Indonesia
Kotak Kosong Menang Pilkada Pertanda Bagus
Kotak kosong menang Pilkada pertanda bagus. 'Dua kali malu. Sudah kalah, kalahnya lawan kotak kosong pula.'
Ilustrasi Pilkada Banten vs Kotak Kosong. (Ilustrasi : Tagar/Gilang)

Jakarta, (Tagar 29/6/2018) - Di antara calon tunggal yang bertarung melawan kotak kosong di arena Pilkada adalah Arief R Wismansyah-Sachrudin, pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Tangerang, Banten. 

Pasangan ini kalah lawan kotak kosong di beberapa tempat pemungutan suara (TPS). Di antaranya di TPS 7, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, mereka mendapat 147 suara, sedangkan kotak kosong mendapat 152 suara.

Di TPS 2, kotak kosong juga lebih unggul dengan 114 suara, sedangkan pasangan calon tunggal tersebut hanya dapat 74 suara. Di TPS 3, kotak kosong lagi-lagi unggul dengan 133 suara, mereka dapat 87 suara.

Selain Arief R Wismansyah-Sachrudin, masih ada lagi dua pasangan calon tunggal lawan kotak kosong di kawasan Banten, yaitu Ahmed Zaki Iskandar-Mad Romli, dan Iti Octavia-Ade Sumardi.

Ahmed Zaki Iskandar-Mad Romli pasangan calon bupati dan wakil bupati Tangerang. Iti Octavia-Ade Sumardi pasangan calon bupati dan wakil bupati Lebak.

Rekoreksi

Ray Rangkuti Pengamat Politik dari Lingkar Madani mengatakan fenomena kotak kosong menang atas calon tunggal di beberapa TPS yang dialami oleh Arief R Wismansyah-Sachrudin itu merupakan pertanda bagus.

"Kalau kotak kosong ada yang menang berarti pertanda bagus bagi kita. Berarti masyarakat melakukan perlawanan terhadap pelaku partai politik atau kepada kandidat yang dominan. Itu membuktikan kepada kita bahwa masyarakat kita ini juga nggak mudah percaya juga," kata Ray saat dihubungi Tagar, Jumat (29/6).

Kotak kosong menang akan memaksa kalangan partai politik melakukan rekoreksi.

"Kotak kosong menang, mudah-mudahan mereka bahas hal itu," ucap dia.

Ray menyarankan Pemerintah merevisi Undang-Undang tentang Pilkada yang mengakomodir keberadaan calon tunggal dengan berbagai ketentuan yang disyaratkan. Hal tersebut supaya fenomena kotak kosang dalam Pilkada tidak terulang kembali.

"Harus diubah undang-undangnya. Parpol harus lakukan evaluasi. Itu kalau mereka mau revisi aturan yang mengatakan bahwa calon tunggal boleh dalam Pilkada," ujarnya.

Menurut Ray, pasangan calon tunggal yang dikalahkan kotak kosong dalam Pilkada, sudah mempermalukan politik di Indonesia dan calon kepala daerah.

"Itu kan mempermalukan calonnya sendiri. Dua kali malunya. Sudah kalah, kalahnya lawan kotak kosong pula," katanya. (ron)

Berita terkait
0
Ephorus HKBP: Mengasihi Bukan Hanya kepada Seagama
Ephorus HKBP yang tiba di kompleks gereja disambut alim ulama, tokoh Betawi dan para pemuda Betawi yang merupakan warga daerah sekitar gereja.