PSK) terjadi di seluruh Nusantara. Di era Orde Baru Lokres dijadikan sebagai tempat pembinaan PSK yang ditangani Depsos dengan kondisi mereka tetap ‘bekerja’ sebagai PSK.

Satu persatu tempat pelacuran, ada yang berfungsi sebagai lokres ada pula yang hanya lokalisasi, ditutup. Ada anggapan dengan menutup tempat-tempat pelacuran akan menghentikan praktek pelacuran. Penguasa daerah pun sambil menepuk dada mengatakan: Di daerah kami tidak ada lagi pelacuran!

Apa yang terjadi kemudian?

Perzinaan dalam bentuk pelacuran terus terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu yang tetap melibatkan PSK. Dalam prakteknya PSK dikenal ada dua jenis, yaitu:

(a). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan, dan

(b). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek prostitusi online, dll.

Bahkan, belakangan yang marak terjadi adalah pelacuran online atau prostitusi online yang memanfaatkan media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter, dll. Kini para germo tidak lagi duduk di pintu kamar rumah bordir karena sekarang mereka memakai telepon pintar memasarkan cewek-cewek yang jadi anak asuhnya.

Itu artinya pelacuran pindah dari lokalisasi atau jalanan ke Internet, dalam hal ini media sosial. Hanya dalam hitungan klik, germo atau mucikari sudah mendapatkan calon pembeli seks yaitu laki-laki ‘hidung belang’. Tinggal negosiasi harga, mengatur cara pembayaran dan tempat transaksi seks.

Jejaring sosial jadi media untuk memasarkan gadis-gadis di bawah umur atau cewek-cewek bahkan ada mahasiswi.

Pekerjaan tertua dalam peradaban manusia itu sekarang telah jadi bagian dari dunia digital. Keunggulan Internet dan ledakan media sosial jadi media untuk memasarkan prostitusi dengan Internet untuk mencari pemakai atau pelanggan.

Judul-judul berita ini menunjukkan geliat prostitusi online yang kian marak: Polisi Bongkar Prostitusi Online di Gresik, Tawarkan Tiga Janda Muda, Dikendalikan Suami Istri (November 2019). Ini juga: Polisi Bongkar Bisnis Prostitusi Online Pelajar di Tasikmalaya (Oktober 2019). Yang ini juga: 5 Fakta Prostitusi Online di Aceh, Libatkan Mahasiswi, Pelanggannya Mahasiswa Hingga Pejabat.

Bagaimana dengan yang ini: Artis VA Tertangkap Kasus Prostitusi Online di Surabaya (Januari 2019). Atau ini: Prostitusi Online dengan Layanan Threesome di Surabaya Dibongkar (Agustus 2019).

Itu sebagian dari fakta terkait dengan prostitusi online di Indonesia. Industri seks melonjak dengan dukungan Internet. Yang terjadi kemudian adalah eksploitasi seksual yang terjadi di semua negara di seluruh dunia.

Penelitian menunjukkan 80% transaksi seks sekarang terjadi melalui Internet yang memakai aplikasi media sosial sehingga pelacuran pun jadi bagian dari kegiatan online. Penelitian di AS menunjukkan penghasilan mucikari di Chicago dan Atlanta setiap tahun dilaporkan rata-rata 75.000 dolar AS atau setara dengan Rp 1.058.077.500.

Jika dikaitkan dengan epidemi HIV/AIDS prostitusi online yang melibatkan PSK tidak langsung jadi pemicu penyebaran HIV/AIDS karena banyak laki-laki termakan mitos (anggapan yang salah). Sejak epidemi HIV/AIDS diakui pemerintah ada di Indonesia pada tahun 1987 materi sosialisasi al. disebutkan bahwa HIV/AIDS hanya menular melalui hubungan seksual dengan PSK di lokalisasi pelacuran.

Akibatnya, laki-laki yang seks dengan cewek melalui prostitusi online dan eksekusi seks di hotel menganggap tidak ada risiko penularan HIV/AIDS. Padahal, dalam prakteknya cewek prostitusi online biar pun disebut model atau artis sama saja dengan PSK langsung karena mereka melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti. Ini perilaku yang berisiko tertular HIV/AIDS karena bisa saja di antara laki-laki tsb. mengidap HIV/AIDS sehingga cewek prostitusi online berisiko tertular HIV/AIDS.

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019 menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun 1987 sd. 30 Juni 2019 mencapai 466.859 yang terdiri atas 349.882 HIV dan 116.977 AIDS.

Jika pemerintah daerah menganggap daerahnya bebas pelacuran hanya karena tidak ada lokalisasi pelacuran, maka itu akan jadi bumerang karena prostitusi online marak. Maka, penyebaran HIV/AIDS di Indonesia akan terus terjadi melalui prostitusi online yang kelak jadi ‘ledakan AIDS’ bisa jadi nantinya sebagai ‘Afrika Kedua’ (Bahan-bahan dari: forensicmag.com, businesslive.co.za, dan sumber-sumber lain). []

Berita terkait
Mensos Juliari Rehabilitasi Cewek Prostitusi Online
Tempat pelacuran ditutup, belakangan muncul prostitusi online yang justru tidak bisa diintervensi sehingga penyebaran penyakit tak terbendung
Kenapa Laki-laki Membeli Seks dari Prostitusi Online
Prostitusi online yang melibatkan artis, model dan mahasiswi sama saja dengan pelacuran yang terkait erat dengan ‘penyakit kelamin’ dan HIV/AIDS
5 Fakta Putri Amelia Terjerat Kasus Prostitusi Online
5 fakta Putri Amelia, finalis Putri Pariwisata dan ikon pariwisata Danau Toba terjerat prostitusi online.
0
Ridwan Kamil : Jangan Liburan ke Puncak dan Cianjur
Ridwan Kamil meminta warga Jakarta dan Depok menahan diri untuk tidak berlibur ke Puncak dan Cianjur saat libur panjang akhir Oktober ini.