Jakarta, (Tagar 13/9/2018) - Dua bakal calon presiden serta wakil presiden yaitu pasangan petahana Presiden Joko Widodo dengan Ma'ruf Amin dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno tengah menghitung hari. Pada 20 September, Komisi Pemilihan Umum akan menetapkan dan mengumuman Pasangan Calon Peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Keduanya akan dihadapkan pada pertarungan sesungguhnya, mengemban visi misi pada masa kampanye mulai tanggal 23 September 2018 hingga 13 April 2019. Lantas, bagaimana kesiapan kedua kubu untuk menghadapi masa kampanye? Serta, siapa sajakah yang digaet untuk mendapatkan hati rakyat?

Lobby-lobby Kubu Jokowi

JokowiJaket Merah Jokowi | Presiden Joko Widodo berekspresi usai menyaksikan atlet wushu putri Indonesia Lindswell Kwok berlaga dalam nomor Taijijian Putri Wushu Asian Games 2018 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Senin (20/8/2018). (Foto: Antara/INASGOC/Ismar Patrizki)
Jokowi telah menetapkan Ketua Tim Kampanye Nasional untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Pilihan Jokowi jatuh pada Erick Tohir, seorang pengusaha profesional yang muda nan sukses.

Kenapa Erick Thohir? Jokowi beralasan, kampanye bukan merupakan urusan politik. Kampanye merupakan urusan manajemen mengelola kampanye, maka Erick lah yang dipilih menjadi KTN.

"Ini bukan urusan berpolitik, ini urusan manajemen, mengelola kampanye, sehingga bisa berjalan dengan baik," ucap Jokowi di Posko Cemara, Jakarta, Jumat (7/9).

Selain itu, gemuknya komposisi politisi di tim kampanye Jokowi-Ma'ruf menjadi alasan unuk memilih Ketua INASGOC 2018 itu.

"Sekjen-sekjen politik kurang apa? Nanti di Dewan Penasihat semuanya kan ketua partai. Dewan Pengarah ada Pak JK juga dengan background pengalaman panjang di bidang politik. Sehingga, ketua umumnya diberikan kepada seorang profesional muda, pengusaha, yaitu Pak Erick Thohir," jelasnya.

Jokowi dan timnya juga sudah menimang-nimang eks Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. Meski Demiz, sapaan akrab Deddy Mizwar merupakan kader Partai Demokrat, namun, Demiz bersedia menggaet suara Jokowi-Ma'ruf di Jawa Barat.

"Artinya, ini adalah sikap politik yang harus dihargai," tutur Ketua Majelis Pertimbangan Daerah Partai Demokrat Jabar itu usai rapat tim Jokowi-Ma'ruf di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta, Sabtu (1/9/).

Keputusan Demiz sedianya berbeda dengan keputusan Partai Demokrat yang berkoalisi dengan kubu Prabowo-Sandi. Ia pun berharap partai besutan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dapat mengerti dengan perbedaan sikap politiknya tersebut.

Komposisi kubu Jokowi-Ma'ruf pun sudah hampir rampung. Untuk Tim Kampanye Daerah menurut Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin Abdul Kadir Karding sudah melakukan konsolidasi.

"Tim kami hampir terbentuk 100 persen. Ada satu dua yang belum tapi mereka juga sudah lakukan konsolidasi," jelasnya di Gedung High End, Jakarta, Rabu (12/9).

TKD Jokowi-Ma'ruf berada di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Personel TKD terdiri atas unsur partai politik, relawan, juga kader partai pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Lobby-lobby Kubu Prabowo

Prabowo SubiantoBakal calon presiden Prabowo Subianto memberikan paparan saat menjadi pembicara dalam seminar 'Paradoks Indonesia' di Jakarta, Sabtu (1/9/2018). Seminar yang dihadiri oleh profesor, cendekiawan, dosen, guru, dan pengamat itu untuk mengupas buku karya Prabowo Subianto berjudul 'Paradoks Indonesia: Negara Kaya Raya, tetapi Masih Banyak Rakyat Hidup Miskin'. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga)

SBY dan AHY sudah masuk dalam struktur tim pemenangan kampanye, lalu siapa lagi yang diincar oleh Prabowo Subianto dan Sandi untuk bergabung?

Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, disebut-sebut diinginkan oleh kubu Prabowo-Sandi. Bahkan, ajakan tersebut sudah disampaikan eks Wakil Gubernur DKI Jakarta Sadiaga Uno jauh-jauh hari.

"Saya lagi meminta waktu dengan Pak Gatot, sudah hampir dua minggu belum diterima, mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa ikut mengajak Pak Gatot untuk berjuang bersama," ujar Sandiaga di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (21/8).

Sementara itu, Prabowo sendiri mengakui, hingga kini belum ada kepastian gabungnya Gatot ke timsesnya. Obrolan keduanya, menurut Prabowo terakhir sebelum deklarasi.

"Saya belum ada kepastian. Insya Allah mudah-mudahan saja," tutur Prabowo.

Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga, yang juga bagian koalisi Prabowo-Sandi memang menginginkan Gatot untuk masuk ke dalam tim pemenangan. Meski sebenarnya belum ada jawaban kepastian dari Gatot, menurutnya Gatot akan diberikan posisi strategis jika akhirnya memutuskan bergabung.

"Kalau memang dalam proses ini Gatot sudah fix nanti akan masuk sebagai bagian dari Tim Nasional Pemenangan Prabowo-Sandi, tentu juga posisinya akan strategis," ungkapnya.

Gatot diyakini bisa menambah kekuatan Prabowo-Sandi di perhelatan Pilpres 2019.

"Ini akan semakin menambah bobot menambah energi kekuatan untuk melakukan penggalangan kekuatan pemenangan dalam Pilpres ke depan," tukas Viva.

Sebenarnya, selain me-lobby Gatot, Prabowo mengajak putri kedua Presiden ke-4 Abdurrahmad RI yakni Yenny Wahid. Saat sowan ke kediaman Gusdur, Sandi sempat mengajak Yenny untuk ikut menjadi tim pemenangan Prabowo-Sandi.

Tak cukup Sandi yang bertandang, Prabowo secara blak-balakan mengajak Yenny agar bergabung dengan tim suksesnya.

"Anda tahu hubungan saya dan Mbak Yenny kan? Saya sendiri yang minta Mbak Yenny maju sebagai Gubernur Jatim setahun lalu. Beliau salah satu tokoh perempuan Indonesia yang sangat sangat punya kapasitas," ucapnya di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).

Tapi, Yenny masih enggan menjawab permintaan Prabowo secara langsung. Ia hanya menuturkan bahwa Prabowo merupakan aset  dengan visi yang luas dan jauh ke depan.

"Komitmen yang diberikan beliau adalah untuk tetap pertahankan Islam moderat dan sumpah untuk NKRI, Pancasila itu komitmen tentu kita hargai. Bagi kami Prabowo aset bangsa, pemimpin yang visinya luas dan jauh ke depan, kami hargai," tukas Yenny.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengaku tengah meracik tema untuk kampanye dirinya bersama Sandiaga Uno, pasca menyambangi kediaman Ketum Partai Demokrat SBY di Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (12/9) malam.

"Saya dengan didampingi oleh Sandiaga Uno baru saja kami diterima SBY, beliau didampingi AHY, dan kita tadi membahas langkah-langkah ke depan, sinergi kita, membahas penyusunan timses kampanye presiden, kemudian tema-tema kampanye narasi dan rencana yang akan datang," terang Prabowo dalam konferensi pers usai bertemu SBY.

Dalam hasil pertemuan, SBY diminta Prabowo menjadi penasihat calon presiden dan wakil presiden. Tetapi, SBY pun bersedia menjadi juru kampanyenya di Pilpres. Sedangkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan menjadi dewan pembina tim pemenangan.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarif Hasan pun tak menampik, atas kesediaan SBY untuk turun gunung menjadi juru kampanye Prabowo-Sandi. "Insya Allah," tuturnya singkat. []