UNTUK INDONESIA
Jika Benci Terhadap Suara Tertentu Anda Misophonia
Bagi sebagian orang suara tertentu bisa menimbulkan kegilaan yang mendorong tindakan fisik, kondisi ini disebut sebagai misophonia
Ilustrasi (Foto: medium.com)

Jakarta – Jika Anda merasa ‘gila’ ketika mendengar suara-suara tertentu itu artinya Anda sebagai misophonia. Secara harfiah misophonia adalah kebencian terhadap suara, tapi berbeda dengan fonofobia (ketakutan terhadap suara).

Tahun 2016 di Batam, Kepulauan Riau, misalnya, seorang laki-laki, MD, 35 tahun, dilaporkan ke polisi karena menganiaya A, 30 tahun, ibu seorang bocah berumur 2,5 tahun yang menangis terus-menerus karena sakit gigi. Rupanya, MD tidak tahan mendengar tangisan bocah itu dan melampiaskan kemarahannya dengan menganiaya ibu bocah.

Masih di tahun 2016 di Medan. A, 30 tahun, menganiaya anak kembarnya yang berumur tujuh bulan karena tidak tahan mendengar tangisan anak-anaknya. Akibatnya, selah seorang bayi kembar itu meninggal.

Sedangkan di Depok, Jawa Barat, seorang pengasuh L, 66 tahun, menganiaya bayi berumur tiga bulan yang diasuhnya karena bayi itu terus-menerus menangis. Akibatnya bayi itu meninggal.

Di Surabaya (2019), S menampar istrinya karena adu mulut soal anak mereka yang terus-menerus menganis.

Empat kasus di atas menggambarkan dampak buruk suara tertentu, dalam hal ini tangisan, yang membuat seseorang ‘gila’ sehingga melakukan kekerasan terhadap yang menangis atau orang tuanya.

Dari aspek psikologis kerentanan mendengarkan suara yang tidak disukai disebut misophonia. Istilah ini diperkenalkan kalangan ahli tahun 2000 yang menggambarkan kondisi emosi dan pikiran negatif yang bermuara pada reaksi fisik.

Misophonia disebut bisa mempengaruhi kemampuan untuk mencapai tujuan hidup dan menikmati situasi sosial. Namun, sampai tahun 2019 dikabarkan tidak ada metode berbasis bukti ilmiah yang bisa dipakai untuk mengelola kondisi misophonia.

Contoh-contoh di atas merupakan gambaran riil reaksi fisik akibat misophonia. Di tempat tidur pun misophonia bisa terjadi ketika suami atau istri marah-marah jika mendengar desahan, mendengkur atau tarikan napas pasangan. Seorang ayah atau ibu tiba-tiba marah bukan kepalang hanya karena anaknya menguap.

Ada juga yang menghindari restoran karena tidak kuat mendengar suara kunyahan pengunjung. Ini jelas merupakan perilaku terkait dengan misophonia.

Orang dengan misophonia secara emosional sangat dipengaruhi oleh suara-suara yang muncul dari orang lain. Suara-suara itu, seperti bernapas, menguap atau mengunyah bagi sebagian orang tidak jadi masalah.

Tapi, bagi misophonia suara-suara tsb. memicu respons berontak untuk lari dari kondisi tsb. Bisa jadi misophonia mengalami isolasi untuk menghindari derita karena suara-suara yang tidak diinginkan. Celakanya, misophonia dikabarkan sering malu sehingga tidak membeberkan yang mereka alami ketika bertemu dokter.

Padahal, secara faktual misophonia merupakan gangguan psikologis yang nyata karena mengganggu fungsi sosialisasi yang bisa jadi merusak kesehatan mental. Misophonia biasanya muncul pada umur sekiar 12 tahun. Para ahli berpendapat orang dengan misophonia lebih banyak daripada yang diketahui.

Penelitian dimulai untuk mengidentifikasi penyebab misophonia. Sebuah tim peneliti yang berbasis di Inggris mempelajari 20 orang dewasa dengan misophonia dan 22 orang tanpa misophonia.

Hasilnya, bagi semuanya efek suara berbeda dalam mempengaruhi ketidaknyamanan. Suara yang jadi pemicu secara umum, seperti suara orang mengunyah makanan dan menarik napas dan suara-suara yang mengganggu secara universial, seperti tangisan bayi atau jeritan serta suara netral seperti suara hujan. Bagi sebagian misophonia suara mengunyah makanan dan bernapas sangat mengganggu, tapi bagi yang lain tidak. Itu artinya bagi orang-orang misofonik pengaruh buruk justru datang dari suara-suara yang spesifik.

Dikabarkan para peneliti menemukan bahwa orang-orang dengan misophonia menunjukkan tanda-tanda fisiologis yang jauh lebih besar daripada stres, seperti peningkatan keringat dan detak jantung karena suara orang mengunyah atau bernapas.

Dikabarkan di seluruh negara bagian di AS ada klinik misophnia, termasuk perawatan karena gangguan pendengaran dengan white noise atau headphone. Ada juga terapi perilaku kognitif bagi misophonia.

Ada Asosiasi Misophonia yang merupakan organisasi non-profit yang didirikan Oktober 2013 di Portland, Oregon, AS, yang ditujukan untuk pendidikan, advokasi, penelitian dan dukungan bagi misophonia. Organisasi ini dikabarkan dalam beberapa tahun terakhir mereka sudah membuat kemajuan luar biasa (Bahan-bahan dari: en.wikipedia, misophonia-association.org, health.harvard.edu, bbc.com, dan sumber-sumber lain). []

Berita terkait
Baik Buruk Drama Korea Bagi Psikologis Penggemarnya
Demam drama Korea telah lama mewabah di Indonesia. Ini baik-buruk drama Korea bagi psikologis penggemarnya.
Kenali 7 Psikologi Pelanggan Bagi Pemilik Usaha Online
Para pemilik toko atau usaha melalui online wajib mengetahui tujuh psikologi pelanggan demi keberlanjutan maupun perkembangan bisnis mereka.
0
Puncak Perayaan Hari Jadi Bantaeng ke-765 Meriah
Puncak perayaan hari jadi Kabupaten Bantaeng Sul-Sel yang ke-765 tahun berlangsung meriah.