Oleh: Eko Kuntadhi*

Jumat pagi saya melintasi jalan Kampung Melayu. Macet total. Orang berjajar di pinggir jalan. Ternyata daerah itu terendam banjir. Jakarta kebanjiran lagi.

Di sekitar Rawajati dan Cililitan Kecil banjir menutup hampir atap rumah. Kalau dulu ketika zaman Ahok, kondisi seperti ini akan banyak berseliweran petugas berseragam oranye. Tapi sekarang mereka entah ke mana.

Di pintu air Manggarai sampah berdesakan. Kali-kali Jakarta mulai terjadi pendangkalan lagi akibat sampah yang malas dikeruk.

Sebetulnya proyek penanganan banjir Jakarta berupa normalisasi sungai sudah hampir rampung. Ahok dulu ngebut menyelesaikan program ini. Bantaran sungai dibersihkan. Jalan inspeksi dibangun. Penduduk di bantaran direlokasi ke rumah susun. Kali dikeruk. Hasilnya titik banjir tidak separah sebelumnya.

Tapi Gubernur Anies gak mau meneruskan. Ia datang dengan konsep baru: naturalisasi. Entah apa maksudnya.  Konsep baru yang tidak jelas inilah yang membuat koordinasi pemerintah pusat dan Pemda DKI jadi terhambat. Sebab mereka bangung harus ngapain.

Tapi coba kita ingat apa yang disampaikan Anies Baswedan saat masa kampanye.

"Selama ini kita menyalurkan banjir secara horisontal, bagaimana secepat mungkin sampai ke laut. Saya berbeda menangani banjir, yaitu secara vertikal. Membuat sumur-sumur resapan di tiap-tiap pemukiman dan sepanjang bantaran sungai," begitu katanya.

Dua tahun berjalan banjir datang lagi. Sebab memang kayaknya Anies cuma mengkhayal. Apa yang dia sampaikan sama sekali gak efektif.

Air yang berlimpah di sungai Jakarta hanya bisa ditangani dengan kerja keras. Dengan kesungguhan. Bukan dengan teori. Mau ngomong sebakul juga, kalau gak ngapa-ngapain, ya tetap banjir.

Sayangnya, meski Jakarta sudah terendam banjir lagi, sampai sekarang pun Anies masih sibuk berteori. "Sampah dan air yang datang bukan dari Jakarta," ujarnya ngeles.

Iya, mungkin saja itu sampah dari luar kota. Mereka jalan-jalan ke Jakarta pada akhir pekan. Kepingin lihat Monas. Atau entah dari mana. Toh, sampah gak punya KTP untuk ditanyai alamatnya.

Tampaknya Anies memang tidak suka pada Ahok. Apa yang sudah dirintis Ahok dan membuahkan hasil ingin dirombak total. Sekadar menunjukan bahwa dia berbeda. Meski hasilnya malah membawa sengsara warga Jakarta.

Tapi masalahnya bukan di mana alamat sampah-sampah itu. Masalah terpentingnya adalah warga Jakarta kebanjiran. Jadi ngapain mempersoalkan dari mana datangnya sampah. Pikirkan saja bagaimana menanggulanginya.

Di sisi lain, secara teori permukaan tanah Jakarta terus menurun akibat penyedotan air tanah. Kondisi seperti ini sudah diramalkan oleh para ahli lingkungan. Pada suatu saat nanti, permukaan air laut akan lebih tinggi dari tanah.

Apa akibatnya? Rob atau air bah akan menerjang. Karena itu pembangunan pulau reklamasi yang berfungsi sebagai giant sea wall diperlukan. Pulau-pulau ini difungsikan untuk menahan masuknya air laut ke daratan.

Tapi demi popularitasya Anies selalu memusuhi pembangunan reklamasi Jakarta. Kita tidak tahu sekarang bagaimana nasibnya pulau-pulau itu.

Tampaknya Anies memang tidak suka pada Ahok. Apa yang sudah dirintis Ahok dan membuahkan hasil ingin dirombak total. Sekadar menunjukan bahwa dia berbeda. Meski hasilnya malah membawa sengsara warga Jakarta.

Coba lihat ke mana petugas seragam oranye yang duku rajin mengeruk sampah di selokan Jakarta. Tidak ada lagi. Jika banjir rakyat dibiarkan sendiri menangani nasibnya.

Anies memang Gubernur yang dipilih bukan karena kecakapannya. Juga bukan karena kemampuannya bekerja. Warga Jakarta memilih Anies karena alasan agama.

Jadi kalau soal banjir, soal sampah yang menggunung di kali. Soal Tanah Abang yang semakin semrawut. Itu bukan kapasitas Anies menanganinya.

Suruhlah dia pidato. Mintalah dia memberi bicara berbunga-bunga. Itu adalah bidang yang dikuasainya.

Lalu bagaimana cara menangani banjir di Jakarta sekarang?

Gampang. Kita ajak bicara airnya. Duduk bersama dalam posisi setara. Kita minta pengertian air tersebut untuk tidak ke Jakarta lagi. Intinya adalah keberpihakan. Insya Allah, air akan mengerti. Asal kita mau membuka diri dan dialog.

Saya kok, berkesimpulan. Untuk menangani banjir Jakarta, bukan sungainya yang harus dinormalisasi. Tapi program yang paling utama adalah menormalisasi dulu pikiran Gubernurnya.

Dan saya pun mendengar lagu Benyamin S.

"Jakarta kebanjiran. Orang-orang kebingungan. Gara-gara kompor mleduk...."

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Baca juga: