Majene, (Tagar 14/9/2018) - Penculikan warga negara Indonesia kembali terjadi. Kali ini menimpa dua warga Dusun Naukkalukku Desa Lalattedzong Kecamatan Sendana Kabupaten Majene Sulawesi Barat bernama Syamsul dan Hamdan.

Syamsul, Kapten Kapal Dwi Jaya Sakti, dan Hamdan, Teknisi Kapal Dwi Jaya Sakti, disandera oleh kelompok bersenjata di perairan Malaysia, Selasa (11/9/2018).

Berdasarkan informasi dari Fitri (28), istri kapten kapal bernama Syamsul, awal mulanya dia tahu bahwa suaminya disandera pemberontak bersenjata itu dari akun Facebook yang diunggah hari Selasa (11/9/) oleh salah satu ABK yang selamat.

"Saya tahu suami saya disandera itu dari status Facebook salah satu Anak Buah Kapal (ABK) yang selamat. Tetapi waktu itu saya lihat masih samar-samar. Saya kira itu kapal lain, tapi ternyata itu suami saya yang disandera pemberontak," ujar Fitri melalui sambungan telepon kepada Tagar News, Jumat (14/9/2018).

Waktu pukul 03.00 subuh, istri Syamsul menerima pesan dari ABK yang selamat. Disebutkan, Samsul, suaminya disandera. Namun, saat itu Fitri masih tidak yakin.

Fitri bercerita, “Pada Selasa subuh ABK kabarin saya, betul kejadiannya suami saya disandera. Tapi saya tidak yakin karena kapalnya belum sampai di darat, baru setelah kapal sandar teman saya dari sana menelepon kalau suami saya yang disandera, saya langsung shock.”

Setelah itu, kata Fitri, sampai sekarang tidak ada lagi kontak dengan teman suaminya yang selamat. Akan tetapi, menurutnya, salah satu ABK yang selamat juga pernah mengirim pesan ke dia bahwa ABK tersebut bingung.

"ABK yang selamat bingung mau cerita apa ke saya, karena sampai saat ini polisi di Raja Malaysia masih mencari suaminya dan temannya, dan sampai saat ini saya tidak pernah berkomunikasi dengan suami pasca penyanderaan itu," ujar Fitri.

“Suami saya sudah 15 tahun kerja di kapal tersebut. Kapal yang ditempatinya bekerja itu adalah kapal asal Malaysia, khusus untuk menangkap ikan di laut Malaysia,” kata Fitri lagi.

"Hingga saat ini belum ada komunikasi dengan pihak terkait baik dari pemerintah pusat maupun dari pemerintah daerah, begitu juga bantuan belum ada, tetapi sempat kemenlu menelpon saya untuk sabar, karena pihak Malaysia sedang berusaha mencari keberadaan suami saya," kata dia lagi.

Sementara itu, Julianti (31) istri teknisi kapal Dwi Jaya Sakti Hamdan mengakui, betul suaminya disandera kelompok bersenjata di Malaysia.

"Iya betul suami saya disandera di sana. Saya tahu informasi itu dari salah seorang ABK yang selamat bernama Ugi. Dia mengatakan saat penyanderaan mereka bersembunyi, dan yang dibawa pemberontak hanya dua orang termasuk suami saya," cerita Julianti kepada Tagar melalui sambungan telepon, Jumat (14/9/2018).

Menurut cerita ABK kapal bernama Ugi seperti dikutip Julianti, saat sandera memasuki kapal, mereka di tengah laut. Mereka sementara packing, posisi mereka saat itu berada di perairan Sampoerna Sabah dekat Kalimantan.

"Suami saya dan temannya dibawa pergi oleh orang bersenjata. Padahal dalam kapal ada 14 orang, yang dibawa cuma suami saya bernama Hamdan dan temannya bernama Syamsul, karena kebetulan suami saya itu adalah teknisi kapal dan temannya bernama Syamsul adalah kapten kapal tersebut,” terangnya seraya menyebutkan, sekelompok orang yang menyandera suaminya bersenjata lengkap.

Julianti juga bercerita, suaminya berangkat melaut sudah sekitar lima bulan. Sejauh ini staf kemenlu sudah menghubunginya, tetapi dari kepolisian setempat belum.

"Staf kemenlu sudah telepon saya, sedangkan dari polisi belum ada informasi. Saat ini saya berada di Kecamatan Wonomulyo Polewali Mandar, Sulawesi Barat," ungkapnya.

Penangkapan warga Majene oleh pemberontak bersenjata di Malaysia dibenarkan oleh Kapolres Majene Sulawesi Barat, AKBP Asri Effendi. Dia menyatakan juga sudah berbicara dengan bupati dan wakil bupati Majene.

"Saya sudah lapor ke Polda Sulbar terkait kasus ini. Sedangkan dari pemerintah setempat sudah berkomunikasi dengan Kemenlu. Dan saya sendiri sudah mengetahui kasus penyanderaan ini sudah sejak Selasa lalu. Sampai hari ini kami masih mengumpulkan data dulu tentang kedua warga yang di sandera tersebut," ujar AKBP Asri singkat. []