Makassar, (Tagar 11/2/2019) - Viral di media sosial dan grup aplikasi pesan WhatsApp, sebuah video mempertontonkan empat orang murid sekolah menengah pertama melakukan pengeroyokan terhadap seorang petugas kebersihan di SMP Negeri 2 Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Bahkan, kejadian pengeroyokan tersebut bukan hanya melibatkan siswa dan si tukang bersih sekolah, tapi orangtua murid juga ikut memukul. Kejadian itu terjadi Sabtu (9/2).

Dalam rekaman video berdurasi 30 detik tersebut, terlihat petugas kebersihan bernama Faisal Daeng Pole (38) dikerumuni siswa. Seorang siswa dengan menggunakan gagang sapu, memukuli Daeng Pole. Darah segar mengucur dari kepala Daeng Pole.

"Betul, ada dugaan penganiayaan oleh para siswa. Korbannya sudah diperiksa," kata Kepala Polres Takalar AKBP Gany Alamsyah kepada Tagar News melalui sambungan telepon, Senin (11/2).

Gany menjelaskan, penganiayaan tersebut terjadi Sabtu (9/2) sekitar pukul 15.00 Wita. Saat itu korban sedang memungut sampah di depan kelas dan pekarangan. 

Para siswa menghampirinya dan menghinanya. Bukan hanya itu, di antara siswa tersebut mengatakan Daeng Pole dengan sebutan binatang.

Mendengar hinaan dari siswa itu, Daeng Pole menampar salah satu siswa karena merasa tersinggung dengan hinaan itu.

Video ViralDi sekolah ini terjadi pengeroyokan oleh empat siswa terhadap seorang petugas kebersihan. Peristiwa tersebut direkam, videonya viral di media sosial. (Foto: Tagar/Rio Anthony)

Kemudian siswa tersebut pulang, melapor ke orangtuanya

"Tidak lama berselang, orangtua siswa itu mendatangi korban di sekolah. Selain memukuli korban, dia juga memerintahkan anaknya beserta teman-temannya memukuli Daeng Pole," ujar Gany.

Akibat pengeroyokan itu, korban mengalami luka di kepala sebelah kiri, akibat hantaman tongkat sapu bergagang besi.

Gany mengatakan, pelaku pengeroyokan diduga lima orang, empat di antaranya merupakan siswa dan pelaku satunya adalah orangtua siswa. Mereka sudah dimintai keterangan, namun belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

"Kasusnya tetap kita usut. Petugas sudah menggelar olah tempat kejadian perkara," kata Gany.

Kepala SMP Negeri 2 Galesong Hamzah membenarkan dugaan penganiayaan terjadi di sekolahnya. Pihaknya juga telah menggelar rapat bersama para guru di sekolah. Dari hasil rapat, pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan empat siswa terlibat, dan menyerahkan kasus tersebut ke pihak kepolisian.

Pihak sekolah menilai, empat siswa tersebut dikeluarkan karena memang dikenal dengan kenakalannya. Mereka selama ini kerap diadukan oleh para guru akibat kelakuannya yang dianggap tidak pantas. Selama ini mereka juga kerap melontarkan kalimat tak pantas di lingkungan sekolah, meski telah sering kali ditegur.

"Hasil keputusan rapat dengan guru-guru, anak itu kita kembalikan kepada orangtuanya. Para guru tidak bisa berbuat banyak untuk pembinaan, selain dikhawatirkan mereka juga berdampak buruk terhadap perilaku siswa lain," kata Hamzah. []