Jakarta, (Tagar 2/7/2018) – Calon tunggal Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin kalah melawan kotak kosong dalam Pilkada 2018, hal ini berdasarkan hasil berbagai quick count (penghitungan cepat).

Menanggapi hal itu,  Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun akan menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) ulang jika suara terbanyak diperoleh oleh kotak kosong. “Iya, akan digelar pilkada ulang,” ungkap Anggota KPU Hasyim Asy'ari saat dihubungi Tagar melalui pesan singkat, Senin (2/7).

Saat ditanya waktu penyelenggaraan Pilkada ulang tersebut, kata Hasyim, akan digelar pada Pilkada serentak tahun 2020 mendatang. Sebab, kepala daerah yang terpilih pada pilkada 2015 akan habis masa jabatannya pada tahun itu. “Pilkada serentak berikutnya tahun 2020,” ujarnya.

Hasyim menjelaskan, dalam kasus kotak suara kosong menang di pilkada Makassar, daerah tersebut akan dipimpin oleh penjabat yang ditunjuk oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). "Dijabat oleh pejabat yang diangkat oleh Kemendagri," ujar Hasyim.

Kendati demikian, Hasyim meminta Masyarakat untuk tetap menanti hasil rekapitulasi penghitungan perolehan suara oleh KPU provinsi setempat.

“Tapi kita tunggu dulu sampai rekap tingkat KPU Kota Makassar selesai,” pungkasnya.
Tidak sampai disitu, nampaknya polemik kemenangan kotak kosong di Kota Daeng ini masih menjadi perhatian masyarakat tak hanya di Sulawesi Selatan melainkan juga secara nasional.
Proses rekapitulasi hasil perhitungan suara menimbulkan kecurigaan-kecurigaan di kalangan masyarakat. Bahkan terjadi hal yang sangat kontroversial lantaran media dilarang meliput secara langsung.

Hal tersebut membuat masyarakat Indonesia membuat hastag #savekolomkosongmakassar. dan hastag #kolomkosong ini hingga menjadi trending topic di dunia maya.

Masyarakat Khawatir
Menurut pengamat Sosial Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Sawedi Muhammad, hastag #savekolomkosongmakassar, itu muncul atas kekhawatiran masyarakat terkait kecurangan rekapitulasi real count KPUD.

Adapun hal-hal yang memicu kekhawatiran itu menurut Sawedi sebagai berikut:
Pertama, terjadi kerusakan jaringan sekaligus mati lampu ditengah proses perhitungan suara. Kedua, wartawan tidak dibebaskan melakukan peliputan yang beberapa hari sebelumnya diberikan akses penuh.

“Ketiga, terdapat perang informasi yang saling klaim pemenang antara pasangan Appi-Cicu dan kotak kosong,” ucap Sawedi.
 
Terkait klaim menang dari kubu Appi-Cicu, Sawedi mengatakan, itu untuk mengimbangi kekhawatirannya, karena klaim kemenangan kotak kosong versi hitung cepat begitu massif dan telah menjadi isu nasional.

"Saya kira lebih bijak menunggu pengumuman resmi KPUD dari perhitungan real count. Media dan masyarakat seharusnya diberi akses penuh atas informasi dan melihat langsung proses rekap dilakukan,” tutupnya. (rio/sas)