Bandung - Akibat musim kemarau berkepanjangan di Jawa Barat, kurang lebih 29.900 hektare sawah tadah hujan mengalami puso di tujuh kabupaten dan kota.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat Hendy Jatmika menyampaikan itu saat ditemui di Gedung Sate Bandung, Selasa 9 Juli 2019.

Dari total 29.900 area persawahan yang mengalami puso tersebut jelas Hendy, Kabupaten Indramayu menjadi wilayah yang persawahannya paling luas mengalami puso yaitu kurang lebih 1.800 hektare. Sisanya hampir merata di enam kabupaten dan kota yang sama-sama terdampak kekeringan.

"Saat ini sawah tadah hujan yang mengalami puso sudah 29.900 hektare. Memang Indramayu menjadi daerah paling parah terdampak kekeringan dan paling cepat yang mengalami kekeringan terutama untuk area sawah tadah hujannya dibandingkan daerah lain," jelas dia.

Dampak ke pertanian pasti ada tetapi tidak sampai mengganggu pasokan beras dan langkanya beberapa komoditas pertanian

Beras dan Pangan Masih Aman

Meskipun demikian jelas Hendy, pihaknya menilai kekeringan yang tengah melanda Jawa Barat masih normal dan dampak terhadap pertanian tidak terlalu mempengaruhi pasokan beras. Karena masih bisa dipasok dari kabupaten dan kota lain yang tidak mengalami puso.

"Dampak ke pertanian pasti ada tetapi tidak sampai mengganggu pasokan beras dan langkanya beberapa komoditas pertanian. Karena masih bisa dipasok dari daerah lain yang ada irigasi dan beberapa daerah sudah banyak yang menerapkan jadwal menanam," jelas dia.

Upaya yang sudah dilakukan pemerintah melalui dinas terkait tambah Hendy, memberikan bantuan pompa air kepada wilayah yang mengalami kekeringan parah.

"Antisipasi musim kemarau sudah kita lakukan karena sudah menjadi rutinitas tahunan kami. Hal yang biasa dilakukan adalah memberikan bantuan pompa air dan bantuan air bersih bekerja sama dengan pihak terkait," ujar dia. []

Baca juga: