UNTUK INDONESIA
Hartini Membawa Parang Saat Kerusuhan di Wamena Papua
Nasib salah satu pengungsi asal Wamena, Papua yang dilarikan ke Makassar, hingga saat ini masih trauma. Kini dia berniat ke Pulau Kalimantan.
Hartini bersama anaknya Eko Pramono duduk di tenda pengungsian DAAU Lanud Hasanuddin Makassar pada Senin 7 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah).

Makassar - Peristiwa 23 September 2019 mungkin akan selalu lekat dalam ingatan wanita ini, kala itu kerusuhan pecah secara tiba-tiba di Wamena, Papua. Setelah sarapan pagi bersama keluarga, seperti biasa, hal yang harus dilakoni ibu rumah tangga ini adalah berdagang di pasar. 

Dia tahu betul apabila masih ngotot mencari nafkah, maka nyawa yang menjadi taruhan. Bersama keluarga kecilnya, dia pilih untuk bergegas saja ke tempat pengungsian yang berada di kantor Koramil. Sebilah parang dibawa untuk melindungi diri selama perjalanan.

Saat itu juga kami membawa parang untuk melindungi jika terjadi apa-apa saat perjalanan menuju tempat pengungsian.

“Setelah terdengar suara ledakan yang tidak jauh dari rumah, kami sekeluarga akhirnya berlari menyelamatkan diri. Saat itu juga kami membawa parang untuk melindungi jika terjadi apa-apa saat perjalanan menuju tempat pengungsian yang jaraknya lumayan jauh dari rumah,” tutur wanita kepala lima ini.

Saat dijumpai Tagar di Makassar, wanita itu masih menenteng sebuah tas hitam di tangan kiri dan sebuah ransel yang ia rekatkan di pundak. Sementara di bagian depan ada tas kecil berwarna cokelat. Tangan kanannya erat sekali menggegam seorang bocah pria yang menenteng kresek berwarna merah berisi sekantong pakaian salin.

Mereka berjalan dari Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin, Makassar, menuju tenda tempat pengungsi kerusuhan Wamena yang berjarak sekitar 200 meter dari titik lepas landas pesawat Hercules C-130 yang mengangkutnya dari Jayapura.

Di tengah panas terik tengah hari bolong saat matahari tepat berada di atas kepalanya, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan raut wajah sedih di depan buah hatinya yang masih polos untuk mengetahui situasi konflik di Wamena.

Pengungsi WamenaHartini besama anaknya Eko Pramono berjalan menuju tenda pengungsian DAAU Lanud Hasanuddin Makassar pada Senin 7 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriasnyah).

Setibanya di tenda pengungsian di Makassar, dia langsung duduk menyandarkan badan sambil menghela napas panjang, sesekali Hartini meluruskan kakinya ke arah depan. 

Tak lama berselang, datang sejumlah relawan membawa logistik berupa makanan dan minuman untuk dikonsumsi dia dan pengungsi lainnya.

Wanita itu bersedia mengperkenalkan diri dan tidak keberatan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi di tempatnya merantau. 

Nama perempuan itu adalah Hartini. Sementara bocah pria yang setia menemaninya tak lain adalah anak bungsunya yang masih berusia 11 tahun, namanya Eko Pramono.

“Badan ini sehat, tapi jiwa kami tidak sehat,” ucap wanita berusia 52 tahun ini secara singkat saat memulai perbincangan pada Senin, 7 Oktober 2019 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Saat ditanyai mengenai maksud dari perkataan tersebut. Pedagang di pasar baru jalan Hom-hom Wamena ini mengatakan, raganya tetap sehat, tetapi jiwanya saat ini masih rapuh, ada trauma mendalam yang hingga kini sulit dikuburkan. 

Seluruh masyakat yang bukan merupakan warga lokal berlari menyelamatkan diri.

Hari itu, pada saat kerusuhan 23 September 2019 lalu, masih teringat jelas dalam ingatannya, saat itu Hartini sudah siap berangkat ke pasar untuk menjejali dagangannya. Namun, kerusuhan pecah secepat kilat. Saat berlari untuk mencari perlindungan, Hartini tidak sempat lagi mengamankan barang-barang berharga.

“Tidak ada lagi kesempatan untuk mengambil harta benda, yang ada saat itu lari saja dulu untuk menyelamatkan diri,” ujarnya seraya menggelengkan kepala.

Pengungsi Wamena di MakassarSejumlah pengungsi Wamena menuju tenda pengungsian DAAU Lanud Hasanuddin Makassar pada Senin 7 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah).

Wanita yang kesehariannya berdagang sayur-mayur di pasar ini menegaskan, tidak ada yang salah pada saat ia berlari sambil membawa parang. 

Sebab, dalam perjalanan menuju tempat pengungsian, sebelum ia diberi tumpangan oleh aparat keamanan, ada saja muka-muka sangar yang mencoba mengusiknya, bahkan melakukan penyerangan.

“Kejadian hari itu sangat mencekam sekali, tidak ada lagi orang yang bersantai di jalan, yang ada hanya seluruh masyakat yang bukan merupakan warga lokal yang berlari menyelamatkan diri,” ujarnya.

Belasan tahun dia tinggal di Wamena. Peristiwa pada hari itu merupakan yang pertama kali dialaminya. Sebelumnya, apabila ada kerusuhan, rumah warga pendatang tidak pernah menjadi sasaran amukan massa. 

“Ini pertama kalinya rumah tempat saya tinggal didatangi perusuh dan sekali mengalami langsung mengungsi keluar dari Wamena,” ujar wanita yang akan bertolak menuju Pulau Kalimantan itu.

Seingatnya, massa yang membuat kerusuhan di Wamena, bukan anak-anak sekolah menengah atas (SMA) seperti yang selama ini diberitakan media massa

“Tampang mereka yang melakukan kerusuhan ini terlihat sudah tua dan memiliki janggut yang tebal,” kata dia.

Rumahnya Dijarah Perusuh

Pengungsi Wamena di MakassarRelawan membagikan makanan dan minuman kepada pengungsi Wamena di pengungsian DAAU Lanud Hasanuddin Makassar pada Senin 7 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah).

Hartini mengaku bersyukur rumah yang ia tinggali selama 18 tahun di Wamena tidak dihancurkan maupun dibakar. Namun dari informasi yang diperolehnya, rumahnya dijarah oleh sekelompok perusuh.

“Saat di pengungsian saya mendapat kabar kalau isi rumah saya yang berisi banyak dagangan dijarah pihak yang tidak bertanggungjawab. Tapi tidak apa dijarah, yang penting tidak dibakar. Sempat suatu saat kembali ke Wamena masih ada tempat tinggal,” tutur Hartini pasrah.

Wanita asal Jawa Tengah itu menambahkan, kediamannya yang sangat dekat dengan titik utama kerusuhan merupakan salah satu dari beberapa rumah pendatang yang selamat tidak dibakar, tetapi menjadi lokasi penjarahan.

“Ada tetangga yang lumayan jauh jaraknya, rumah miliknya dibakar pelaku kerusuhan di Wamena,” ujarnya.

Saat ditanyai apakah terpikir untuk kembali lagi ke Bumi Cenderawasih, untuk saat ini Hartini mengakui masih trauma berat dan belum bisa mengambil keputusan untuk kembali ke Wamena, meski sudah lebih dari dua windu dia mendulang rezeki di sana.

“Kalau saat ini masih trauma, belum ada pikiran untuk ke Wamena, kecuali mungkin waktu yang lama dan kondisinya kembali kondusif dan ramah untuk pendatang,” ucapnya.

Berbagi Kebahagiaan Bersama Pengungsi

Pengungsi Wamena di MakassarDua orang Polwan menghibur anak pengungsi korban kerusuhan Wamena di pengungsian DAAU Lanud Hasanuddin Makassar pada Senin, 7 Oktober 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriasnyah).

Wanita yang setiap pekan mendapatkan kiriman sayur mayur dari Jayapura untuk kembali dijual di Wamena ini mengaku sempat menyumbangkan dagangannya untuk bisa dikonsumsi bersama dengan pengungsi lainnya di kantor Kodim Wamena.

“Kebetulan, sehari setelah kejadian tanggal 23 September kiriman sayur mayur dan ayam dari Jayapura tiba di Wamena, karena tidak bisa untuk dijual di sana, akhirnya bahan yang sudah dipesan, saya arahkan ke tempat pengungsian untuk dimakan bersama dengan pengungsi lainnya,” tuturnya.

Suatu keajaiban bagi dia, saat menyaksikan mobil pengangkut bahan makanan itu tiba tepat waktu. Sebab, kondisi pengungsian sebelum datang bahan mentah itu belum ada bantuan makanan, baik dari pemerintah, maupun dari pihak swasta.

“Beruntung, hari itu kami yang perempuan bisa membantu untuk memasaki para pengungsi yang ada,” tuturnya.

Suami Hampir Terbunuh 

Hartini menuturkan, suaminya, Sukiman, hampir dibunuh sekelompok massa yang kesetanan. Saat itu, Sukiman hendak menjemput Eko Pramono yang masih berada di sekolahan. Namun, di tengah jalan, dia diadang massa yang membuat kerusuhan.

“Saat itu suami sempat menjemput anak yang ada di sekolah yang juga dibakar oleh massa. Saat sudah menjemput anaknya, suami diikuti oleh orang lokal, namun beruntung bermodal lari kencang bisa selamat dari incaran orang lokal itu,” kata Hartini.

Menurut dia, hingga saat ini suaminya yang sudah berusia 60 tahun itu masih mengalami trauma berat, bahkan jika diminta untuk menceritakan kejadian yang hampir meregang nyawanya itu, sang suami sedih dan tidak sanggup untuk berkata.

Kami keluar dari Wamena sudah sangat senang sekali. Kami saat ini akan berangkat ke rumah anak pertama yang ada di Kalimantan.

“Kalau Sukiman ditanya soal kejadian itu, pasti bawaannya ingin menangis. Karena dia tidak menyangka masih bisa lolos dari maut yang sudah ada di depan mata,” ujarnya.

Hartini dan keluarga saat ini berencana menyeberang lagi ke Pulau Kalimantan untuk memupuk semangat baru. Dalam waktu dekat ini dia belum berencana untuk kembali ke Bumi Cenderawasih.

“Kami keluar dari Wamena sudah sangat senang sekali. Kami saat ini akan berangkat ke rumah anak pertama yang ada di Kalimantan. Di sana kami berharap bisa menyembuhkan luka akibat trauma kerusuhan di Wamena Papua,” ucap Hartina, kemudian ia berlalu meninggalkan saya menuju mobil yang akan membawanya ke tempat penampungan sementara di kantor Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Jl A.P Pettarani. []

Berita terkait
Hari-hari Sebelum Meninggalkan Wamena
Raut lega memancar dari wajah Salamah ketika melihat suaminya telah bebas dari Wamena yang mencekam, kembali ke pelukannya, ke pelukan anaknya.
Saksi Mata: Kondisi Wamena Papua Seperti Film Rambo
Kondisi di Wamena, Papua sempat mencekam, setelah sekelompok massa melakukan tindakan pembakaran terhadap ladang bisnis milik warga non-pribumi.
PUPR Gandeng TNI Bangun Kembali Wamena Papua
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pihaknya menggandeng TNI guna membangun kembali infrastruktur yang dirusak di Wamena.
0
Sutradara Amir Mirza Gumay Ditangkap Polisi Narkoba
Kepolisian lekakukan penangkapan terhadap sutradara Amir Mirza Gumay terkait penyalahgunaan narkotika.