Oleh: Denny Siregar*

"Kalau Prabowo menang, Imam besar akan pulang."

Begitu kata Pendiri dan Ketua Umum Habib Rizieq Syihab (HRS) Center, Abdul Chair Ramadhan dalam diskusi publik di Kantor Seknas Prabowo Sandiaga, kemarin. "Kalau pulang sekarang, nanti diproses hukum. SP3 dicabut kembali, siapa bisa jamin?" katanya.

Rizieq Shihab sudah hampir 2 tahun tidak pulang ke Indonesia karena kabur ke Saudi. Rupanya dia tidak tahan ketika polisi hendak menyelidiki kasus chat seksnya dengan Firza Husein yang beredar ke mana-mana. Meskipun kasusnya sudah dihentikan atau SP3, tetapi itu ternyata bukan jaminan dia mau pulang. Rupanya ada ketakutan kalau di Indonesia nanti dia bisa "ditelanjangi" lebih dalam.

Kabar "ingin pulangnya" Rizieq Shihab sebenarnya bukan kabar baru. Tercatat ada dua kali kabar dia akan pulang dan minta dijemput di bandara oleh sejuta umat. Tapi janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi. Dia tidak kunjung mencungulkan batang hidungnya di negeri ini.

Prabowo Subianto pun pernah berjanji akan menjemput Rizieq Shihab dengan pesawat pribadinya. Tapi sama saja, rupanya belum ada kecocokan tanggal pasti kapan Prabowo mau menjemput atau kapan Rizieq Shihab mau dijemput.

Akhirnya karena bosan menunggu, berita kepulangan Rizieq pun jadi tidak menarik lagi. Terserah dia mau pulang atau ngga, mungkin juga masyarakat sudah menganggapnya tidak ada.

Tapi benarkah jika Prabowo menang, Rizieq Shihab bisa pulang?

Mimpi Abdul Chair mungkin juga tinggal mimpi. Jika Prabowo menang, belum tentu juga Rizieq Shihab diperhatikan. Palingan disuruh pulang sendiri karena toh sudah tidak berguna lagi. Suaranya hanya dibutuhkan saat kampanye saja.

Bagi Prabowo, Rizieq Shihab bisa jadi ancaman tersendiri jika ia berkuasa. Yang tadinya kawan bisa jadi lawan karena Rizieq berpotensi menggerakkan banyak orang. Jadi lebih baik Rizieq tetap di Saudi aja biar Indonesia tenang.

Prabowo bisa saja menerapkan strategi musuh dari musuhku adalah temanku. Selama punya musuh bersama, ayo gandengan. Nanti kalau tinggal berdua, kita bicarakan. Posisi Rizieq Shihab memang bukan posisi menguntungkan saat ini. Dia bukan posisi penentu sekarang, bahkan tidak banyak lagi dibicarakan.

"Terus, bagaimana kalau Jokowi yang menang?" tanya seorang teman.

Yah, mungkin Rizieq harus nunggu 5 tahun lagi biar bisa pulang. Tahun 2024, Ridwan Kamil atau Ganjar Pranowo yang menang, dia harus nunggu 5 tahun lagi. Kemudian 2029, Khofifah menang, nunggu lagi 5 tahun. Begitu seterusnya.

Mungkin baru bisa pulang kalau Jan Ethes sudah menang, karena Jan Ethes sudah tidak kenal lagi siapa Rizieq Shihab sebenarnya.

Mau seruput, tapi takut dosa....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi