Jakarta, (Tagar 27/11/2017) - "Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan dengan garam," ujar Jenderal Polisi Hoegeng.

Kalimat tersebut seringkali dijadikan acuan polisi di Indonesia untuk menjalankan tugas sepenuh hati berbekal kejujuran. Pesan dari Hoegeng itu menyiratkan bahwa kepolisian seharusnya menjalankan tugas tanpa peduli dengan besarnya mahar yang mengiming-imingi ketika menjalankan tugasnya.

Namun, penilaian masyarakat terhadap polisi kini bergeser dengan mindset 'polisi tak jujur' karena beberapa oknum membuat imagenya terlihat demikian. Tak seperti, penilaian masyarakat terhadap sosok Hoegeng.

Jenderal Polisi Hoegeng, hingga kini menjadi role model polisi di Indonesia yang jujur dan bebas dari korupsi. Ia sama sekali tak mempan dengan sogokan uang saat menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) periode 9 Mei 1968 - 2 Oktober 1971.

Tugasnya sebagai Kapolri ia jalankan dengan baik seperti tak terpengaruh dengan berbagai intervensi dari para peguasa, terhadap kasus yang tengah dihadapi polisi saat itu.

Bahkan saking terkenalnya sosok Hoegeng, Presiden ke-empat Indonesia Abdurrahman Wahid membuat anekdot tentangnya.

“Di negeri ini,” katanya, “cuma ada tiga polisi jujur: patung polisi, polisi tidur, dan polisi Hoegeng,” ucap Gus Dur.

Hoegeng Iman Santoso, menjadi pendobrak sosok bersih dan jujur pada masa orde baru. Ia lahir di Pekalongan 14 Oktober 1921 dan besar di lingkungan penegak hukum yang kental menanamkan kejujuran.

Ayahnya, Sukario Hatmodjo yang merupakan Kepala Kejaksaan di Pekalongan, bersama dengan Kepala Jawatan Kepolisian Karesidenan Pekalongan Ating Natadikusumah, dan R Soeprapto sebagai Kepala Pengadilan Karesidenan Pekalongan merupakan trio yang berjalan bersama dalam penegakan hukum yang jujur dan bersih.

Hoegeng dipesani ayahnya sebuah kalimat yang membuat sosoknya menjadi polisi panutan, yang besar kemungkinan memberikan andil dalam pemikiran Hoegeng sebagai penegak hukum.

"Yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan."

Tolak Suap

Kejujuran Hoegeng dalam sepak terjang hukum tak semulus jalan tol. Ia kerap melalui berbagai hambatan. Salah satunya adalah kasus suap yang dilakukan pengusaha wanita keturunan Makassar-Tionghoa.

Pengusaha cantik yang terlibat kasus penyelundupan tersebut, meminta Hoegeng untuk menghentikan kasusnya agar tak sampai ke pengadilan. Namun, ia tak mengindahkannya meskipun berbagai hadiah mewah dikirim ke rumah Hoegeng.

Sejumlah koleganya di kepolisan dan kejaksaan pun turut meracuni pikirannya untuk melepaskan wanita itu, karena ternyata wanita tersebut sering melakukan intrik dahsyat seperti tak segan tidur dengan pejabat agar aksi penyelundupannya tercapai.

Turun Atur Lalu Lintas

"Jika terjadi kemacetan di sebuah perempatan yang sibuk, dengan baju dinas Kapolri, Hoegeng akan menjalankan tugas seorang Polantas di jalan raya. Itu dilakukan Hoegeng dengan ikhlas seraya memberi contoh kepada anggota polisi yang lain tentang motivasi dan kecintaan pada profesi” seperti yang ditulis dalam buku Hoegeng-Oase menyejukan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa- terbitan Bentang.

Pangkat Jenderal bintang empat yang disandangnya tak membuat Hoegeng malu turun ke jalan raya mengatur lalu lintas. Sebelum ia tiba pada pukul 07.00 WIB di Mabes Polri, ia selalu memilih rute yang berbeda dari rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Hal itu ia lakukan semata-mata untuk memantau situasi lalu lintas dan kesiapsiagaan aparat kepolisian di jalan.

Berantas Beking

Saat Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumatera Utara tahun 1956, Hoegeng berhasil mengobrak abrik praktik penyelundupan dan perjudian yang merajalela dengan kacung-kacungnya yaitu para penegak hukum disana.

Kepolisian yang mengutus Hoegeng ke Medan sudah tahu dirinya bisa membongkar praktik beking karena ia menanamkan prinsip haram menerima suap dalam bentuk apapun.

Ia pun mengalami peristiwa serupa berhubungan dengan para bandar judi yang mencoba menjadikannya beking dengan mengirimi barang-barang mewah. Namun ia sadar dan menolak dengan halus.

Ia sadar, heran dan geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara yang mau saja disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. “Sebuah kenyataan yang amat memalukan,” ucap Hoegeng dengan geram.

Kasus Sum Kuning

Hoegeng banyak tak disukai para penguasa yang jelas-jelas korup. Ia tak gentar membasmi penyelewengan jabatan dan kekuasaan. Dalam masanya, pengusutan kasus Sum Kuning, seorang wanita dengan nama Sumarijem penjual telur ayam berusia 18 tahun yang diperkosa beramai-ramai oleh anak-anak pejabat saat itu, merupakan ujian yang cukup berat saat itu. Hoegeng harus berhadapan dengan para pejabat yang kesemuanya menggunakan segala daya untuk menghentikan penyelidikan yang dilakukan Hoegeng dan jajarannya.

Cerita Sum berawal dari laporannya terhadap polisi karena  diperkosa bergiliran tanggal 21 September 1970, oleh beberapa orang pria di Klaten. Namun ketika melapor ke polisi malang nasib Sum, bukannya mendapat pembelaan justru kasusnya membuatnya menjadi tersangka dengan tuduhan membuat laporan palsu. Hingga dijatuhi tuntutan jaksa penjara tiga bulan dan satu tahun percobaan di Pengadilan Negeri Yogyakarta.

Satu hari setelah Sum bebas, Hoegeng tak melepaskan kasusnya begitu saja. Lantas ia mencari tahu fakta soal pemerkosaan Sum Kuning. Tak tanggung, ia membentuk tim khusus untuk menangani kasusnya dengan nama Tim Pemeriksa Sum Kuning, bulan Januari 1971.

“Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” tegasnya.

Setelah tim berjalan mengusut kasus Sum Kuning, ternyata ditemukan keterlibatan sejumlah pejabat polisi di Yogyakarta, yaitu anak seorang pejabat dan seorang anak pahlawan revolusi diduga ikut menjadi pelakunya. Kasus ini pun menjadi penanda akhir dirinya menjabat sebagai Kapolri selama tiga tahun.

Dibumihanguskan Karena Keyakinannya.

Masa itu, pejabat-pejabat yang tidak mau menuruti kehendak Presiden Soeharto akan di-dubes-kan, Hoegeng salah satunya. Copotnya jabatan sebagai Kapolri, ia pun ditawari Cendana menjadi duta besar.

Bukan tergiur, namun Hoegeng menjawab bahwa dirinya tak bersedia manut pada tawaran menjadi duta besar tapi posisi apa pun di Indonesia akan dia terima dengan lapang dada.

"Dengan rasionalisasi moral, pejabat terbiasa menumpulkan hati nuraninya. Bagaimana menciptakan pemerintahan bersih jika atasan tidak menjadi contoh," kata Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso yang wafat pada 14 Juli 2004 dalam autobiografi yang dituturkan kepada Abrar Yusra dan Ramadhan K.H., Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan (1993). (dbs)

Nuranisa Hamdan N