Oleh: Denny Siregar*

Persidangan perdana Ratna Sarumpaet sudah selesai.

Dan Ratna tetap konsisten mendukung pilihannya, yaitu Capres no 2, Prabowo Subianto. Ada konsistensi yang kuat dalam pilihannya, meski seharusnya ia sedih karena apa yang diharapkannya berbanding terbalik dengan kenyataan di luar sana.

Jubir Prabowo Andre Rosiade yang kebetulan ada di PN Jaksel bersamaan dengan waktu sidang perdana Ratna, ketika ditanya wartawan apakah ia menghadiri sidang Ratna, sontak menjawab "Bukan, bukan urusan Mak Lampir nih. Gue nggak ada urusan sama Mak Lampir."

Sungguh terhina Ratna Sarumpaet dikatakan Mak Lampir oleh jubir dari pasangan yang didukungnya. Bahkan Hidayat Nur Wahid dari PKS berkata sinis, "Tak perlu 2 jari, fokus aja pada proses hukum."

Ratna seperti penderita lepra yang harus dijauhi karena ia dianggap menghancurkan elektabikitas Prabowo berkat hoaksnya. Padahal sebelumnya ia dipuja-puja sebagai Cut Nyak Dien masa kini.

Kasihan memang, tapi begitulah hidup. Habis manis, sepah pun dibuang.

Situasi yang sama dialami para emak-emak Pepes di Karawang yang ditangkap polisi karena memfitnah Jokowi dalam kampanye door to door-nya. Bahkan ibu dari salah satu emak itu meminta Prabowo dan Sandi bertanggung jawab terhadap anaknya karena ia mati-matian membela mereka.

Belum lagi para "korban" yang ditangkap polisi karena hoaks masalah TKA China di Morowali dan hoaks 7 juta surat suara yang sudah dicoblos. Mereka terpaksa mendekam di penjara karena terlalu militan membela Prabowo. Dan mereka ditinggal, tidak diakui bahkan tidak diberikan bantuan yang memadai.

Permasalahannya Prabowo sendiri tidak pernah menyerukan supaya relawan dan pendukungnya stop kampanye hoaks. Ia seakan menikmati situasi yang ada terhadap serangan pada Jokowi. Meski begitu, Prabowo menganut falsafah "risiko tanggung sendiri". Dalam artian kalau berhasil pundak ditepuk, kalau gagal pantat ditendang

"Tidak ada kawan yang abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan," begitu dulu kata seorang kawan.

Entah kenapa, masih banyak yang super militan dalam membela Prabowo sehingga menghalalkan segala cara. Meski sudah banyak contoh bahwa jika "tertangkap" mereka tidak akan diakui, tapi banyak juga yang merelakan kepalanya untuk dipenggal.

Saya sendiri tidak paham, dapat apa mereka kelak jika Prabowo berkuasa. Paling ya dilupakan seperti kentut yang bau sedikit menyengat lalu hilang tanpa teringatkan.

Sudah banyak korban-korban Prabowo dalam Pilpres 2019 ini. Mungkin Prabowo terlalu ganteng bagi relawannya sehingga "apa pun akan saya lakukan asal bisa joged sebentar dengannya."

Saya joged dulu sambil seruput kopi....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi