UNTUK INDONESIA
Isu PKI, Tengku Zulkarnain dan Mualaf Rp 100 Miliar
Apa hubungan antara demonstrasi meneriakkan kebangkitan PKI, biodata Tengku Zulkarnain yang digugat, dan mualaf penceramah seharga Rp 100 milar.
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain. (Foto: Instagram/@tengkuzulkarnain.id)

Gedung DPR MPR kembali dikepung sejumput massa yang meneriakkan kebangkitan komunisme di Indonesia. Para pendemo malah menuntut pemakzulan Presiden Jokowi. Menurut Wakil Ketua Gerindra Arief Poyuono, mereka yang meneriakkan isu PKI saat ini adalah para kadrun.

Benar juga kata Arie Poyuono, sudah menjadi rahasia umum, para pendemo tersebut selama ini paling gencar mengkampanyekan khilafah di Indonesia. Mereka selalu menuntut Pancasila diganti dengan sistem khilafah. Tapi, entah ada angin apa, tiba-tiba kini mereka demo seolah-olah membela Pancasila.

Apakah itu tanda-tanda khilafah baru saja ikut penataran P4 pola 48 jam lalu khilafahnya mendapat hidayah. Entah itu hidayah sinetron atau hidayah nur wahid. 

Jika kita telusuri, memang sekarang masih banyak orang demo anti PKI. Bisa dikatakan bahwa demo itu sudah telat 45 tahun. Harusnya dilakukan 45 tahun yang lalu, sebab PKI sudah dibubarkan di Indonesia sejak tahun 1965. Jangan-jangan karena kebiasaan mereka yang sering telat, mereka juga berharap almarhum Soeharto diangkat kembali menjadi Presiden Republik Indonesia.

Demo ini kabarnya juga melibatkan anak-anak di bawah umur yang akhirnya telantar di sekitar gedung DPR. Anak-anak itu dibawa menggunakan truk dan akhirnya tidak bisa pulang ke rumah karena enggak ada ongkos untuk pulang. Mungkin setelah itu, mereka akan kembali menyalahkan Jokowi. Alasannya, dalam Undang-Undang Dasar kita, anak-anak telantar wajib dipelihara oleh negara. 

Tengku tidak pernah tercatat sebagai dosen di USU apalagi sampai 30 tahun.

Baca juga: Isu PKI dan Pertarungan Dinasti Soekarno-Soeharto

Demo RUU HIPKerumunan massa dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) berunjuk rasa di depan gedung MPR/DPR, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2020. Mereka menuntut Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) ditarik dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas). (Foto: Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebetulnya banyak yang protes, demo itu sama sekali tidak mengindahkan social distancing atau physical distancing. Tapi kelompok mereka berkelit, mereka beralasan physical distancing itu hanya pantas untuk anak IPS, sementara physical distancing itu khusus untuk anak IPA. Kalau masih SD, belum ada penjurusan seperti itu.

Selain dikenal dengan istilah kadrun, kelompok ini juga dikenal dengan sebutan salawi atau semua salah Jokowi. Ketika masjid dibatasi untuk salat jemaah karena Covid-19, yang disalahkan adalah Jokowi. Ketika Pemerintah Saudi menutup Masjidil Haram dari jemaah asing saat ibadah haji karena virus corona, mereka menyalahkan Jokowi juga. Ketika mereka enggak punya duit karena malas bekerja, yang disalahkan Jokowi. Bahkan saat nasi bungkus jatah konsumsi demo hanya berisi tempe orek dan beberapa lembar kerupuk, yang disalahkan mungkin Jokowi juga.

Tengku Zulkarnain

Salah satu pentolan gerombolan salawi ini adalah Tengku Zulkarnain. Lelaki yang dikenal gemar memakai pakaian tanpa resleting, selalu menyalahkan Jokowi dalam setiap keadaan. Untunglah, pakaian Tengku selalu hadir tanpa resleting. Masalahnya kalau dia kejepit resleting, jangan-jangan yang akan disalahkan Jokowi juga.

Tengku ZulkarnainWakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain. (Foto: Twitter/ustadtengkuzul)

Dalam biodatanya dituliskan bahwa Tengku Zul adalah sarjana dari Universitas Sumatera Utara. Biodata tersebut juga tertulis dia melanjutkan studi S2 di Universitas Hawai. Bukan hanya itu. Tengku mengaku menjadi pengajar bidang linguistik di Universitas Sumatera Utara selama 30 tahun.

Padahal menurut salah satu pengajar di USU, Profesor Yusuf L Henuk, Tengku tidak pernah tercatat sebagai dosen di USU apalagi sampai 30 tahun. Yusuf L Henuk juga membongkar bahwa Tengku Zulkarnain tidak pernah kuliah S2 jurusan bisnis di Hawai seperti yang dituliskan dalam biografinya.

Mungkin saja Tengku Zul mengira, sekadar belajar tari hula-hula di Hawai, bisa mendapatkan gelar MA. Atau dia sebetulnya hanya menonton serial Hawai II Five O sesion tiga, tapi sudah merasa kuliah di Hawai. Atau mungkin di sana Zul mengira sekadar menginap di musala kampus, sudah mengikuti kuliah, dan berhak mendapat gelar sarjana.

Mualaf Rp 100 Miliar

Kita ikuti berita selanjutnya. Isinya mengenai ceramah seorang mualaf Steven Indra Wibowo. Penceramah ini mengaku bahwa ia pernah ditawari uang Rp 100 miliar agar mau kembali ke agama lamanya. Tentu saja Steven tidak menceritakan siapa yang mau memberikan uang sebesar itu kepadanya. Atau bagi Steven, pindah agama itu seperti proses main sepak bola Liga Inggris yang harus bayar dana transfer.

Sebagai informasi, bursa transfer sampai saat ini rupanya masih berlangsung seru. Untuk transfer keluar, sebut saja artis Asmirandah, Pingkan Mambo, Riyanti Cartwright, Happy Salma, Bunga Zainal, Salmafina Sunan, dan Lukman Sardi. Mereka adalah personel yang keluar dari Islam, memperkuat tim agama lain.

Sementara transfer masuk ke dalam Islam, kita mengenal artis seperti Dedy Corbuzier, Marsha Timothy, Reinata Kusmanto, Bella Saphira, dan beberapa nama lainnya. Mereka kini memperkuat tim muslim.

Sepertinya bursa transfer ini akan terus berlangsung. Ada yang keluar, ada yang masuk. Itu biasa dalam dunia persepakbolaan.

Memang banyak mualaf yang menggeluti profesi sebagai penceramah agama. Jemaah pendengarnya yang sejak bayi sudah muslim, kini diajarkan petuah agama oleh mereka yang baru saja masuk Islam. Rata-rata penceramah mualaf itu memang selalu sibuk menjual kisah agama lamanya. Bahkan tidak sedikit yang menjelek-jelekkan agama lamanya.

Perilaku seperti itu mirip mantan yang tidak bisa move on. Selalu menceritakan mantannya. Apalagi dengan drama-dramaan ala kisah Steven itu, harus pakai uang Rp 100 miliar. Entah kenapa Steven ini sepertinya agak hobi main drama. Padahal kalau diperhatikan, wajah Steven juga enggak Korea-korea amat. 

*Pagiat Media Sosial

Baca opini lain: Kasus Aceh: Masuk Agamaku Yes, Keluar dari Agamaku No

Berita terkait
Denny Siregar: Riwayat Kadrun di Indonesia
Banyak yang bertanya kepada saya, apa sih, Bang, maksudnya Kadrun itu? Kalau dapat pertanyaan begini, saya pasti ngakak. Denny Siregar.
Kasus Aceh: Cut Fitri Islam ke Kristen, Kenapa Marah
Cut Fitri Handayani di Aceh, dari Islam pindah Kristen, keluarga marah, ada kelompok memaksa Fitri balik ke Islam, pemuka agama mengecam. Kenapa.
Benarkah Jokowi Memplot Prabowo Presiden RI 2024
Prabowo Subianto, satu di antara orang yang diplot Jokowi untuk meneruskan kepemimpinannya membangun Indonesia, menjadi Presiden RI 2024. Benarkah?
0
Publik Indonesia Sudah Tunggu Pelatih Shin Tae-yong
Polemik PSSI dan pelatih tim nasional Shin Tae-yong sudah dilupakan. Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan juga berharap pelatih kembali ke Indonesia.