Hindari Awan Panas Merapi, Sapi di Klaten Ikut Mengungsi

Sapi milik warga Balerante, Klaten juga ikut mengungsi. Pengalaman ratusan sapi mati kena awan panas Merapi pada 2010 jadi pelajaran.
Warga lereng Merapi di Klaten, menitipkan sapi miliknya di kandang komunal Desa Balerante guna menghindari sergapan awan panas erupsi Merapi. (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Klaten -  Status Siaga Gunung Merapi membuat warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah tak mau kecolongan. Tidak hanya warga yang mulai mengungsi, ratusan hewan ternak juga sudah ikut dipindahkan guna menghindari sergapan awan panas

Sekretaris Desa Balerante, Basuki mengatakan sudah ada lebih dari 100 ekor sapi yang diungsikan dari rumah warga ke kandang komunal milik pemerintah desa.

"Sampai saat ini, ada 113 ekor sapi yang sudah dipindahkan warga ke kandang komunal. Di tempat ini, bisa menampung sebanyak 270 ekor sapi," kata Basuki saat ditemui Tagar di Balai Desa Balerante, Sabtu, 14 November 2020. 

Jumlah ini disebutnya dipastikan bakal terus meningkat karena warga kini sudah memiliki kesadaran lebih terkait tanggap bencana erupsi Merapi. Hal ini setelah warga punya pengalaman menyedihkan saat bencana erupsi Merapi pada tahun 2010.

Tahun 2010, ada sebanyak 328 ekor sapi yang mati akibat terjangan awan panas Merapi.

Dia menerangkan, ada ratusan ekor sapi milik warga Balerante yang terpanggang awan panas Merapi kala itu. "Tahun 2010, ada sebanyak 328 ekor sapi yang mati akibat terjangan awan panas Merapi," ucapnya

Dan menghadapi potensi bencana yang sama tahun ini, warga dikatakannya sudah belajar banyak. Warga kini tak perlu harus dikejar-kejar untuk mengungsi maupun mengevakuasi hewan ternaknya sejak jauh-jauh hari.

"Kini warga sudah lebih sadar. Jadi mereka sudah memindahkan ternaknya sejak status Merapi ditingkatkan dari waspada ke siaga," ujar dia. 

Basuki menyebut ratusan hewan ternak ini berasal empat dukuh yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) III atau masuk dalam radius lima kilometer dari puncak Merapi. Empat dukuh yang dimaksud adalah Dukuh Sambungrejo, Ngipiksari, Sukorejo dan Gondang.

Di empat dukuh tersebut ada sebanyak 435 ekor sapi. Hanya saja jumlah ini bisa berkurang setelah adanya peningkatan status Merapi. Warga dimungkinkan menjual sapinya. 

"Jadi begitu mendengar informasi peningkatan aktivitas Merapi, sebagian warga menjual sapi yang dimiliki. Ini juga terlihat dari adanya beberapa kendaraan dari luar yang mengangkut sapi untuk dijual ke luar daerah," katanya.

Baca juga: 

Ditambahkan, kandang komunal dikelola bersama oleh warga. Pengelolaan dilakukan dengan membentuk regu-regu berdasarkan blok tempat ternak dititipkan. 

"Termasuk untuk pakan ternak, selain ada bantuan dari Dinas Peternakan, warga sendiri juga tetap mencari pakan untuk kemudian dibawa ke kandang komunal," imbuh Basuki. 

Darso Wiyono, 56 tahun, salah satu warga Balerante mengaku tak mau pengalaman sepuluh tahun lalu terulang lagi. "Tahun 2010, dua ekor sapi yang saya miliki harus terpanggang awan panas. Makanya sekarang saya ungsikan dua ekor sapi ini lebih awal," kata Darso sambil memberi makan hewan ternaknya.

Pria asal Dukuh Sukorejo ini juga mengaku tak khawatir soal keamanan ternaknya di kandang komunal. "Informasi yang saya dapat, mulai hari ini, kandang komunal akan dijaga oleh polisi dari Brimob. Ini membuat warga lebih tenang," tukas dia. PEN []

Berita terkait
Merapi Bergemuruh, Warga Balerante Klaten Bergegas Mengungsi
Suara gemuruh beberapa detik dari puncak Merapi mengejutkan warga Balerante, Klaten. Wargapun bergegas turun untuk mengungsi.
Gemuruh Merapi Tak Halangi Hajatan Warga Stabelan Boyolali
Aktivitas warga di dukuh terdekat dari puncak Merapi di Boyolali berjalan seperti biasa. Bahkan suara gemuruh tak halangi hajatan warga.
Waspada, Magma Merapi Berada di 1,5 Kilometer dari Puncak
Magma gunung terus mendekati permukaan. Guguran yang terjadi belakangan ini dari sisa material lama.
0
Ditemukan 215 Kerangka Anak-anak Penduduk Asli di Kanada
PM Kanada sebut penemuan lebih dari 200 kerangka anak-anak yang dikubur di bekas sekolah asrama penduduk asli bukan insiden terpisah