Kacang Sihobuk Kurang Laris di Masa Lebaran
Namanya Kacang Sihobuk. Merek dagang kacang sangrai yang sudah kesohor sejak lama.
Kacang garing merek Bintang Tapanuli Sihobuk, produksi Desa Sihobuk, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. (Foto: Tagar/Jumpa P Manullang)

Tarutung - Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, memiliki satu jajanan khas. Namanya Kacang Sihobuk. Merek dagang kacang sangrai yang sudah kesohor sejak lama.

Sayang, penjualan kacang gurih ini sedikit menurun pada saat liburan Lebaran lalu. Padahal momen yang sama tahun lalu cukup ramai pembeli.

Kacang Sihobuk mudah ditemukan di sepanjang ruas jalan wilayah itu. Selalu saja ada warung kecil atau toko yang menjualnya di pinggir jalan.

Pembuatan kacang garing ini disangrai bersama pasir dengan medium panas bara api dalam kuali besar. Kacang Sihobuk dibuat dalam kemasan plastik dan kaleng.

Merek Sihobuk ternyata punya sejarah tersendiri. Diambil dari nama desa di Kecamatan Tarutung yang pernah dilanda bencana longsor 1982 silam.

Demi menjaga nama baik merek dagang yang telah terdaftar sejak tahun 2000 kami selalu terapkan cara olah menghasilkan rasa khas tersendiri

Warga Desa Sihobuk penggagas kacang garing yang kemudian namanya melambung sekian tahun. Kacang ini menjadi buah tangan bagi siapa saja yang singgah atau berkunjung ke wilayah yang dulunya induk Kabupaten Humbang Hasundutan.

Variasi kemasan disesuaikan dengan takaran dan dengan harga berbeda. Dari harga Rp 5.000 kemasan plastik sampai kemasan kaleng seharga ratusan ribu rupiah.

Setiap liburan panjang seperti hari raya Idul Fitri, Natal dan liburan sekolah, penjual kacang garing ini selalu meraup rezeki puluhan juta.

Namun liburan Idul Fitri 1440 H yang baru lewat, omzet penjualan mereka turun drastis di banding tahun lalu.

"Untuk tahun ini ada penurunan omzet di banding musim Lebaran tahun lalu. Kemungkinan masa liburan yang singkat, tidak seperti liburan tahun lalu," ungkap Riado Situmeang, pengusaha Kacang Sihobuk di Jalan Raja Naipospos Sipoholon, Selasa 11 Juni 2019.

Hal serupa dialami usaha keluarga K Sigalingging, pemilik merek Bintang Tapanuli Sihobuk, di perlintasan jalan umum Tarutung menuju Kota Sibolga.

"Penurunan pembeli itu ditengarai persaingan usaha yang sama di sepanjang jalinsum. Padahal Lebaran 2017 sampai 2018 lalu saat itu permintaan sangat tinggi, tidak terkecuali saat puasa permintaan tinggi," kata Iwan Sitinjak, salah seorang keluarga K Sigalingging.

Walaupun ada penurunan pembeli, terang Sitinjak, mereka tetap menjaga kualitas rasa kacang tetap terbaik.

"Demi menjaga nama baik merek dagang yang telah terdaftar sejak tahun 2000 kami selalu terapkan cara olah menghasilkan rasa khas tersendiri," ungkapnya.

Bahkan pihaknya siap mengganti jika rasa kacang tidak enak, misalnya gosong. "Kami siap garansi jika ada keluhan pelanggan ke nomor layanan kami," kata Sitinjak, pengelola kacang garing berkemasan merek warna hijau.

Dia lalu berharap pemerintah bisa melakukan pembinaan dan pendampingan, seperti permodalan dan pengawasan merek dagang.

"Merek dagang Sihobuk ini perlu diawasi juga oleh pemerintah. Untuk menghindari upaya klaim dan pengoplosan," ungkapnya. []

Artikel lainnya:

Berita terkait
0
Tipikor Polda Sulsel "Obok-Obok" Kampung JK
Tipikor Ditreskrimsus Polda (Sulsel) bersama unit Tipikor Bone menggeledah rumah Dinas Wakil Bupati Bone, Ambo Dalle.