Oleh: Eko Kuntadhi*

Di manapun bercokol Hizbut Tahrir. Di sanalah umat Islam akan menderita. Libya zaman Khadafi adalah sebuah negara yang paling makmur di Afrika. Sekolah gratis. Kesehatan gratis. Bahan kebutuhan pokok murah.

Libya juga sering membantu dakwah Islam di seluruh dunia. Saya gak tahu apakah Arifin Ilham adakah salah seorang yang mendapat bantuan itu. Tapi masjid yang didirikannya pernah bernama Masjid Khadafi. Sekarang sudah ganti nama.

Tapi AS gak suka sama Libya. Eropa empet melihat gaya Khadafi. Lalu bercokol lah Hizbut Tahrir di Libya. Kerjanya setiap hari ngompori rakyat agar berontak pada Khadafi. Slogan-slogan agama dihambur-hamburkan. Persis sama seperti di sini, yang ngompori rakyat dengan bendera tauhid.

Baca juga: Hizbut Tahrir adalah PKI Masa Kini

Sama seperti HTI di sini, Hizbut Tahrir di Libya  juga jualan khilafah. Umat Islam yang bodoh dan gampang tertipu termakan tipuannya. Lalu Khadafi roboh. Libya kekosongan kekuasaan.

HT senang karena umat Islam di Libya sudah tidak punya pelindung. Lantas masuk ISIS. Perempuan-perempuan Libya yang cantik itu diseret ke tenda-tenda dijadikan budak seks. Kaum lelakinya dijadikan tameng hidup untuk menghalau peluru.

Anak-anak yang tadinya bisa menikmati hidup kehilangan masa depan. Rumah tempat berteduh sekarang porak poranda.  Sekolahnya luluh lantak. Ruang bermain dipenuhi puing. Mereka menjadi yatim atau piatu. Padahal baru kemarin lusa bermain bersama ayah atau ibunya.

Di Turki Hizbut Tahrir pernah melancarkan kudeta. Mereka menyusup ke militer. Mempengaruhi prajurit-prajurit Turki dengan doktrin khilafah. Kudeta gagal dan Hizbut Tahrir dilarang di Turki.

Kudeta HT juga pernah dilancarkan di Yordania dan Irak. Semuanya hampir meluluhlantakkan negeri itu. Negara-negara mayoritas berpenduduk muslim berusaha dirusak oleh kehadiran HT.

Wajar saja jika hampir di semua negara mayoritas muslim, kehadiran Hizbut Tahrir diharamkan. Termasuk di Saudi Arabia. Sebab dia akan bercokol seperti namaku di tubuh umat Islam, tujuannya untuk memporak-porandakan kehidupan umat.

Organisasi ini sendiri bermarkas di Inggris. Di sana, di negeri yang penduduknya bukan mayoritas muslim, Hizbut Tahrir berdiri santai. Tidak menggangu masyarakat Inggris. Kenapa? Sebab masyarakat Inggris bukan muslim. Bukan sasaran  Hizbut Tahrir untuk dirusak.

Di Indonesia mereka juga punya kelakuan yang sama. Menipu umat dengan membodoh-bodohi. Buktinya bendera organisasi khilafah itu, diklaim sebagai bendera Rasul. Mereka menjual nama Rasul yang mulia untuk menghancurkan kehidupan umat Islam yang damai.

Tangan penghancuran seperti ini sebetulnya sudah lama terjadi. Salah satu jalannya dengan pembodohan dan penipuan. Bungkus saja sesuatu yang sakral sebagai jargon. Kalimat tauhid ditulis di bendera, lalu jualan pembela agama.

Mereka pikir membela agama cuma sekadar demo ramai-ramai untuk merusak suasana. Tidak pernah ada demo pembela agama bagaimana meningkatkan akhlak muslim kepada saudaranya yang berbeda agama. Tidak pernah ada demo, bagaimana umat Islam butuh pendidikan sains dan teknik agar bisa bersaing di kancah dunia.

Membela Islam, seolah hanya bisa dilakukan dengan cara menghancurkan. Dengan demo. Dengan teriak-teriak mengibarkan bendera.

Membela Islam tidak dilakukan dengan cara menanamkan semangat belajar. Semangat bekerja dengan jujur dan ikhlas. Semangat menegakkan keadilan walaupun terhadap penganut agama lain. Semangat mencintai tanah air.

Di manapun Hizbut Tahrir bercokol. Di sana umat Islam akan sengsara. Kehidupan akan hancur. Wajar saja jika sebagian negara melarang mereka. Ketimbang negerinya rusak.

Eh, di sini. Para codot sibuk membela organisasi yang nantinya bakal menyeret anak perempuannya sebagai budak seks. Yang akan menjadikan mereka sebagai mahluk yang dirantai di pasar-pasar untuk dijajakan.

Tidak pernah ada contoh Hizbut Tahrir memakmurkan umat Islam. Yang ada hanya contoh kehadiran mereka menghancurkan kehidupan muslim di  manapun mereka berada.

Sesungguhnya menghalau HTI adalah jalan membela umat Islam. Sebab umat Islam lah yang paling menderita ketika mereka berulah. []

*Eko Kuntadhi Pegiat Media Sosial