UNTUK INDONESIA
Kain Ulos Sadum Pukau Orang Korea Selatan
Kain ulos Batak menyita perhatian masyarakat dunia di Korea Selatan.
Kain ulos Batak Toba di desain menjadi baju yang memiliki nilai tambah (Foto: Koleksi pribadi Alma Naibaho)

Jakarta - Perayaan 30 tahun Asean Korea Dialoque Relation dan 10 tahun Asean Korea Centre telah diselenggarakan di Korea Selatan pada 14-16 Juni 2019 lalu. Pada perayaan itu, budaya Batak diberi kesempatan untuk tampil mewakili Indonesia.

Saat itu yang mendapat kesempatan untuk ditampilkan adalah konsep kain ulos Sadum Batak Toba. Popularitas kain itu mendapat nilai tambah di mata dunia.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul membuka booth pariwisata dan kebudayaan selama tiga hari. Dalam kesempatan itu diwakili penampilan pakaian karnaval Indonesia berkonsep budaya Batak Toba.

Pakaian tersebut didesain sendiri oleh salah seorang desainer asal Sumatera Utara, Alma Naibaho, berbahan dasar kain ulos.

"Iya saya yang buat pola sendiri, gunting sendiri, pake sendiri juga dalam booth itu, bahkan saya bawa sendiri juga kemarin," ujar Alma Naibaho kepada Tagar pada Selasa, 18 Juni 2019.

Dalam acara besar tersebut, wanita yang lahir pada 22 Desember 1973 itu membawa nuansa Batak Toba, karena ingin menggambarkan budaya Batak di mata dunia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa baju yang didesainnya itu biasa digunakan pengantin. Namun ia ingin mengembangkan desain kain ulos tidak hanya sebagai gaun saja, tapi juga dengan desain baju luar negeri yang seksi maskulin.

"Hari pertama kami memakai gaun warna ungu, dan hari kedua kami pake baju warna hijau dengan desain seksi maskulin," kata Alma.

Kain ulos BatakKain ulos Batak Toba di desain menjadi baju yang memiliki nilai tambah (Foto: Koleksi pribadi Alma Naibaho)

Gaun dengan desain seksi maskulin itu menurut Alma, mewakili karakter perempuan orang Batak yang tangguh dan pemberani dalam menjalani kehidupannya. 

Corak kain ulos tidak hanya menghiasi pakaian, tapi juga aksesoris kepala yang menggambarkan rumah adat Batak yang dinamakan Rumah Bolon atau Ruma Gorga. Alma mengatakan alasannya memilih membawakan Budaya Batak itu, karena saat ini pakaian adat Batak sedang jadi trend.

Kain ulos BatakKain ulos Batak Toba di desain menjadi baju yang memiliki nilai tambah (Foto: Koleksi pribadi Alma Naibaho)

Dia menjelaskan jika jenis kain ulos yang dipakai dalam acara tersebut adalah ulos Sadum warna Hijau dan ungu. Alasan menggunakan ulos Sadum adalah memiliki garis-garis emasnya, sehingga dapat menambahkan nilai kemewahan.

"Kenapa aku milih kain ulos sadum, karena ada garis-gari emas yang menambahkan nilai luxurynya. kan kalo aku buat ulos mangiring, darimana menariknya? kurang menarik kan," ucap wanita 46 tahun itu.

Simbol Suka Cita

Ulos Sadum dimaknai oleh suku Batak sebagai simbol suka cita atau penyemangat dalam suatu keluarga agar tetap bersuka cita melakukan aktivitas keseharian.

Motif dan corak dari Ulos Sadum ini sangat banyak, seperti Ulos Sadum Tikar, Ulos Sadum Angkola Tujuh, Ulos Sadum Angkola Lima, Ulos Sadum Lampion atau Marlampion, Ulos Sadum Hande-hande, Ulos Sadum Tarutung, dan yang lainnya.

Sedangkan ulos mangiring adalah ulos yang melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Kain tersebut diperuntukkan sebagai gendongan atau parompa yang diberikan nenek dan kakek dari pihak perempuannya setelah melahirkan anak pertama saja. Warna yang mendasar dari ulos ini adalah hitam.

Mengingat akan kayanya kebudayaan Batak Toba, tapi tak kunjung dikenal dunia, Alma berusaha memperkenalkan pakaian adat tersebut kepada masyarakat mancanegara yang hadir dalam acara itu, seperti Korea, Malaysia, Brunei, dan juga, Philippina.

"Aku jelasin ke mereka, inilah baju adat kami, orang Batak. Saya dari Indonesia, Sumatera Utara. Ini rumah adat kami, dan itu alat musik dari daerah kami. Aku jelasin aja ke mereka. Kebetulan memang baju yang kami pakai itu paling unik di booth-booth yang ada di acara itu," tuturnya.

Ibu satu anak itu juga ingin kain ulos bisa bernilai tambah melalui desain baju dengan konsep yang go internasional.

Buah tangan wanita lulusan fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) itu memberikan hasil yang memuaskan. Dia banyak mendapat sorotan kamera dan mendapat perhatian selama berada di booth itu.

"It's so beatiful kata mereka. Dan kami juga banyak yang ajak foto karena penampilan kami saat itu lebih menarik," tutur Alma.

Selain pakaian adat Batak, alunan alat musik tradisional Batak Toba yaitu gondang juga menggema di Negeri Ginseng itu. Musik yang dibawakan pun memiliki arti. Alunan musik pembukanya menceritakan kondisi suku Batak sebelum masuk Injil. Selanjutnya, musik lagu rohani yang menandakan setelah Injil masuk ke Tanah Batak.

Meski telah memiliki bakat di dunia fesyen sejak kecil, Alma Naibaho lebih dulu mengikuti sekolah desain busana di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat pada tahun 2000. Dia juga dikenal sebagai pengusaha dan tenaga pengajar penjahit. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Demo Lagi, Kantor Polisi Hong Kong Dilempar Bom Molotov
Hong Kong kembali diwarnai aksi demo menentang RUU Ekstradisi. Minggu 20 Oktober, demontrans menyerang kantor polisi dengan melempar bom molotov