Oleh: Eko Kuntadhi*

Deklarasi alumni SMU se-Jakarta untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin berlangsung seru. Istora penuh sesak. Wajah berbagai generasi hadir.

Sebagian besar datang untuk menyatakan aspirasi politiknya. Sekaligus bereuni dengan rekan-rekannya yang lain.

Kita tahu, di akhir 80an sampai menjelang tahun 2000, SMU-SMU di Jakarta seperti dipisahkan oleh 'ideologi' lokal yang aneh. Mungkin bukan ideologi. Mungkin hanya kegagapan cara mengekspresikan diri.

Tawuran merupakan makanan sehari-hari siswa SMU saat itu. Kalau kita dengar kata Captoen, Boedoet, Gotun kita bisa tahu di mana letak nama-nama itu dalam memori kolektif kita saat itu.

Atau becandaan gaya anak STM, kita tahu apa maknanya.

Dalam kacamata psikologi sosial, agresifitas komunal seringkali merupakan refleksi kekecewaan pada sistem dan lingkungan. Kekuasaan Orde Baru yang curang dan menindas serta mematikan ruang partisipasi publik, membuat seluruh masyarakat frustasi. Kefrustasian ini, dulu, kita refleksikan dengan tawuran di jalan.

Kita cuma ingin di-reken. Cuma ingin didengar dan diperhatikan. Cuma ingin dianggap ada. Ketika cara-cara normal untuk mengekspresikan diri tertutup, maka kita pilih jalanan sebagai sarana ekspresi.

Sampai pada suatu masa, meledak tawuran besar yang menghanguskan Indonesia. Reformasi bergulir. Kebebasan berekspresi terbuka. Ruang-ruang pendapat lebih bebas.

Alhamdulillah, setelah reformasi tawuran pelajar jauh berkurang. Yang tersisa sekarang tawuran orang-orang tua memakai slogan agama. Ini lebih memuakkan dibanding tawuran pelajar dulu.

Alumni SMA Dukung JokowiRibuan alumni SMA atau SMU se-Jakarta mengikuti deklarasi dukungan untuk Joko Widodo di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (10/2/2019). Deklarasi tersebut untuk memenangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin pada Pemilu 2019. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)

Kini kita, para alumni yang mengalami masa tawuran pelajar punya ruang ekspresi untuk memperjuangkan sesuatu. Memperjuangkan nilai yang jauh lebih tinggi dibanding sekadar nama sekokah. Kita memperjuangkan sesuatu yang bernama Indonesia.

Maka siang tadi, ribuan Alumni SMU se-Jakarta hadir di Istora untuk mengekspresikan dirinya sebagai bagian dari Indonesia. Sekat perbedaan dihapus. Sekat ego dibuang. Yang ada hanya keinginan untuk menjadikan Indonesia lebih maju.

Kebetulan lokomotif kemajuan itu berada di tangan seorang Presiden, bernama Jokowi. Kepada lelaki itulah ruang ekspresi kita sekarang dititipkan.

Jokowi berhasil mempersatukan emosi-emosi zaman dulu yang terserak. Menjadi satu bangunan yang lebih nyata dan utuh. Jokowi tampil di panggung politik dengan membawa nilai keindonesiaan. Kita menangkapnya sebagai orang baik, yang sedang berusaha terus berbuat baik bagi bangsa ini.

Maka deklarasi dukungan alumni SMU se-Jakarta bisa dibaca bukan cuma sebagai fenomena politik. Tapi juga fenomena sosial dimana kesamaan pandangan pesertanya menyatukan berbagai perbedaan. Saya sendiri menyaksikan antusiasme peserta yang dengan takjub mendengarkan pidato seorang Jokowi.

Pidatonya mungkin tidak berbusa-busa dengan retorika indah, tapi disampaikan dengan bahasa riil. Bahasa yang menggambarkan keadaan. Bahasa yang mudah dicerna. Justru karena itulah pidato Jokowi tadi sangat membakar.

"Empat tahun saya diam saja ketika mereka menghujani saya dengan fitnah. Saya menahan diri. Tapi apakah saya harus diam saja difitnah terus-nenerus?" ujarnya berapi-api.

Orang tahu, lelaki kurus itu telah bekerja secara serius menbangun bangsanya. Alumni SMU yang hadir tahu, inilah saatnya mereka membayar utang pada bangsanya.

Dulu mereka bergerombol di jalan untuk tawuran. Sekarang, semuanya datang bergerombol untuk menyatakan dukungan kepada orang baik. Lelaki kurus asal Solo, yang diharapkan mampu menjadi lokomotif bangsa ini satu periode lagi. 

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial