*Oleh: Thompson Hs

Upacara Peringatan 112 Tahun Wafatnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII selesai di kompleks Makam Soposurung Balige pada 17 Juni 2019 lalu.

Selain bertemu dan berbincang sejenak dengan sejumlah pejabat lokal Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara sejumlah anggota Forum Balige Raja (FBR) ternyata mengikuti upacara yang selalu rutin itu.

Sesungguhnya masih ada keinginan untuk berbincang-bincang dengan kalangan parbaringin yang menjadi tuan rumah upacara, sekaligus ingin menyampaikan apresiasi khusus atas ritual margondang semalaman di Porsea, Kecamatan Parmaksian dalam rangka peringatan tersebut.

Kalangan parbaringin dan sejumlah simpatisan seusai ritual margondang sekitar pukul 03.00 WIB langsung dari Parmaksian ke Soposurung untuk persiapan upacara nasional.

Salah satu anggota FBR ikut mendukung acara 'Adatfest Sonja&Timo' pada 2018 lalu. Itulah alasan untuk tidak menolak ajakan mereka untuk berbincang-bincang sambil menikmati kopi di kompleks makam Soposurung.

Berbincang-bincang sambil minum kopi juga merupakan pilihan tepat sambil menunggu kabar rombongan dari Pematangsiantar, yang kemudian baru tahu datang dengan dua mobil untuk mengikuti upacara dan tiba di kompleks makam Soposurung pada tengah malam, tapi langsung kembali ke Pematangsiantar karena di sekitar makam begitu gelap.

Mungkin semua bola lampu di sana sudah putus atau sengaja dimatikan. Rombongan dua mobil dari Pematangsiantar sepertinya merasakan suasana lain menjelang peringatan 112 Tahun pada 2019 ini.

Perbincangan dengan lima orang anggota FBR melupakan semua yang ditunggu dari sekitar makam Soposurung. Hal-hal penting dari perbincangan dicatat khusus oleh sekretaris FBR, David L Napitupulu.

Ternyata selain pengurus FBR David adalah pencetus branding kacang garing Tobasa, sekaligus menjadi pengusahanya. Itu baru ketahuan setelah makan siang bersama.

Dan keesokan harinya langsung ke gudang dan pengolahan kacang garing tersebut di sekitar Jalan Mulia Raja, tidak jauh dari Mess Pempropsu tempat saya menginap.

Sekitar pukul 12.00 pada 18 Juni 2019 David sudah berjanji bisa dijumpai di gudang dan pengolahan kacang garing Tobasa, meskipun sebelumnya saya tawarkan lebih pagi untuk kemungkinan mengambil beberapa gambar.

Namun karena harus ke Tarutung untuk menjemput bahan kacang garing itu, saya lalu mengerti. Ternyata sebelum pukul 12.00 telepon sudah berdering untuk membuat saya tergesa untuk mandi dan akan ke dua tujuan sekaligus check out dari penginapan.

Di belakang sebuah tempat salon (lupa namanya) gudang dan pengolahan kacang garing Tobasa terletak dengan sederhana. David langsung ke luar dan menyambut setelah mendengar suara kenderaan masuk. Ternyata salon tersebut milik istrinya untuk menambahi pemasukan ekonomi keluarga yang sudah memiliki tiga anak.

Anak pertama David akan memasuki sebuah sekolah desainer juga di Medan dalam waktu dekat. Sudah pasti David ingin anak-anaknya sekolah lebih tinggi dibandingkan sekolahnya dulu hanya sebatas sebuah sekolah swasta di Balige, yang sudah tak ada lagi sekarang.

Mengawali perbincangan soal kacang garing Tobasa, David mengakui minat dagangnya bersumber dari ibunya yang juga pernah jualan, termasuk mengecer kacang garing Sihobuk. Ayahnya termasuk salah seorang anggota veteran di Balige dan dikenal dengan panggilan 'Si Pemborong Jawa Timur'.

Tidak banyak yang perlu ditanya soal masa lalu David. Namun semangatnya mencipta merek kacang garing Tobasa menjadi penting. Di gudang dan pengolahan kacang garing Tobasa bertimbun bergoni-goni kacang yang baru dijemput dari Tarutung.

Per goni dapat berisi tujuh kaleng kacang mentah dan akan disortir sebelum direndam semalaman dan dimasak kemudian dengan alat lebih praktis, dibandingkan dengan memasakkan kacang garing Sihobuk masa awal dengan belanga besar di tungku api.

Menurut David, dari tujuh kaleng itu diharapkan hasil sortiran untuk dimasak bisa mencapai lima kaleng. Kalau kurang dari situ perhitungan pada penjualan bisa tidak seimbang. Kacang mentah dibeli Rp 120.000 per kaleng. Sedangkan penjualannya bisa antara Rp 250.000 sampai Rp 280.000 per kaleng kepada pengecer atau pembeli selain pengecer.

Kemasan kacang dibuat dengan empat kategori bungkusan plastik, laiknya seperti kacang garing Sihobuk yang dijual di pasaran, di luar pembelian per kaleng. Kemasan itu juga kadang langsung habis kalau diletakkan di tempat salon istri karena dibeli pelanggan.

Hmm, kacang garing Tobasa pasti padat karena sengaja dipilih sebelum dimasak. Bedanya jadi teringat dengan kacang garing Sihobuk, yang disortir setelah dimasak.

Kacang hasil sortiran di gudang dan pengolahan kacang garing Tobasa, kemudian dikupas dengan alat tersendiri dan dikipas pula kulit arinya dengan alat yang didesain seperti yang biasa menghilangkan kulit padi.

Kulit kacang dibuang sebagai pupuk ke sawah dan kacang mentah yang hasil sortiran dijual per kilo Rp 20.000. Itu selalu habis juga karena sudah ada pembelinya, terutama penjual lontong di sekitar Balige. Jadi dari kacang yang diolah dan dijual tak ada yang tersisa sebagai ampas di sekitar gudang dan pengolahan yang masih dikontrak oleh David.

Gudang dan pengolahan kacang garing Tobasa hanya seluas 5 x 3 meter. Di sanalah terletak kacang-kacang sebelum diolah, alat-alat pengupas, pengipas, dan pemasak kacang dengan mengandalkan tenaga listrik. Fokus utama David sudah berlangsung sejak 2005. Awalnya dia ikut langsung menjual kacang-kacang garing Tobasa dengan menjajakan berbagai bungkusannya.

Kacang garing Tobasa memang belum 'mendunia'. Namun sudah memiliki penggemar tertentu di Kabupaten Tobasa. Para pengecer juga kadang tidak lupa menjual kacang garing Tobasa pada hari-hari pekan ke kecamatan dan gampang ditemukan wisatawan di Pantai Bulbul Balige.

Kepercayaan atas David hingga diangkat sebagai sekretaris FBR mungkin karena pengalaman terobosannya itu. Sejak bertemu di makam Soposurung, semua percakapan kami yang serius dicatat dengan baik. *Penulis adalah penggiat budaya Sumatera Utara.[]

Baca juga: