Jakarta, (Tagar 14/3/2019) - Jokowi dan Ahok ketika menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dikenal sebagai pasangan yang serasi, saling mengimbangi, dekat secara personal dan kompak dalam membangun Jakarta. 

Kedekatan itu terlihat berjarak sejak Ahok yang bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama dipersalahkan berkaitan ucapan Al Maidah yang berujung penjara.

Untuk mengetahui bagaimana situasi psikologis hubungan Jokowi-Ahok terkini, berikut ini bincang-bincang Tagar News bersama Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati, Jumat sore (14/3).

Bagaimana Anda melihat Ahok yang sekarang? Apa dia akan jadi orang biasa atau bakal masuk lingkar kekuasaan lagi secara formal?

Tergantung apakah nanti Jokowi menjadi Presiden untuk periode kedua dan PDIP menang Pileg 2019.

Kalau dari Ahok sendiri, menurut Anda apakah masih ada motiviasi untuk berperan di pemerintahan?

Saya kira Ahok sebagai politisi memiliki tujuan untuk bisa duduk di pemerintahan lagi.

Kalau Jokowi kalah, riwayat Ahok juga tamat?

Untuk saat ini sebenarnya karier politik Ahok tergantung pada Jokowi sebagai mentor.

Anda melihat Jokowi sebagai mentor Ahok?

Saya melihat hal itu semenjak akhir tahun 2011 ketika Ahok dinominasikan jadi cawagub Jokowi di Pilgub DKI 2012.

Kalau Anda melihat hubungan Jokowi-Ahok di depan kamera dan di belakang kamera seperti apa?

Saya pikir hampir sama. Mungkin yang di belakang kamera, lebih intens relasi kerja dan relasi personalnya.

Kenapa Jokowi seperti menjaga jarak dengan Ahok di depan publik?

Saya pikir ini bagian dari menjaga citra beliau sekarang yang ingin tampil islami demi meraih kans besar di pilpres nanti.

Menurut Anda, sikap Ahok terhadap Jokowi bagaimana?

Hormat seperti layaknya menghormati senior.

Kalau kharisma Ahok dulu dan sekarang menurut Anda bagaimana?

Mungkin agak beda. Ahok yang dulu sangat garang dan tanpa basa basi. Kini mungkin lebih santun.

Kira-kira perubahan itu menurut Anda kenapa?

Mungkin karena kasus kemarin dan juga penjara. []

Baca juga: