Jakarta, (Tagar 14/9/2018) - Penulis Denny Siregar menulis di Tagar News, baru kali ini Susilo Bambang Yudhoyono resah. Ketua Umum Partai Demokrat ini merasakan "pemberontakan" para kadernya karena sikap Demokrat yang mendukung Prabowo dalam Pilpres 2019. Suara-suara dari bawah yang menyerukan untuk "Dukung Jokowi" makin lama makin keras dan menggema.

Demokrat sendiri melakukan survei internal dan menemukan bahwa 20 persen kadernya menyatakan dukungan Jokowi. Dan hitungan itu bisa lebih besar dari yang kelihatan, karena banyak kader yang menyembunyikan dukungan pribadinya supaya tidak terlihat berbenturan dengan sikap partai.

"Mungkin sudah saatnya SBY kembali merenungkan sikapnya. Di kubu oposisi, Demokrat pun tidak mendapat keuntungan apa-apa, bahkan bisa saja suara mereka tergerus di pemilu legislatif karena dukungan yang salah," tulis Denny.

Menanggapi dilema yang dihadapi Partai Demokrat tersebut, Ferdinand Hutahaean, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat, mengatakan mereka yakin akan bisa berbuat banyak di Pemilu Legislatif 2019. 

"Kami meyakini bahwa kami akan meraih suara yang tidak sedikit," kata Ferdinand. 

Meski demikian, Ferdinand mengakui PDIP dan Gerindra diprediksi akan merajai perolehan suara 2019 nanti sebagai efek dari pemilu serentak dan kader mereka yang jadi capres. 

"Namun bukan karena itu kami harus berkecil hati, karena mesin partai akan kami maksimalkan dengan berbagai macam strategi untuk meraih suara maksimal," ujar Ferdinand.

Baca Juga: Mereka Ramai-ramai Dukung Jokowi

Ferdinand bahkan meyakini pilihan mengusung Prabowo-Sandi akan sangat menguntungkan bagi Partai Demokrat. 

"Prabowo-Sandi akan ungguli Jokowi di Pilpres nanti. Jadi tentu caleg-caleg kami akan diuntungkan dengan nama Prabowo-Sandi tersebut," kata Ferdinand.

Dia menambahkan nama SBY dan putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), masih menjadi magnet bagi pemilih sehingga suara Demokrat diperkirakan masih tetap tinggi.

Sementara itu, pengamat politik dari LIPI, Wasisto Raharjo Jati mengatakan nama SBY sebagai mantan presiden dua periode masih mempunyai daya tarik bagi pemilih.

"Namun melihat berbagai lontaran pernyataan beliau terhadap pemerintahan sekarang itu bisa jadi mengurangi penilaian publik," kata Wasisto.

Wasisto memprediksi Partai Demokrat masih akan eksis di parlemen dan bisa membentuk fraksi sendiri walaupun perolehan kursinya tidak sebesar sekarang.***