Indonesia
Jalan Rusak Dikeluhkan, Pengaruhi Perekonomian Babel
"Ruas jalan tersebut dijadikan akses untuk mengangkut berbagai jenis bahan kebutuhan masyarakat, dengan kondisi demikian berpengaruh terhadap perekonomian," jelasnya.
Jalan Rusak di Bangka Belitung. Kerusakan parah terutama ada di kawasan Sungai Tebu, karena jalan masih tanah. Warga yang kerap kali melintas, mengeluhkan ruas jalan akan becek saat musim hujan dan berdebu saat musim kemarau. Padahal akses jalan yang cukup ramai digunakan warga. (Foto: Ist)

Babel, (Tagar 20/12/2017) - Kondisi jalan daerah Dusun Lubuk Laut, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengalami kerusakan parah.

Kerusakan parah terutama ada di kawasan Sungai Tebu, karena jalan masih tanah. Warga yang kerap kali melintas, mengeluhkan ruas jalan akan becek saat musim hujan dan berdebu saat musim kemarau. Padahal akses jalan yang cukup ramai digunakan warga.

"Kami mengharapkan pemerintah daerah bisa mendengarkan keluhan warga dengan membangunnya menjadi jalan aspal yang lebih layak ditempuh. Warga sudah sering mengadukan persoalan jalan itu kepada saya," ujar Kepala Dusun Lubuk Laut Mardianto, di Koba, Rabu (20/12).

Menurutnya, akses tersebut sangat penting karena penduduk perkampungan nelayan kerap melintasinya. Mereka mengandalkan akses untuk mengangkut hasil tangkapannya, yang otomatis mempengaruhi perekonomian setempat.

"Ruas jalan tersebut juga dijadikan akses untuk mengangkut berbagai jenis bahan kebutuhan masyarakat, dengan kondisi demikian tentu berpengaruh terhadap perekonomian," jelasnya.

Lebih lanjut, ia yakin jika ruas jalan diperbaiki pemerintah daerah setempat, maka akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Kita sama-sama tahu infrastruktur jalan ini sangat penting untuk menggeliatkan perekonomian suatu daerah, kalau jalan bagus tentu akses ekonomi juga akan lebih baik dan masyarakat menjadi makmur," tutupnya. (nhn/ant)

Berita terkait
0
Uang Makan Napi Rp 20 Ribu, Rupan: Tidak Manusiawi
Besaran anggaran negara untuk narapidana di lembaga pemasyarakatan maupun rumah tahanan sebesar Rp 20 ribu per tiap hari tidak manusiawi.