Jakarta, (Tagar 14/3/2019) - Pengusaha sukses yang terkenal di Indonesia, Hashim Sujono Djojohadikusumo, adalah adik kandung dari calon presiden nomor urut dua (02) Prabowo Subianto.

Dalam silsilah keluarga, Hashim merupakan anak bungsu ekonom kenamaan Indonesia Sumitro Djojohadikusumo dan Dora Sigar. Hashim memiliki dua kakak perempuan, yaitu Biantiningsih dan Maryani Ekowati, serta kakak laki-laki yakni Prabowo Subianto.

Hashim diketahui menikah dengan salah satu pendiri yayasan Arsari Djojohadikusumo, Anie. Yayasan itu bergerak dalam bidang Pendidikan yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang memiliki taraf hidup sehat tanpa memandang latar belakang baik dari suku, agama, dan golongan.

Dari pernikahannya ia memiliki tiga orang anak, yakni Aryo Djojohadikusumo, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, dan Indra Djojohadikusumo.  

Pendidikan

Hashim yang lahir pada 5 Juni 1954 di Jakarta mengenyam pendidikan di negara yang berbeda-beda, mengingat ayahnya dulu sedang dalam masa pelarian dari rezim Soekarno. Ia sempat Sekolah Dasar di Jakarta, kemudian SMP di London, dan SMA di Singapura.

Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah mengambil jurusan ilmu sosial politik di Liberal Arts College, Amerika Serikat, selain itu kursus akuntansi dan bisnis.

Karir di dunia bisnis

Jika Prabowo sejak awal terjun ke dunia militer, kemudian ke panggung politik, tidak demikian dengan Hashim. Sejak awal, ia menekuni bidang bisnis dan ekonomi.

Setelah lulus kuliah di tahun 1976, Hashim tidak lantas berbisnis. Dia justru magang di salah satu institusi bank investasi bernama Lazard Freres Et Cie. Ketika Hashim pulang ke Indonesia, pada usia 24 tahun ia menempati posisi direktur Indo Consult --perusahaan milik ayahnya, Sumitro, yang tak lagi menduduki jabatan menteri--.

Tak berhenti di Indo Consult, Hashim pun mulai mendirikan bsinis pertama yaitu PT Era Persada. Kabarnya, melalui perusahaan ini Hashim yang masih berusia 30 tahun mengekspansi bisnisnya ke luar negeri.

Kepiawaian Hashim di dunia bisnis pun ternilai terutama saat dirinya mendirikan Tirtamas Group yang menjadi perusahaan induk dari PT Era Persada Trade (trading), PT Tirtamas Majutama (perusahaan investasi induk), PT Indoconsult (konsultasi bisnis), dan PT Prima Comexindo (trading), dan 38 anak usaha lain bergerak di bidang semen, petrokimia, energi, dan pertanian.

Perusahaan yang menjadi raja ekspor untuk produk pupuk, semen, teh, dan minyak kelapa sawit ke Rusia, Kazakhstan, Azerbaijan, dan lainnya. Sampai pada 1993, mereka pun mengakuisisi PT Semen Nusantara Cilacap dan PT Semen Dwima Agung.

Ketika Indonesia didera krisis ekonomi 1997-1998, Tirtamas Group terpaksa menjual saham-saham dan unit usahanya untuk melunasi utang, beberapa di antaranya adalah Bank Niaga, Bank Istimarat, dan Bank Industri.

Namun, pada tahun 2002, karir Hashim tersandung. Ia ditahan karena terlibat pelanggaran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), sebab kredit yang seharusnya dikucurkan ke kreditor, malah dikucurkan ke grupnya sendiri.

Setelah ditahan, Hashim pun pergi meninggalkan Indonesia dan menetap di Inggris selama sembilan tahun. Pulang ke Tanah Air, Hashim tidak menyerah, ia kembali menyelamatkan perusahaan eks-Bob Hasan di Kalimantan Timur yang telah dimiliki Prabowo, PT Kiani Kertas. Meski, Kiani Kertas belakangan dikabarkan berhenti produksi dengan tanggungan pembayaran gaji pada karyawan yang belum selesai.

Kini, ketangguhan Hashim di bidang bisnis diakui. Ia berada di peringkat ke-35 dalam deretan orang terkaya Indonesia versi Forbes. Ia memiliki harta kekayaan sekitar 850 juta dollar AS atau setara Rp 12,3 triliun.

Pundi-pundi kekayaan adik Prabowo ini hasil dari perusahaannya Arsari Group. Perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari perkebunan kelapa sawit, pulp and paper, logistik hingga perusahaan kargo.

Pilihan politik

Anak bungsu keluarga Sumitro ini, terlihat setia menemani kakaknya di dunia politik kendati sibuk dengan bisnisnya. Pilihan politiknya dijatuhkan pada Partai Gerindra, partai besutan kakaknya.

Ia pun, dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Seperti pada pemilihan sebelumnya, pada Pilpres 2019 ini pun ia membantu kakaknya untuk meraih cita-cita menjadi presiden di periode berikutnya sebagai Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Salah satu alasannya ia turut terjun ke dunia politik karena merasa sedih dengan kondisi bangsa sekarang ini, yang dianggapnya sebagai negara kecil.

"Kami punya prinsip. Ini buka soal jabatan. Bukan soal jadi menteri atau Wapres. Ini bukan soal saya dan keluarga saya. Tapi kita prihatin dengan keadaan bangsa kita. Tujuan kami untuk menegakkan Pancasila," tuturnya dalam wawancara di Tribunnews.com pada Rabu, 18 Oktober 2018.

Baca juga: Soemitro Ayah Prabowo, Ekonom yang Berontak pada Rezim Soekarno